Senin, 13 Mei 2013

Pariwisata Indonesia yang Masih Terpuruk

Indonesia berkali-kali membanggakan diri sebagai surga dunia. Sang pencipta menganugrahkan kemurahan hati dengan alam yang indah, budaya yang berlimpah, masyarakatnya yang ramah, dan kuliner kaya rempah-rempah yang sudah terkenal di dunia sejak ratusan tahun silam. Keindahan alam Indonesia membentang di udara, darat, hingga ke dasar laut. Bahkan, Indonesia diklaim sebagai negara yang memiliki jumlah jenis karang terbesar di dunia dengan aneka jenis ikan warna-warni.

Tapi, sudahkah semua potensi itu dimanfaatkan untuk memajukan dunia pariwisata negeri ini? Sayang sekali, jawabannya harus mengecewakan.

Pariwisata Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bahkan dari negara tetangga. Tahun 2012, hanya ada sekitar 8,04 juta wisatawan mancanegara yang melancong ke Indonesia. Angka ini sangat jauh dibandingkan Malaysia yang mencapai 24,7 juta orang dan Thailand sebanyak 21 juta orang. Kalau tidak mau lebih malu lagi, jangan bandingkan dengan Prancis, negara yang paling banyak dikunjungi turis mancanegara pada 2012 dengan angka menembus 80 juta orang.

Apa yang salah dengan bangsa ini? Mengklaim diri sebagai negara yang indah dengan keramahan penduduk beserta budayanya, tetapi Indonesia ternyata tidak mampu memanfaatkan peluang ini dengan baik. Memang, setiap tahun ada peningkatan jumlah wisatawan asing yang bertandang ke Tanah Air, tetapi tetap tidak memuaskan.

Kalau Indonesia menargetkan kunjungan turis pada 2013 sebanyak 9 juta orang, maka Malaysia berada pada angka 26 juta orang. Apakah Malaysia lebih indah daripada Indonesia? Apakah pantai-pantai di Malaysia lebih eksotis daripada pantai di Pulau Bali. Apakah gugusan karang di dasar laut sekitar Pulau Sipadan lebih dahsyat daripada di Raja Ampat? Apakah Malaysia lebih kaya akan kebudayaan dibandingkan Tanah Air? Kita sama-sama tahu jawabannya.

Baiklah. Tidak baik membandingkannya dengan Malaysia yang sering muncul kerikil-kerikil perseteruan dalam hal seni dan budaya dengan Indonesia. Kita bisa mengintip Thailand, negara tetangga lain yang juga telah sukses meraup banyak devisa dari sektor pariwisata. Negeri gajah putih ini sadar sekali kalau dunia pariwisata sangat menopang perekonimian mereka. Walau keindahan alam mereka masih kalah jauh dibandingkan milik Indonesia, tapi faktanya turis lebih banyak ke Thailand daripada ke Indonesia.

Indonesia harus meniru gaya Thailand yang sangat menghargai wisatawan. Apakah Indonesia sudah menempatkan setiap wisatawan sebagai raja seperti yang dilakukan Thailand? Nah, ini yang belum sepenuhnya bisa dijumpai di Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh memotretnya di kawasan wisata. Cukup lihat pemandangan ketidaknyamanan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Padahal, bandara adalah pintu gerbang Indonesia. Kalau di pintu masuk saja kenyamanan sulit didapat, bagaimana orang asing bisa berpikir bakal nyaman saat di dalam ‘rumah’?

Pemerintah kini sangat rajin mengikuti acara pameran di segala penjuru dunia untuk terus memperkenalkan pariwisata Indonesia. Misi kebudayaan pun sangat rajin dikirim agar wisatawan asing semakin banyak melirik Indonesia untuk mengisi liburan mereka. Namun, tampaknya hasil belum memuaskan. Berdasarkan hasil Travel and Tourism Competitivenes Index 2013 yang dirilis World Economic Forum, Indonesia berada diperingkat 70 dengan skor 4,03. Peringkat ini masih jauh dibawah posisi Malaysia (posisi 34) dan Thailand (posisi 43). Negara yang berada di urutan sepuluh besar berturut-turut adalah Swiss (skor 5,66), Jerman (5,39), Austria (5,39), Spanyol (5,38), Inggris (5,38), Amerika Serikat (5,32), Prancis (5,31), Kanada (5,28), Swedia (5,24), Singapura (5,23).

Mari kita lihat hasil riset lain. Euromonitor International, sebuah perusahaan riset asal London, Inggris, pernah merilis daftar 100 kota di dunia yang paling banyak dikunjungi turis Internasional pada 2011. Tidak satupun kota di Indonesia yang masuk sepuluh besar. Kota di Indonesia yang posisinya paling tinggi adalah Denpasar, yang berada di posisi ke-52. Yang seharusnya memalukan Indonesia, ada tiga kota lain di Asia Tenggara yang bertengger di sepuluh besar. Posisi pertama sampai sepuluh selengkapnya adalah Hong Kong, Singapura, London, Kuala Lumpur, Macau, Bangkok, Antalya, Shenzhen, New York, dan Istanbul.

Harus diakui, Bali masih menjadi primadona pariwisata Indonesia di dunia internasional. Setengah dari turis asing yang berkunjung ke Indonesia pada 2012 datang ke Bali. Data memang menunjukkan kunjungan wisatawan asing ke Jakarta juga terus meningkat dan semakin membuntuti Denpasar. Sama seperti negara lain, ibu kota negara memang seharusnya menjadi magnet besar untuk menarik wisatawan asing. Dan, Jakarta punya peluang tersebut asal dilakukan banyak pembenahan untuk lebih memanusiakan Jakarta agar ramah bagi wisatawan.

Jakarta bisa menjadi surga belanja dengan pusat perbelanjaannya yang terus menjamur, surga hiburan, surga kuliner, atau surga wisata perpaduan tradisional dan modern. Jakarta juga punya Kepulauan Seribu yang masih belum dioptimalkan sebagai magnet menarik para pelancong. Tapi, sepanjang kesemrawutan, kemacetan, keindahan, dan rasa aman yang masih belum diperbaiki, jangan dulu berharap banyak Jakarta bisa mengekor Kuala Lumpur, Singapura, Paris, atau bahkan London, yang menjadi tujuan utama turis mancanegara. Sayang sekali, sepertinya belum ada gubernur yang memimpin Jakarta punya perhatian besar pada sektor pariwisata.

Padahal, kemajuan pariwisata akan berdampak pada sektor lainnya. Setidaknya ada 75 sektor yang bakal kena dampak positif dari pariwisata. Pariwisata seperti bola salju yang terus menggelinding tanpa ada yang bisa memperkirakan bakal sebesar apa ketika sampai di dasar lembah. Kemajuan pariwisata tidak hanya menguntungkan pengelola penginapan, restoran, transportasi, rumah makan, atau bisnis oleh-oleh, tetapi juga berdampak positif ke segala lini, termasuk sektor pertanian, perkebunan, migas, konservasi lingkungan, seni budaya, dan sebagainya. Segala dampak positif tersebut memang tidak seperti menggigit cabai yang langsung terasa pedas. Ia akan berproses seperti nutrisi yang masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebar ke seluruh aliran darah seiring waktu.

Besarnya dampak positif yang ditimbulkan pariwisata tersebut tercermin angka produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Walau baru mampu menggaet sekitar delapan juta wisatawan mancanegara, namun sektor wisata telah menjadi penyumbang PDB terbesar keempat bagi ekonomi Indonesia. Pariwisata hanya berada di bawah penerimaan minyak, gas bumi, dan karet. Padahal, Indonesia hanya mendapatkan pemasukan sekitar US$ 9 miliar. Angka ini jau dibawah pendatan Malaysia yang mencapai hampir US$ 20 miliar.

Sudah seharusnya seluruh komponen yang ada di Indonesia sadar akan efek domino yang dihasilkan dari pariwisata. Indonesia sudah punya modal yang kuat, yakni budaya, alam, dan sumber daya manusianya. Ini adalah ciptaan Tuhan yang khusus diberikan bagi Indonesia. Singapura dan Malaysia saja yang sebagian besar tempat wisatanya adalah hasil buatan manusia, sukses mengundang para pelancong dari seluruh dunia. Kalau buatan Tuhan dan buatan manusia disenergikan di Indonesia, hasilnya dijamin pasti sangat dahsyat.

Bahkan, tidak hanya di tingkat Asia Tenggara, Indonesia juga dinilai masih memiliki keunggulan budaya dibandingkan India dan China yang pamornya lebih besar di mata internasional. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan apa yang dimiliki. Jangan lagi ada penggiat pariwisata yang harus berhadapan dengan pemerintah daerah yang bersekutu dengan pengusaha tambang yang hendak mengeruk timah dan tembaga dengan merusak keindahan alam yang seharusnya nilainya jauh lebih besar daripada kedua tambang tersebut.

Tidak ada jalan lain selain perhatian lebih yang harus diberikan pemerintah untuk membenahi sektor pariwisata. Tidak cukup hanya anggaran besar untuk menggelar promosi ke seluruh penjuru dunia. Pembenahan infrastruktur juga mutlak harus dilakukan. Akses menuju tempat-tempat pariwisata juga harus dibenahi. Jangan biarkan jalan rusak, gelap, dan tidak aman. Pariwisata Malaysia bisa berkembang sangat pesat karena mereka membangun jalan tol sangat panjang untuk menghubungkan kota-kota tujuan wisata.

Banyak pemerintah daerah yang hanya mau menerima pemasukan dari para turis, tapi mereka tidak mau memperbaiki jalan-jalan menuju titik-titik wisata dari daerah mereka. Pajak rumah makan dan hotel mereka pungut, tapi anggaran untuk pariwisata tidak disiapkan karena merasa turis pasti tetap berdatangan tanpa campur tangan pemerintah daerah. Ini pemikiran yang sangat aneh, tapi nyata di Indonesia.

Mental masyarakat agar semakin melek pariwisata juga harus semakin keras digedor. Dunia pariwisata sangat berhubungan dengan rasa nyaman dan aman. Masih banyak masyarakat yang menatap wisatawan sebagai mangsa yang harus diterkam dan dimakan sampai habis. Padahal, yang harus dilakukan adalah layani dulu mereka dengan sangat baik, agar mereka rela mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya.

Konektivitas antardaerah juga mutlak harus dilakukan. Harus ada pilihan transportasi. Tidak hanya lewat darat, tapi juga lewat jalur udara. Murahnya tarif penerbangan pada saat ini seharusnya dimanfaatkan Indonesia sebesar-besarnya untuk memajukan dunia pariwisata. Memang, sudah ada perhatian pemerintah dengan membenahi sejumlah bandara kecil, termasuk menambah panjang landasan agar bisa didarati pesawat sekelas Boeing atau Airbus. Langkah ini sudah bagus dan tidak boleh putus di tengah jalan. Berwisata ke Danau Toba, Belitung, Derawan, Pulau Komodo, atau Raja Ampat, Wakatobi, atau Natuna, pasti akan lebih murah bila semakin banyak pilihan transportasi ke sana.

Ada alasan lain mengapa Indonesia harus semakin serius menggarap pariwisata. Organisasi perdagangan dunia (WTO) memperkirakan saat ini ada sekitar satu miliar orang yang melakukan perjalanan di muka bumi ini. Berwisata sudah menjadi kebutuhan siapa saja. Bahkan, pada 2030, diperkirakan ada 1,3 miliar orang yang melakukan perjalanan lintas batas seiring semakin gemuknya masyarakat kelas menengah.

Ketika dunia memiliki satu miliar wisatawan internasional, itu berarti satu dari enam orang di dunia melakukan perjalanan lintas batas. Jika kita menambahkan ke dalamnya sekitar lima miliar wisatawan lokal, maka ada hampir satu perjalanan per tahun untuk setiap warga di dunia ini yang didefinisikan sebagai seorang turis.

Apa Indonesia hanya mau menjadi penonton?

(Tulisan ini saya kerjakan sebagai makalah untuk mengikuti Ujian Kompetensi Wartawan Indonesia.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar