Jumat, 31 Mei 2013

Tentang Gede Pasek Suardika

Sudah lama saya tidak bertemu Gede Pasek Suardika, sang Ketua Komisi 3 DPR RI. Karena itu, saya pun segera menghampirinya di Green Room Metro TV, malam tadi, usai ia menjadi salah satu narasumber di program Prime Time News. "Apa kabar, bos?" sapa Gede Pasek yang langsung saya jawab sambil menyalaminya.

Berbasa-basi sebentar, saya pun bergabung dalam diskusi ringan yang sudah berlangsung sebelum saya datang antara Gede Pasek dan Akbar Faisal, mantan politisi Gerindra yang kini bergabung ke Partai NasDem. Keduanya baru saja berdebat soal perkembangan kasus Bank Century bersama seorang narasumber lain di Prime Time News. Yang namanya politisi, rupanya topik pembicaraan tidak pernah jauh-jauh dari urusan politik. Usai menjadi narasumber, masing-masing curhat mengenai kesibukan di partai masing-masing. "Saya belum pernah bertemu ketua umum saya. Kalau yang mantan, sering sekali," ungkap Gede Pasek yang kami sambut dengan tawa panjang.

Gede Pasek adalah politisi Partai Demokrat yang sangat dekat dengan Anas Urbaningrum. Ketika Anas mundur dari posisi Ketua Umum partai yang identik dengan Susilo Bambang yudhoyono itu, Gede pun sepertinya tidak betah lagi di Demokrat. Puncaknya adalah ketika politisi berlatar belakang pengacara tersebut memilih bertarung memperebutkan kursi anggota DPD daripada kursi DPR pada Pemilu 2014.

"Abang harus memberi warna berbeda bila nanti sudah di DPD. Biar DPD semakin terlihat eksis keberadaannya," kata saya sambil menyentuh lengan Gede Pasek yang akan mencalonkan diri dari daerah pemilihan Bali. Yang punya lengan tampak tertawa mendengar kata-kata saya.

Saya mengenal Gede Pasek sekitar 2006 sebagai seorang pengacara dan aktivis di Bali. Setiap ada liputan ke pulau dewata, saya pasti mengontaknya untuk meminta background atas kasus yang mau saya liput. Lobi dan jaringan pria kelahiran Singaraja, 21 Juli 1969 itu sangat luas di Bali. Sebagai seorang advokat, ia pun sering menangani kasus-kasus yang sarat dengan konflik kepentingan. Kasus yang ia pegang ada yang pernah saya ulas di Metro TV.

Namun, Gede Pasek juga seorang sahabat yang sangat ramah dan baik. Ia pernah membantu saya masuk ke sejumlah tempat hiburan malam di kawasan Kuta untuk mengambil gambar terkait kasus peredaran narkoba yang sedang saya liput. Kami menyamar sebagai wisatawan sampai dinihari bersama beberapa rekannya dengan membawa kamera kecil agar tidak dicurigai pengelola kafe atau diskotik.

Kami terus berhubungan sampai akhirnya ia melenggang ke Senayan pada akhir 2008 sebagai wakil rakyat dari Partai Demokrat. Banyak yang menyayangkan Gede Pasek tidak maju lagi menjadi anggota DPR pada 2014. Kiprah perdananya di senayan tidak bisa dianggap enteng. Dari yang bukan siapa-siapa di Jakarta, ia mendadak masuk dalam lingkaran politisi favorit media. Komentarnya nyaris setiap hari muncul di koran. Wajahnya bersaing dengan selebritas dalam hal jumlah penampilan di layar TV. Ini terjadi karena Gede Pasek adalah salah satu politisi Senayan yang punya 'otak' dan pandai bergaul. Mungkin ini juga yang membuat ia memilih tidak maju lagi, karena ia punya 'otak'.

Gede Pasek melenggang ke Senayan ketika menggantikan Jero Wacik yang diangkat Presiden SBY sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Awalnya, ia bertugas di Komisi 10 yang membidani persoalan seni, budaya, pemuda, dan olahraga. Latar belakangnya yang seorang pengacara dan aktivis LSM di Bali, membuat Gede Pasek lebih terkenal dalam urusan hukum dan dinamika perpolitikan daripada persoalan seni dan olahraga.

Dalam perjalanannya, Fraksi Demokrat lalu memindahkan Gede Pasek ke Komisi 2 yang mengurusi masalah pemerintahan. Kepiawaiannya dibutuhkan untuk mengawal sejumlah undang-undang yang sedang digodok di Komisi 2. "Ada tugas khusus untuk saya," bisik Gede Pasek saat itu kepada saya.

Gonjang-ganjing di tubuh Demokrat akhirnya mengantarkan Gede Pasek menjadi Ketua Komisi 3, komisi yang dianggap paling seksi di DPR. Anas Urbaningrum pasti bukan asal menunjuk mantan wartawan koran lokal di Pulau Dewata itu. Kiprahnya sekitar dua tahun di Senayan sudah membuktikan kalau pria yang masih berlogat Bali saat berbicara itu punya karakter kuat untuk memimpin Komisi 3 yang penuh dengan politisi-politisi senior serta mereka yang jago bermanuver dan berakrobat politik.

Peta berubah total ketika Anas mundur sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Gede Pasek pun tampak tidak bergairah lagi berkiprah di partai yang diakui atau tidak, telah membuatnya terkenal di Jakarta itu.

“Saya pamit dulu ya. Main-main ke ruangan saya, ya,” kata Gede Pasek pada saya sebelum kami berpisah di lobi studio Metro TV.

Sumber foto: RRI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar