Senin, 20 Mei 2013

Rekening Gendut Aiptu LS dan Uji Wartawan

Suatu hari, tim penyusun Uji Kompetensi Wartawan mendatangi Rosihan Anwar, wartawan senior yang telah dipanggil Sang Pecipta pada April 2011. Kepada sang wartawan empat jaman itu, tim penyusun bermaksud meminta masukan mengenai uji kompetensi yang rencananya bakal wajib diikuti oleh semua wartawan Indonesia. Tanggapan Rosihan membuat kaget tim yang diberikan mandat untuk menemuinya. "Melihat cara berjalan saja, saya sudah tahu apakah orang tersebut punya bakat menjadi wartawan," tegas Rosihan.

Pada hari yang lain, tim penyusun menghadap pemilik Jawa Pos, Dahlan Iskan. Tanggapan wartawan yang kini menjadi Menteri BUMN tersebut tidak kalah mengejutkan. "Biarkan saya bicara dengannya selama sepuluh menit, maka saya bisa memastikan apakah orang tersebut mampu menjadi wartawan atau tidak."

Orang ketiga yang ditemui adalah Jakob Oetama, pemilik Kompas Gramedia. Nah, masukan dari wartawan yang kini masih menjabat Pemimpun Umum Kompas pada usia 82 tahun itu, juga di luar perkiraan tim penyusun Uji Kompetensi Wartawan. “Saya bisa mengetahui seseorang punya bakat menjadi wartawan hanya dari riwayat hidup yang ia tulis,” kata Jakob.

Terakhir, tim penyusun mendatangi Surya Paloh. Komentar Pemilik Media Group tersebut tidak kalah menarik. "Saya bukan wartawan. Tapi, kalau diminta untuk mencari wartawan, saya jagonya," kata pemilik Metro TV dan Media Indonesia itu.

Priyambodo, Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), menceritakan kisah-kisah di atas dalam pembukaan Uji Kompetensi Wartawan di Metro TV, akhir pekan lalu. Ada sekitar 25 wartawan yang ikut, termasuk saya. Selain beberapa wartawan dari Metro TV, ada sejumlah wartawan lain dari Media Indonesia, Lampung Post, Metrotvnews.com, dan dua perwakilan dari koran Salam Papua, yang ikut dalam uji kompetensi ini.”Keempat tokoh pers tersebut kami datangi untuk meminta masukan mengenai Uji Kompetensi Wartawan, ketika baru dalam tahap perumusan,” kata Priyambodo, alumni International Institute for Journalism (IIJ), Berlin, Jerman (1995) yang sejak 1990 menjadi wartawan Kantor Berita ANTARA.

Uji Kompetensi Wartawan berlangsung selama dua hari, dari pagi sampai malam. Sejak awal, para penguji yang terdiri dari enam wartawan senior, menekankan kalau acara ini bukan pelatihan, ajang diskusi, atau simulasi. Ini adalah ujian bagi kami untuk mengetahui apakah memang mampu menjadi wartawan sesuai dengan ilmu dan keterampilan yang sudah dimiliki. "Dari ujian ini akan terjawab apakah Anda kompeten disebut wartawan," tegas Petrus Suryadi Sutrisno, penguji yang tampak paling 'sangar' dibanding lima penguji lainnya.

Selama dua hari, kami pun diuji sesuai dengan golongan masing-masing, yakni wartawan muda, wartawan madya, dan wartawan utama. Saya ikut dalam gerbong madya. Ada sekitar tujuh bahan uji yang harus saya jalani. Pada hari pertama adalah mengenai keaktifan dalam rapat redaksi, dan ujian membuat wishlist liputan. Karena pada saat rapat redaksi saya mengusulkan liputan mengenai update kasus rekening gendut miik Aiptu Labora Sitorus, maka wishlist yang saya buat juga tentang hal yang sama.

Pada hari kedua ada lima ujian yang harus saya ikuti. Yang pertama adalah mengenai penulisan feature. Saya diminta untuk membuat feature mengenai apa tanggapan masyarakat mengenai kasus Aiptu Labora Sitorus dengan mewawancarai satpam di Metro TV. Kemudian, ujian kedua adalah membuat liputan investigasi yang harus sangat lengkap, mulai tim yang berangkat, biaya, lokasi liputan, narasumber, dan sebagainya. Ujian ketiga adalah menyunting naskah. Saya diminta memilih salah satu guntingan berita di koran dan menyunting naskahnya.

Kemudian ujian keempat adalah jejaring dan lobi. Saya diminta untuk menulis sepuluh narasumber berikut nomor kontak mereka yang bisa dimintai komentar tentang Aiptu Labora Sitorus. Saya beruntung, karena tema yang saya pilih cukup akrab bagi saya sehingga hampir seluruh narasumber yang saya tulis, ada di kontak telepon saya. Saya kemudian diminta untuk menelepon salah satu nama yang ditunjuk penguji secara acak dan mengaktifkan speaker agar ia juga mendengarkan pembicaraan kami. Saya tidak kesulitan melalui ujian ini karena rupanya nama yang dipilih penguji, masih menyimpan nomor telepon saya. Kami pun terlibat pembicaraan yang saat akrab dan santai.

Ujian terakhir adalah mengenai evaluasi rapat redaksi. Yang dinilai di sini kembali mengenai keaktifan dalam rapat. Celakanya, nilai dari peserta kelompok wartawan utama harus dikurangi karena dianggap terlalu mendominasi rapat. Seharusnya kesempatan lebih banyak diberikan bagi kelompok madya dan muda.

Menjelang jam tujuh malam, Uji Kompetensi Wartawan ditutup setelah dua peserta mewakili memberikan kesan dan pesan. Kami pun dinyatakan lulus semua. Artinya, kami sudah sah menyandang predikat sebagai wartawan yang kompeten. Alhamdulillah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar