Rabu, 19 Juni 2013

Gili Trawangan, Pulau Kecil yang Mendunia

Gili Trawangan telah menjadi salah satu ikon pariwisata di Indonesia, seiring dengan semakin meroketnya Lombok sebagai destinasi favorit para penggila traveling. Pulau kecil di sebelah barat Lombok tersebut selalu padat oleh kunjungan wisatawan. Bukan wisatawan lokal, tapi justru turis mancanegara. Mereka sangat mendominasi pulau kecil berpenduduk sekitar 900 jiwa itu, sehingga turis lokal seperti asing di wilayahnya sendiri.

Gili Trawangan memang pantas menjadi destinasi utama untuk menikmati masa liburan. Pulau yang memiliki panjang 3 km dan lebar 2 km itu memiliki segalanya. Pulaunya indah dan bebas polusi kendaraan bermotor, penduduk lokal yang ramah dan sudah melek pariwisata, pantai yang berpasir putih bersih, terumbu karang yang sangat mempesona, serta akomodasi yang lengkap. Tidak salah kalau Gili Trawangan menjadi andalan utama NTB untuk meraup devisa. Seharusnya DKI Jakarta belajar ke Gili Trawangan bagaimana menjadikan pulau-pulau di Kepulauan Seribu sebagai tempat wisata andalan dan favorit masyarakat.

Untuk mencapai Gili Trawangan juga sangat mudah. Dari Bali, bisa ditempuh dengan kapal cepat dalam waktu sekitar 3 jam dengan tarif sekitar Rp 300.000 PP. Sedangkan dari Pelabuhan Bangsal di Lombok Barat, cukup ditempuh dalam waktu 45 menit dengan kapal kayu kecil dengan tarif Rp 20.000. Pelabuhan kecil ini dapat ditempuh sekitar dua jam dari Bandara Internasional Lombok dengan kendaraan pribadi.

Ada puluhan hotel dari kelas melati sampai bintang di pulau kecil tersebut dengan tarif yang relatif terjangkau. Restoran dan kafe juga bertebaran dan buka sampai dinihari. Harganya tidak terlalu mahal dan nyaris sama di semua tempat. Harga satu botol air mineral 600 ml, misalnya, dijual Rp 5.000 di semua toko di Gili Trawangan.

Ada sekitar 1.200 wisatawan yang melancong ke Gili Trawangan setiap harinya. Mayoritas adalah wisatawan asing, terutama yang berkulit putih. Mereka seperti menemukan dunia baru di pulau yang pernah menjadi tempat pembuangan napi pada jaman kerajaan dahulu tersebut. Mereka bebas melakukan apa saja, termasuk berpakaian minim saat keluyuran. Melihat perempuan berkulit putih berjemur di pinggir pantai yang sangat bersih tanpa menggunakan penutup dada menjadi pemandangan biasa di Gili Trawangan. Bahkan, dari bisikan seorang penjaga kafe, kabarnya pesta menghabiskan malam panjang sambil bermabuk-mabukan juga sering terlihat. Tidak jarang, pesta berlangsung sampai mereka berbugil ria. Entah benar apa tidak cerita ini.

Berikut ini adalah beberapa foto hasil jepretan saya ketika mendapatkan kesempatan untuk melancong ke Gili Trawangan:



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar