Selasa, 18 Juni 2013

Jejak Bung Karno di Pulau Ayer

Suatu hari, Presiden Soekarno menghabiskan hari di pulau ini. Ia menikmati keindahan pulau dan sejenak meninggalkan rutinitas dalam mengurus negara. Rupanya, pulau ini begitu memikat Bung Karno sehingga menjadikannya sebagai salah satu tempat peristirahatannya. Tidak salah kalau Presiden pertama Indonesia ini kemudian pernah membawa Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito dan Sekjen PBB U Nu ke pulau ini ketika mereka sedang berkunjung ke Indonesia.

Nama pulau yang memikat Bung Karno tersebut adalah Pulau Ayer. Pulau ini adalah satu dari ratusan pulau yang masuk dalam gugusan Kepulauan Seribu. Luasnya tidak sampai sepuluh hektar dan hanya butuh waktu belasan menit untuk mengelilingi seluruh pulau yang sangat teduh oleh pepohonan.

Puluhan tahun sudah berlalu sejak kunjungan Presiden Soekarno ke pulau yang juga dijuluki sebagai mutiara kepulauan itu. Yang pasti, Pulau Ayer tetap memancarkan pesonanya hingga hari ini. Ratusan wisatawan selalu berdatangan tiap minggu. Mayoritas datang pada akhir pekan dan menginap di cottage-cottage yang dibuat dari kayu-kayu. Ayer memang telah dijadikan sebagai lokasi wisata seiiring dengan peresmian penginapan di pulau ini oleh Gubernur DKI Jakarta R Soeprapto, pada 1980.

Pulau Ayer memang pantas menjadi tempat menghabiskan akhir pekan bagi warga Jakarta. Pulau ini dapat dicapai dengan kapal cepat hanya dalam waktu 20 menit dari Pantai Marina Ancol. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Bahkan, kita masih bisa melihat sejumlah gedung pencakar langit di pinggiran Teluk Jakarta dari Pulau Ayer. Saat malam menjemput, lampu-lampu tampak terang dan seakan menjadi batas laut. Kapa-kapal besar di sekitar Tanjung Priok juga masih terlihat ketika cuaca sedang cerah.

Hampir seluruh pulau tertutup oleh rindangnya pepohonan yang menjulang tinggi. Ada banyak jenis pohon yang tumbuh, dan nama setiap pohon terpaku di batangnya. Ini menjadi semacam edukasi bagi para pengunjung untuk mengenal nama-nama pohon. Tercetak beberapa nama pohon seperti ketapang, kresek, kelapa, melati laut, dan sejumlah pohon lain yang mungkin asing bagi pengunjung.


Puas menikmati pesona pulau, maka jangan lupa untuk merasakan eksotisnya pantai dan laut yang mengelilingi Pulau Ayer. Nikmati indahnya matahari terbit dan tenggelam dari pinggiran restoran sambil menyerumput segelas kopi hangat. Kalau tidak suka, maka pengunjung bisa bermain basket, voli pantai, atau jogging di lokasi yang telah disediakan.

Memang, kondisi pantai tidak terlalu bagus dan jauh dari gambaran pantai sebuah pulau kecil. Air laut kotor dan tidak berbeda jauh dengan kondisi di Ancol karena jarak keduanya memang masih berdekatan. Sampah juga berserakan di sekitar pantai yang mungkin datang dari daratan. Jangan kaget kalau melihat plastik besar atau potongan karung mengambang saat berenang di pinggiran Pulau Ayer.

Tidak seluruh pantai pulau ini juga bisa untuk bermandi-mandi. Yang memungkinkan hanya di sekitar dermaga. Garis pantai lain sudah habis dipenuhi batu untuk menahan abrasi. Sedangkan pantai di sebelah timur juga habis untuk tempat berdirinya cottage-cottage di atas air. Kalau malas berenang di laut, maka sebaiknya berendam saja di kolam renang yang ada di pinggiran pulau.

Tampaknya pengelola Pulau Ayer ingin menciptakan nuansa Papua di pulau ini. Cottage diberi nama seperti nama-nama daerah di provinsi paling timur Indonesia itu. Ada nama Serui, Fakfak, Ransiki, dan Cendrawasih. Tarif kamar permalam berkisar antara Rp 800.000-Rp 2.000.000. namun, bagi yang ingin mengambil paket, maka harga yang ditawarkan sekitar Rp 1 juta/orang dengan tambahan Rp 500.000 untuk orang selanjutnya. Tapi, bagi yang tidak ingin menginap, maka cukup membayar Rp 280.000/orang (termasuk kapal cepat, makan siang, dan minuman ringan).

Bagi yang ingin mencari lokasi foto prewedding yang tidak jauh dari Jakarta, Pulau Ayer harus masuk dalam daftar pilihan. Lokasinya sangat cantik. Kalau tidak percaya, lihat saja beberapa foto jepretan saya ini…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar