Selasa, 30 Juli 2013

Sepenggal Cerita dari Bandara Kualanamu

Seorang pria melintas dengan mengendarai sepeda motor jenis bebek. Ia lalu berhenti di depan rumah tempat saya berada bersama sejumlah warga. Pria tersebut kemudian mengeluarkan kamera saku dan mulai memotret ke arah kami.

Hanya sekitar satu menit ia berhenti dan pria tersebut kembali memacu sepeda motor tanpa mempedulikan tatapan kami. “Mereka memang selalu mengawasi kegiatan kami,” kata seorang warga tanpa menunggu saya bertanya siapa orang itu.

Begitulah pengalaman yang saya alami ketika datang ke warga yang masih bertahan di lahan tempat pembangunan Bandara Kualanamu. Pada awal Desember 2007 itu, saya bersama tim liputan serta seorang rekan wartawan dari koran nasional datang ke sana untuk melihat perkembangan pembangunan Bandara Kualanamu yang sudah dimulai.

Saya datang ke sana setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Bandara Polonia untuk meliput peristiwa terbakarnya terminal keberangkatan domestik. Bandara Kualanamu perlu saya lihat karena itulah bandara baru pengganti Polonia yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2009. Dalam pikiran saya, seharusnya proses pembangunan sudah signifikan terlihat pada akhir 2007 sehingga akan bagus dipotret.

Tapi, masuk ke dalam areal pembangunan bandara bukanlah perkara yang mudah. Saya ditolak masuk karena dianggap tidak memiliki izin. Saya berusaha untuk mengontak kepala Bandara Polonia maupun Administrator bandara tersebut. Sialnya, mereka tidak punya wewenang di Kualanamu karena itu adalah proyek pemerintah pusat yang tidak terkait dengan Polonia. Tanpa peduli dengan permohonan kami, petugas keamanan pun menghadang mobil saya di jalan tanah yang masih jauh dari lokasi pembangunan. Saya sama sekali tidak bisa melihat aktifitas pembangunan dari tempat itu. Hanya ada tanah kosong dan beberapa pohon kelapa sawit yang sudah tidak terawat di sekiling saya.


Saya dan tim liputan kemudian memilih untuk mendatangi sejumlah warga yang masih bertahan di salah satu sudut areal lahan Bandara Kualanamu. Ada sekitar 71 KK atau 300 jiwa yang masih tinggal di sana di dalam beberapa rumah kayu yang sudah terlihat berumur. Mereka menolak pindah karena belum mendapatkan ganti rugi sesuai tuntutan. Umumnya, warga yang bertahan adalah generasi kedua dan ketiga. Dulunya, orang tua mereka adalah transmigran dari Pulau Jawa yang bekerja di PTPN II, perusahaan BUMN perkebunan kelapa sawit yang hampir 2.000 hektar lahannya telah dibebaskan pada 1994 untuk pembangunan bandara.

“Bandara ini memang bandara internasional, tapi sayangnya menyusahkan rakyat. Bandara ini besar, tapi menyelesaikan 71 KK saja pemerintah tidak sanggup. Warga meminta relokasi tanah untuk bercocok tanam dan tempat tinggal agar kami bisa tetap hidup,” kata Sujono, salah satu warga yang masih bertahan.

Saya berada di rumah warga yang bertahan tersebut hingga beberapa jam. Hanya butuh waktu sebentar, rumah pun ramai oleh belasan warga lain yang berdatangan. Dengan penuh semangat, mereka menyampaikan keluh kesah termasuk menunjukkan sejumlah dokumen yang menunjukkan mereka punya hak atas tanah yang masih mereka duduki.


Sambil mengumpulkan keterangan dari mereka, saya pun terus berusaha mencari jalan untuk bisa meliput ke areal pembangunan bandara. Berdasarkan keterangan warga, pembangunan rupanya baru sebatas penimbunan dan penggalian. Karena itu, truk-truk tanah berkali-kali melintas di depan rumah. Warga mengaku truk tersebut awalnya tidak melintas di depan rumah mereka. Namun, ketika perundingan untuk merelokasi mereka terus mengalami jalan buntu, truk tiba-tiba selalu melintas di depan rumah mereka. “Kami seperti ingin diteror, kata seorang warga.”

Keberadaan kami di tengah warga yang menolak digusur tersebut dipantau oleh pihak tertentu. Mereka sepertinya gerah dengan kehadiran wartawan, sehingga mengirim utusan untuk memotret kami dari jauh. Rupanya, warga sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu, sehingga mereka pun cuek saja. Saya pun akhirnya ikut-ikutan tidak peduli. Bahkan, saya pun sempat makan siang bersama dengan warga dengan menu nasi bungkus yang kami beli di rumah makan di luar areal lahan bandara.

Menjelang sore, kami berhasil mengontak seorang anggota DPD asal Sumatera Utara. Kami pun menyampaikan sulitnya masuk ke dalam areal pembangunan bandara. Ia bersedia membantu dan minta waktu untuk melobi pihak pengelola. Tidak lama kemudian, anggota DPD yang kembali terpilih pada Pemilu 2009 itu, kembali menelepon dan mengatakan sebentar lagi akan ada orang yang menjemput kami untuk dibawa ke lokasi pembangunan bandara. Yes, usaha kami tidak sia-sia.

Tidak sampai 15 menit, datang dua orang naik sepeda motor menghampiri kami. Mereka lalu mengawal kami menuju lokasi pembangunan. Sayangnya, kami tidak boleh terlalu mendekat ke lokasi proyek. Kami hanya boleh melihat dari jarak sekitar seratus meter. Tapi, dari jarak tersebut kami sudah bisa mengambil gambar alat-alat berat yang sedang hilir-mudik meratakan tanah. Rupanya, benar apa kata warga tadi, proses pembangunan fisik sama sekali belum berlangsung. Melihat kondisi ini, sulit rasanya Bandara Kualanamu bisa mulai beroperasi pada akhir 2009.

Berikut ini adalah beberaapa foto hasil jepretan saya pada awal-awal pembangunan Bandara Kualanamu:


Sekitar enam tahun berlalu sejak kunjungan terakhir saya ke Kualanamu yang sangat berkesan itu. Pada hari Kamis, 25 Juli 2013, Bandara Kualanamu akhirnya mulai beroperasi. Pada hari yang sama, Bandara Polonia pun ditutup untuk penerbangan komersil setelah 70 tahun beroperasi.

Ada rasa bangga dengan beroperasinya bandara baru tersebut. Kualanamu adalah bandara termegah dan terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta. Namun, Kualamu adalah bandara pertama di Tanah Air yang terintegrasi dengan kereta api. Kualanamu juga masih bisa dikembangkan termasuk menambah landasan baru karena luasnya mencapai 1.650 hektar, terpaut sedikit dari Bandara Soekarno-Hatta yang berada di areal seluas 1.750 hektar.
Selengkapnya...

Rabu, 24 Juli 2013

Bandara Polonia Dalam Kenangan

Dua orang remaja tanggung mengikuti saya dan keluarga menuju mobil. Tidak lama kemudian, mereka ikut mendorong troli walau tidak diminta. Mereka terus membantu dengan mengangkat tas-tas ke dalam mobil. Ketika semua sudah selesai, mereka pun meminta sejumlah uang. “Untuk beli rokok, Bang!” kata salah satu dari mereka.

Itulah salah satu pengalaman yang saya ingat tentang Bandara Polonia, Medan. Porter-porter tidak resmi seperti itu sudah menjadi pemandangan biasa di bandara terbesar di Sumatera Utara itu. Keberadaan mereka tentu menganggu kenyamanan. Tapi, sepertinya orang-orang sudah cuek saja dan lebih memilih mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu atau lebih daripada harus membuang energi untuk berdebat. Bagi mereka, ketidaknyamanan Bandara Polonia seperti sudah hal biasa. Lelah untuk mengeluh karena kondisinya juga tidak berubah-ubah.

Saya termasuk orang yang cukup sering melintas di Bandara Polonia. Tidak hanya untuk liburan ke kampung halaman di Tanah Karo, namun juga dalam rangka tugas ke Sumatera Utara. Bahkan, saya ikut menyaksikan langsung beberapa peristiwa penting yang terjadi di sekitar lingkungan Bandara Polonia.

Saya pernah ditugaskan ke kota bika ambon itu untuk meliput kecelakaan pesawat Mandala Air yang gagal terbang dari Polonia pada 5 September 2005 yang menewaskan sekitar 150 orang. Saya juga datang ke Medan ketika gedung Terminal Keberangakatan Polonia habis terbakar pada 1 Desember 2007 sehingga proses check in sempat dipindhakan ke tenda-tenda darurat di areal parkir. Dalam dua kesempatan itu, saya juga sempat melihat kawasan Kualanamu, Deli Serdang, yang digadang-gadang menjadi lokasi bandara baru pengganti Polonia.

Tidak terasa, Polonia sudah sekitar 89 tahun beroperasi sejak pesawat Fokker asal Belanda mendarat pertama kali di lapangan pacuan kuda di sekitar Medan pada 1924. Sedangkan cikal-bakal Bandara Polonia didarati pesawat pertama kali pada 1928 dengan datangnya pesawat KNILM dari Belanda. Tahun 2013, Polonia pun harus pensiun karena sudah berada di tengah kota sehingga tidak bisa dikembangkan lagi. Medan pun memiliki Bandara baru di Kualanamu, Deli Serdang, sekitar 40 km keluar Medan.

Berikut ini adalah beberapa koleksi foto saya tentang Bandara Polonia:

Terminal Polonia dari dalam pesawat

Suasana apron Bandara Polonia

Petunjuk pintu masuk ke pesawat

Menatap pesawat dari dalam terminal keberangkatan

Kota Medan dari dalam kabin pesawat

Permukiman padat menempel dengan areal Bandara Polonia

Pesawat baru tiba di Bandara Polonia

Berangkat dari Bandara Polonia

Siap take off dari Bandara Polonia

Antre dari Terminal Keberangkatan Bandara Polonia

Mandala Air jatuh di dekat Polonia (saya masih memotret dengan kamera film)

Terminal Keberangkatan Polonia yang terbakar, 1 Desember 2007

Pecahan kaca terminal yang terbakar. tampak refleksi Adam Air di kaca.

Proses Check in pun berlangsung di parkiran Polonia

Bagian Terminal Keberangkaan Polonia yang terbakar

Bandara Polonia yang terbakar pada 1 Desember 2007

Anda pernah check in di areal parkir? Saya pernah!

Terminal Keberangkatan Polonia yang habis terbakar pada 1 Desember 2007
Selengkapnya...

Selasa, 23 Juli 2013

Selamat Tinggal Polonia

Kalau tidak ada perubahan, Bandara Polonia akan selesai masa tugasnya pada Kamis, 25 Juli 2013. Medan akan memiliki bandara baru yang jauh lebih luas, modern, dan mewah di wilayah Kualanamu, Deli Serdang, sekitar 40 km di luar kota. Bandara baru tersebut akhirnya resmi menggantikan Polonia setelah ide untuk memindahkannya telah bergulir sejak 1991.

Polonia yang memiliki luas 144 hektar sudah beroperasi sekitar 70 tahun menjadi bandara utam di Sumatera Utara, sudah terlalu kumuh untuk dibanggakan. Lokasinya berada di tengah keramaian Medan. Dari pusat kota, Bandara Polonia hanya berjarak sekitar dua kilometer. Pagar pembatas bandara langsung berdampingan dengan kawasan permukiman, jalan raya, dan juga perkantoran. Kalau kita hendak mendarat, maka rumah-rumah akan kelihatan sangat jelas sejak beberapa menit sebelum roda pesawat menyentuh landasan. Bagi pecinta fotografi, momen-momen seperti ini jarang terlewatkan untuk memotret suasana di luar kabin pesawat saking dekatnya pesawat dengan aneka bangunan di luar sana.

Ujung landasan juga hanya beberapa meter dari jalan raya. Tidak heran kalau bahaya sangat mengancam masyarakat sekitar. Ini terbukti ketika pesawat Mandala Air gagal terbang pada 5 September 2005 dan menghantam sejumlah rumah dan kendaraan di Jalan Jamin Ginting. Badan pesawat nyaris habis terbakar di badan jalan yang selalu ramai tersebut dan menewaskan sekitar 150 orang. Tragedi yang ikut menewaskan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin tersebut pun menjadi tonggak sejarah yang memperkuat rencana pemindahan bandara ke lokasi lan.



Rencana pemindahan itu pun baru terwujud delapan tahun kemudian. Ada begitu banyak ganjalan yang memperlambatnya. Mulai dari konflik pembebasan lahan, anggaran yang membengkak, kebijakan politik, dan beberapa masalah lain. Padahal, Polonia sudah sangat sesak dan kumuh untuk disebut sebagai bandara internasional. Ruang terminal yang seperti ala kadarnya, parkir kendaraan yang tidak tidak muat, transportasi bandara yang semrawut, dan sejumlah ketidakberesan lainnya yang sangat membuat malu orang Medan dan tentu saja Indonesia. Padahal, Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia dan terbesar pertama di Pulau Sumatera.

Lihat saja terminal keberangkatan domestik yang luasnya tidak seberapa dibandingkan jumlah penumpang. Ini pun harus berbagi dengan toko-toko penjual makanan dan souvenir sejak pintu masuk terminal. Kipas angin yang dipasang di beberapa lokasi sama sekali tidak bisa menyejukkan udara karena banyaknya orang yang lalulalang di ruang yang tidak memadai. Peluh membasahi badan ketika harus mengantre di pintu masuk yang hanya memiliki dua pintu. Bahkan, kadang-kadang hanya satu pintu yang beroperasi karena ada kerusakan di pintu satu lagi.

Ruang tunggu keberangkatan pun selalu padat oleh lautan manusia. Memang, udara di sana cukup sejuk oleh sejumlah pendingin ruangan yang disebar. Namun, lagi-lagi, suasananya tidak mencerminkan terminal sebuah bandara internasional. Karena berbentuk sebuah ruangan yang sangat luas, maka suasana di ruang tunggu sangat berisik. Ketika panggilan naik ke pesawat terdengar, maka antrean di pintu keluar terminal pun mengular hingga puluhan meter.

Segala macam ketidakberesan tersebut pun akan segera hilang. Ya, Polonia sudah selesai menjalankan tugasnya sebagai bandara terbesar di Sumatera Utara. Selamat tinggal Polonia, Selamat datang Kualanamu.

Sumber foto: dari sini dan di sini
Selengkapnya...

Senin, 15 Juli 2013

Hunting Foto di Halaman Rumah

Terkadang, saya tidak punya rencana apa-apa saat libur akhir pekan. Keluar rumah juga malas karena udara yang panas dan kemacetan yang selalu menghadang. Terlebih lagi saat ini adalah bulan puasa sehingga kemalasan tadi pun semakin menjadi-jadi. Tapi, tidur sepanjang hari juga tidak bagus untuk menunggu datangnya Maghrib.

Saya pun kemudian mendapatkan ide ketika sedang duduk santai di teras pada Sabtu pagi. Aha... mengapa saya tidak pergi hunting foto saja. Tapi, ide kali ini bukan berburu foto ke tempat yang jauh seperti biasanya. Cukup di rumah saja. Ya, di halaman saya sendiri.

Saya pun mengambil smartphone dan langsung berjalan menuju ke halaman. Saya amati semua objek yang ada untuk menemukan apa saja yang menarik untuk saya jepret. Tidak berapa lama, ide untuk memotret tanaman yang ada di halaman rumah pun muncul di dalam kepala ini.

Saya memang sedang jatuh cinta kepada dua hal dalam sebulan terakhir. Yang pertama, saya jatuh cinta dengan Sony Xperia baru saya yang memiliki resolusi kamera 13 MP. Angka ini jauh dari kemampuan kamera saku kebanggaan saya yang hanya menghasilan resolusi 7,2 MP. Jatuh cinta kedua saya adalah pada aplikasi Instagram. Keduanya pun bisa berjalan harmonis karena saya bisa memotret apapun yang menarik dengan Sony Xperia dan kemudian hasilnya di-upload ke Instagram.

Ada 18 foto yang saya upload ke situs berbagi foto tersebut dari hasil hunting ke halaman rumah selama sekitar dua jam. Saya sangat suka semuanya karena warna dan komposisi yang menarik setelah ditambah efek dari Instagram. Yang paling menarik untuk saya adalah foto pelepah pohon palem yang saya jepret sangat dekat sehingga tampak seperti lukisan abstrak.

Beberapa foto kemudian saya download dari Istagram untuk disimpan di folder komputer. Melakukannya tidak sulit karena saya sudah tahu rahasia bagaimana menyimpan foto dari Instagram.

Berikut ini adalah beberapa foto hasil hunting di halaman rumah selama dua jam:

Selengkapnya...

Selasa, 09 Juli 2013

Menyimpan Foto dari Instagram

Tiba-tiba saja saya jatuh cinta dengan Instagram. Situs berbagi foto tersebut menarik perhatian saya, untuk menyalurkan hobi jepret-jepret yang sejak lama saya sukai. Tapi, saya memilih untuk tidak mengisi dinding Instagram dengan foto-foto hasil jepretan kamera DSLR, saku, atau yang lain. Saya hanya ingin mengisinya dengan foto-foto dari kemera handphone. Untuk memuluskan rencana ini, saya pun melengkapi diri dengan sebuah Sony Xperia V yang telah memiliki kamera berresolusi 13 MP.

Dalam beberapa hari saja, sudah puluhan foto yang saya tempelkan di dinding Instagram milik saya. Temanya apa saja, yang penting foto tersebut indah dan bagus bagi mata saya. Ada yang bertema lanskap, manusia, benda di sekitar saya, dan hal-hal unik yang saya jumpai di mana saja yang saya lewati. Tidak lupa saya menggunakan sejumlah efek yang disediakan Instagram untuk memperindah foto.

Saya juga rajin berselancar untuk menemukan teman-teman lain yang memiliki foto-foto bagus. Saya pun mem-follow mereka, dan tentu saja berharap mereka akan menjadi following saya. Memang tidak mudah menemukannya, sama seperti pengalaman mencari pengikut di Twitter. Tapi, saya yakin pasti banyak yang bakal tertarik dengan foto-foto saya bila foto-foto lain terus di-upload di Instagram.

Keindahan foto-foto yang hadir berkat efek-efek yang disediakan Instagram, kemudian membuat saya ingin menyimpannya di folder data komputer. Celakanya, tidak ada menu save as di Instagram sehingga kita tidak bisa mengambil foto semudah biasanya, walau itu adalah foto kita sendiri. Rupanya, situs yang sudah dibeli oleh Facebook itu, sangat menjaga hak cipta semua foto yang ada.

Saya pun bertanya kesana-kemari untuk mencari jawaban bagaimana menyimpan foto dari Instagram. Saya pun berselancar lewat Google untuk menemukan solusinya. Ada banyak cara yang saya dapat, tapi hampir seluruhnya tidak mudah diterapkan. Tapi, saya tidak pernah putus asa dan terus mencari jalan keluar. Rupanya, saya adalah orang yang beruntung. Dari hasil mengutak-atik cara yang diungkapkan sebuah tulisan di blog, saya akhirnya menemukan bagaimana menyimpan foto dari Instagram. Tanpa membuang waktu, saya pun segera menyimpan beberapa foto dari akun Instagram saya yang paling oke.

Berikut ini adalah beberapa koleksi foto saya di Instagram. Semua foto diambil dengan kamera handphone Sony Xperia V.











Selengkapnya...