Selasa, 23 Juli 2013

Selamat Tinggal Polonia

Kalau tidak ada perubahan, Bandara Polonia akan selesai masa tugasnya pada Kamis, 25 Juli 2013. Medan akan memiliki bandara baru yang jauh lebih luas, modern, dan mewah di wilayah Kualanamu, Deli Serdang, sekitar 40 km di luar kota. Bandara baru tersebut akhirnya resmi menggantikan Polonia setelah ide untuk memindahkannya telah bergulir sejak 1991.

Polonia yang memiliki luas 144 hektar sudah beroperasi sekitar 70 tahun menjadi bandara utam di Sumatera Utara, sudah terlalu kumuh untuk dibanggakan. Lokasinya berada di tengah keramaian Medan. Dari pusat kota, Bandara Polonia hanya berjarak sekitar dua kilometer. Pagar pembatas bandara langsung berdampingan dengan kawasan permukiman, jalan raya, dan juga perkantoran. Kalau kita hendak mendarat, maka rumah-rumah akan kelihatan sangat jelas sejak beberapa menit sebelum roda pesawat menyentuh landasan. Bagi pecinta fotografi, momen-momen seperti ini jarang terlewatkan untuk memotret suasana di luar kabin pesawat saking dekatnya pesawat dengan aneka bangunan di luar sana.

Ujung landasan juga hanya beberapa meter dari jalan raya. Tidak heran kalau bahaya sangat mengancam masyarakat sekitar. Ini terbukti ketika pesawat Mandala Air gagal terbang pada 5 September 2005 dan menghantam sejumlah rumah dan kendaraan di Jalan Jamin Ginting. Badan pesawat nyaris habis terbakar di badan jalan yang selalu ramai tersebut dan menewaskan sekitar 150 orang. Tragedi yang ikut menewaskan Gubernur Sumatera Utara Rizal Nurdin tersebut pun menjadi tonggak sejarah yang memperkuat rencana pemindahan bandara ke lokasi lan.



Rencana pemindahan itu pun baru terwujud delapan tahun kemudian. Ada begitu banyak ganjalan yang memperlambatnya. Mulai dari konflik pembebasan lahan, anggaran yang membengkak, kebijakan politik, dan beberapa masalah lain. Padahal, Polonia sudah sangat sesak dan kumuh untuk disebut sebagai bandara internasional. Ruang terminal yang seperti ala kadarnya, parkir kendaraan yang tidak tidak muat, transportasi bandara yang semrawut, dan sejumlah ketidakberesan lainnya yang sangat membuat malu orang Medan dan tentu saja Indonesia. Padahal, Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia dan terbesar pertama di Pulau Sumatera.

Lihat saja terminal keberangkatan domestik yang luasnya tidak seberapa dibandingkan jumlah penumpang. Ini pun harus berbagi dengan toko-toko penjual makanan dan souvenir sejak pintu masuk terminal. Kipas angin yang dipasang di beberapa lokasi sama sekali tidak bisa menyejukkan udara karena banyaknya orang yang lalulalang di ruang yang tidak memadai. Peluh membasahi badan ketika harus mengantre di pintu masuk yang hanya memiliki dua pintu. Bahkan, kadang-kadang hanya satu pintu yang beroperasi karena ada kerusakan di pintu satu lagi.

Ruang tunggu keberangkatan pun selalu padat oleh lautan manusia. Memang, udara di sana cukup sejuk oleh sejumlah pendingin ruangan yang disebar. Namun, lagi-lagi, suasananya tidak mencerminkan terminal sebuah bandara internasional. Karena berbentuk sebuah ruangan yang sangat luas, maka suasana di ruang tunggu sangat berisik. Ketika panggilan naik ke pesawat terdengar, maka antrean di pintu keluar terminal pun mengular hingga puluhan meter.

Segala macam ketidakberesan tersebut pun akan segera hilang. Ya, Polonia sudah selesai menjalankan tugasnya sebagai bandara terbesar di Sumatera Utara. Selamat tinggal Polonia, Selamat datang Kualanamu.

Sumber foto: dari sini dan di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar