Jumat, 24 Januari 2014

Kapan Sinabung Kembali Tidur

Berbulan-bulan sudah puluhan ribu penduduk di sekitar Gunung Sinabung harus tinggal di tempat pengungsian. Mereka meninggalkan rumah dan kebun-kebun karena ancaman erupsi gunung setinggi 2.460 meter dibawah permukaan laut itu.

Saat kondisi sedang tidak membahayakan, sesekali mereka kembali ke rumah yang sudah nyaris ambruk akibat siraman debu Sinabung yang begitu tebalnya. Mereka pun mampir ke kebun yang kini sudah seperti lukisan satu warna, warna abu-abu.

Hingga akhir Januari 2014, Gunung Sinabung tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan kembali tertidur pulas. Ia terus batuk-batuk dan mengeluarkan kepulan debu yang terbang tinggi hingga ribuan meter, dan akhirnya berjatuhan ke tanah dalam radius berkilo-kilo meter.

Doa dari para pengungsi rupanya belum terkabulkan. Tetesan air mata yang membasahi pipi juga belum bisa menenangkan Sinabung. Tidak juga kunjungan dari presiden mereka yang begitu terlambat.

Hanya kesabaran yang bisa membuat para pengungsi tetap bersemangat. Bahwa masih ada harapan di depan sana…


Foto-foto: koleksi Dickson Pelawi
Selengkapnya...

Senin, 20 Januari 2014

Memang Wajahku bisa Judes ya?

Suatu hari pada Desember 2013 yang masih muda, sesosok pria menghampiri Zackia Arfan yang sedang berdiri di newsroom. Mereka pun terlibat pembicaraan yang lumayan serius, walau kadang-kadang suara tertawa terdengar dari mereka.

Keduanya sedang membicarakan mengenai program REALITAS yang akan tayang mulai 1 Januari 2014 di layar kaca Metro TV. Pada pembicaraan itu, Zackia Arfan diberi tahu kemungkinan dirinya menjadi salah satu presenter di program yang mengusung liputan berbau penelusuran dan investigasi itu.

Zackia Arfan memang akhirnya menjadi pembawa acara REALITAS. Penampilan perdananya muncul pada Rabu malam, hari pertama di 2014, yang membahas mengenai catatan hukum selama 2013. Penampilan salah satu pembaca berita Metro TV yang bertubuh mungil ini tidak terlalu mengecewakan. Ia terlihat tegas walau selama ini berpenampilan ceria dan sering berhahahihi ketika muncul di program Wide Shot Metro TV.

Kini, Zackia Arfan muncul secara rutin tiap Selasa dan Kamis di program REALITAS. Sedangkan untuk edisi Senin dan Rabu, ada Andini Efendi yang tampil di program tersebut. keduanya semakin terlihat menyakinkan untuk tampil di program yang dibuat sangat ‘keras’ itu. Padahal, awalnya mereka tidak yakin bisa tampil seperti itu. “Memang wajahku bisa terlihat judes ya seperti Rahma Sarita atau Eva Julianti?’’ tanya Zackia ketika pertama kali diberi tahu akan menjadi presenter di REALITAS.

Sejak 1 Januari 2014 memang ada sejumlah perubahan di layar Metro TV. Salah satunya adalah program yang sama pada Senin-Kamis setiap pukul 23.05 WIB. Nama programnya REALITAS. Ini sebenarnya bukan program baru, karena merupakan perubahan dari METRO REALITAS, sebuah program yang sudah tayang sejak 2001 di layar Metro TV. Sama seperti METRO REALITAS, program ‘baru’ ini juga tetap mengusung peliputan bergenre penelusuran dan investigasi.

Persiapan REALITAS relatif sangat cepat. Dalam waktu sekitar 5 minggu, seluruh kebutuhan program dikerjakan. Mulai dari penyusunan tim, pembagian tugas, pencarian presenter, pembuatan logo, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting adalah membagi tema peliputan agar setiap hari tayang hasil liputan yang berbeda-beda.

Pembagian tema pun diputuskan, yakni Senin untuk isu-isu politik, Selasa untuk kriminal, Rabu untuk hukum, dan Kamis untuk sosial. Kalau dulu METRO REALITAS lebih banyak dikenal sebagai program yang membedah isu-isu hukum dan korupsi, maka kini dilakukan pelebaran ‘wilayah jajahan’.

REALITAS pun kembali diputuskan untuk memakai pembawa acara, setelah hampir dua tahun menghilang dari METRO REALITAS. Pemilihan presenter cukup sulit karena penonton pasti membandingbandingkan penampilan mereka dengan beberapa nama yang pernah menjadi presenter METRO REALITAS. Penonton sepertinya sudah sangat hafal dengan gaya Rahma Sarita, Eva Julianti, atau Nina Melinda, ketika mereka masih bergabung dengan METRO REALITAS. Ketiganya bisa membawakan program tersebut dengan mimik muka serius tapi sering nyinyir, seolah-olah meledek kelakukan para manusia yang ada di tayangan yang mereka bawakan. Bermuka dingin. Begitulah sejumlah pemirsa berkomenter.

Apakah Zackia Arfan dan Andini Afendi bisa keluar dari bayang-bayang Rahma Sarita atau Eva Julianti? Mmm… kita tunggu saja.
Selengkapnya...

Selasa, 07 Januari 2014

Telepon dari Jayapura

Belum sampai satu jam saya tiba di rumah. Tubuh ini pun baru beberapa saat saja direbahkan di atas tempat tidur. Sedangkan di layar TV yang ada di salah satu pojok kamar, sedang muncul tayangan program Realitas dari stasiun Metro TV yang membahas mengenai kasus pembunuhan Siska Yovie. Ketika saya sedang menikmati tayangan itu, tiba-tiba telepon genggam berbunyi. Sebuah nama muncul di layarnya; Robert Sihombing. Saya pun segera ‘mengangkat’ telepon dan menyapa Robert yang menelepon dari Jayapura, Papua.

Hampir setengah jam kami larut dalam sejumlah pembicaraan. Kalau di Jakarta saja sudah jam sebelas malam lewat beberapa menit, maka pada saat yang sama, sudah jam dua dinihari lewat beberapa menit di Jayapura. Tapi, sepertinya suara Bang Robert, demikian Robert Sihombing biasa saya panggil, masih sangat bersemangat. “Saya di sini sedang menonton Realitas. Itu program Lae kan?’’ kata Bang Robert yang memang selalu memanggil ‘lae’ kepada saya, merujuk pada sebuah sapaan dari masyarakat Batak di Sumatera Utara.

Saya dan Robert Sihombing sudah saling kenal sejak akhir 2007. Kami berkenalan ketika saya sedang membuat sebuah liputan mengenai AIDS di Papua. Robert adalah salah satu narasumber utama saya dalam peliputan itu. Saya sudah lupa bagaimana awalnya kami berkenalan. Yang pasti, liputan saya soal dahsyatnya wabah AIDS di Papua tidak akan sukses tanpa bantuan Robert yang juga seorang guru di Jayapura itu.

Lewat LSM-nya yang bernama Jayapura Suport Group (JSG), Robert memiliki sebuah rumah singgah bagi penderita HIV di Kota Abepura, Papua. Ada beberapa pengurus di rumah singgah ini, salah satunya adalah Kak Siti, seorang perawat berdarah Papua di rumah sakit umum di Jayapura. Belakangan, Bang Robert dan Kak Siti tidak hanya pasangan dalam pengabdian untuk penanggulangan HIV/AID di Papua. Bibit cinta rupanya tumbuh dalam pengabdian mereka tersebut, sehingga keduanya kini juga menjadi pasangan Adam-Hawa yang sah di depan hukum.

Robert dan kelompoknya tidak hanya merawat dan mengobati para penderita HIV/AIDS yang tinggal di sana, tapi juga membimbing mereka untuk mau jadi tim penyuluh tentang bagaimana menyikapi penyakit itu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu buah dari kerja JSG adalah para penderita HIV yang ada di rumah singgah itu tidak takut tampil di depan umum, termasuk di depan kamera.

Saya juga mendapatkan banyak pengalaman dari liputan ke Papua tersebut. Inilah untuk pertama kalinya saya membuat liputan mendalam mengenai HIV. Liputan ini mengharuskan saya untuk banyak berinteraksi dengan para penderita HIV. Berhari-hari saya saya ke rumah singgah JSG yang dikelola Robert Sihombing, baik pagi, siang dan malam. Saya pun beberapa kali disuguhi makan di rumah itu. Jangan tanya bagaimana awalnya perasaan saya ketika harus makan di tengah para penderita HIV. Namun, lewat pengetahuan yang dibagi Bang Robert dan Kak Siti, saya pun akhirnya menjadi paham bagaimana harus bersikap terhadap HIV/AIDS.

Salah satu penderita HIV yang tinggal di rumah singgah yang dikelola Bang Robert dan kawan-kawan bernama Kebena. Umur perempuan asal Kabupaten Puncak Jaya yang terletak di pegunungan tengah Papua itu masih sangat muda saat saya bertemu dengannya pada 2007 itu. Yang mengejutkan saya, Kebena tinggal di sana bersama bayinya yang baru berumur beberapa bulan. Sulit membayangkan, bagaimana Kebena yang pada usia yang sangat muda itu sudah harus berjuang untuk menghadapi virus HIV yang sudah tumbuh di dalam tubuhnya. Di sisi lain, ia pun harus merawat bayi hasil pergaulan bebasnya. Bayi laki-laki Kebena diberi nama Tono, sesuai nama dokter yang membantu persalinan Kebena.

Tidak lama setelah kedatangan saya ke Papua, Bang Robert dan Kak Siti membawa Tono ke RSCM Jakarta untuk memeriksa apakah virus HIV juga sudah ada di tubuhnya. Hasil laboratorium sungguh membahagiakan, karena Tono belum tertular virus mematikan itu. Tono kini tinggal dengan orang tua Kebena di Puncak Jaya. Saya sempat berusaha mencari keberadaan Tono ketika mendapatkan tugas peliputan ke Puncak Jaya pada 2010. Namun, sempitnya waktu di sana membuat saya gagal bertemu dengannya.

Hasil peliputan tentang AIDS di Papua itu adalah salah satu karya jurnalistik karya saya yang paling berkesan dan terbaik. Saya bisa menghadirkan drama-drama pergulatan Papua dalam memerangi AIDS di bumi Cendrawasih itu. Saya juga sangat bahagia ketika Bang Robert mengaku masih menggunakan tayangan tersebut dalam kampanye-kampanye penanggulangan AIDS yang terus ia lakukan sampai hari ini.

Perjumpaan pada 2007 itu terus saya bina sampai hari ini. Setiap kali bertugas ke Jayapura, saya pasti mampir ke rumah singgah yang dikelola Bang Robert di Abepura. Tali komunikasi pun tidak pernah putus lewat telepon dan SMS. Begitu juga saat berada di Jakarta, Bang Robert selalu mengontak saya. Kalau waktu memungkinkan, kami pun janjian untuk bertemu.

Dan, siapa yang menyangka, kalau orang yang kini menjadi pimpinan saya di kantor, rupanya masih sepupu dengannya. Benar kata orang, dunia ini memang sempit…
Selengkapnya...