Selasa, 07 Januari 2014

Telepon dari Jayapura

Belum sampai satu jam saya tiba di rumah. Tubuh ini pun baru beberapa saat saja direbahkan di atas tempat tidur. Sedangkan di layar TV yang ada di salah satu pojok kamar, sedang muncul tayangan program Realitas dari stasiun Metro TV yang membahas mengenai kasus pembunuhan Siska Yovie. Ketika saya sedang menikmati tayangan itu, tiba-tiba telepon genggam berbunyi. Sebuah nama muncul di layarnya; Robert Sihombing. Saya pun segera ‘mengangkat’ telepon dan menyapa Robert yang menelepon dari Jayapura, Papua.

Hampir setengah jam kami larut dalam sejumlah pembicaraan. Kalau di Jakarta saja sudah jam sebelas malam lewat beberapa menit, maka pada saat yang sama, sudah jam dua dinihari lewat beberapa menit di Jayapura. Tapi, sepertinya suara Bang Robert, demikian Robert Sihombing biasa saya panggil, masih sangat bersemangat. “Saya di sini sedang menonton Realitas. Itu program Lae kan?’’ kata Bang Robert yang memang selalu memanggil ‘lae’ kepada saya, merujuk pada sebuah sapaan dari masyarakat Batak di Sumatera Utara.

Saya dan Robert Sihombing sudah saling kenal sejak akhir 2007. Kami berkenalan ketika saya sedang membuat sebuah liputan mengenai AIDS di Papua. Robert adalah salah satu narasumber utama saya dalam peliputan itu. Saya sudah lupa bagaimana awalnya kami berkenalan. Yang pasti, liputan saya soal dahsyatnya wabah AIDS di Papua tidak akan sukses tanpa bantuan Robert yang juga seorang guru di Jayapura itu.

Lewat LSM-nya yang bernama Jayapura Suport Group (JSG), Robert memiliki sebuah rumah singgah bagi penderita HIV di Kota Abepura, Papua. Ada beberapa pengurus di rumah singgah ini, salah satunya adalah Kak Siti, seorang perawat berdarah Papua di rumah sakit umum di Jayapura. Belakangan, Bang Robert dan Kak Siti tidak hanya pasangan dalam pengabdian untuk penanggulangan HIV/AID di Papua. Bibit cinta rupanya tumbuh dalam pengabdian mereka tersebut, sehingga keduanya kini juga menjadi pasangan Adam-Hawa yang sah di depan hukum.

Robert dan kelompoknya tidak hanya merawat dan mengobati para penderita HIV/AIDS yang tinggal di sana, tapi juga membimbing mereka untuk mau jadi tim penyuluh tentang bagaimana menyikapi penyakit itu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu buah dari kerja JSG adalah para penderita HIV yang ada di rumah singgah itu tidak takut tampil di depan umum, termasuk di depan kamera.

Saya juga mendapatkan banyak pengalaman dari liputan ke Papua tersebut. Inilah untuk pertama kalinya saya membuat liputan mendalam mengenai HIV. Liputan ini mengharuskan saya untuk banyak berinteraksi dengan para penderita HIV. Berhari-hari saya saya ke rumah singgah JSG yang dikelola Robert Sihombing, baik pagi, siang dan malam. Saya pun beberapa kali disuguhi makan di rumah itu. Jangan tanya bagaimana awalnya perasaan saya ketika harus makan di tengah para penderita HIV. Namun, lewat pengetahuan yang dibagi Bang Robert dan Kak Siti, saya pun akhirnya menjadi paham bagaimana harus bersikap terhadap HIV/AIDS.

Salah satu penderita HIV yang tinggal di rumah singgah yang dikelola Bang Robert dan kawan-kawan bernama Kebena. Umur perempuan asal Kabupaten Puncak Jaya yang terletak di pegunungan tengah Papua itu masih sangat muda saat saya bertemu dengannya pada 2007 itu. Yang mengejutkan saya, Kebena tinggal di sana bersama bayinya yang baru berumur beberapa bulan. Sulit membayangkan, bagaimana Kebena yang pada usia yang sangat muda itu sudah harus berjuang untuk menghadapi virus HIV yang sudah tumbuh di dalam tubuhnya. Di sisi lain, ia pun harus merawat bayi hasil pergaulan bebasnya. Bayi laki-laki Kebena diberi nama Tono, sesuai nama dokter yang membantu persalinan Kebena.

Tidak lama setelah kedatangan saya ke Papua, Bang Robert dan Kak Siti membawa Tono ke RSCM Jakarta untuk memeriksa apakah virus HIV juga sudah ada di tubuhnya. Hasil laboratorium sungguh membahagiakan, karena Tono belum tertular virus mematikan itu. Tono kini tinggal dengan orang tua Kebena di Puncak Jaya. Saya sempat berusaha mencari keberadaan Tono ketika mendapatkan tugas peliputan ke Puncak Jaya pada 2010. Namun, sempitnya waktu di sana membuat saya gagal bertemu dengannya.

Hasil peliputan tentang AIDS di Papua itu adalah salah satu karya jurnalistik karya saya yang paling berkesan dan terbaik. Saya bisa menghadirkan drama-drama pergulatan Papua dalam memerangi AIDS di bumi Cendrawasih itu. Saya juga sangat bahagia ketika Bang Robert mengaku masih menggunakan tayangan tersebut dalam kampanye-kampanye penanggulangan AIDS yang terus ia lakukan sampai hari ini.

Perjumpaan pada 2007 itu terus saya bina sampai hari ini. Setiap kali bertugas ke Jayapura, saya pasti mampir ke rumah singgah yang dikelola Bang Robert di Abepura. Tali komunikasi pun tidak pernah putus lewat telepon dan SMS. Begitu juga saat berada di Jakarta, Bang Robert selalu mengontak saya. Kalau waktu memungkinkan, kami pun janjian untuk bertemu.

Dan, siapa yang menyangka, kalau orang yang kini menjadi pimpinan saya di kantor, rupanya masih sepupu dengannya. Benar kata orang, dunia ini memang sempit…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar