Jumat, 28 Februari 2014

Nuansa Klasik di Kota Medan

Medan tidak hanya memiliki keanekaragaman budaya dan kuliner yang memikat. Kota yang telah berusia 423 tahun itu juga menyimpan eksotisme kota tua. Sayang, kurangnya rasa peduli membuat pesona itu bisa segera sirna.

Teti mengajak saya masuk ke dalam Rumah Tjong A Fie dari sayap rumah sebelah kanan. Sekitar satu jam lamanya perempuan yang berusia sekitar 30 tahun itu menemani saya menyusuri setiap ruangan rumah dua lantai itu sambil menjelaskan kisah Tjong A Fie, pendatang dari daratan Cina yang pernah menjadi orang paling kaya di Kota Medan sebelum 1900. “Saat ini yang menempati rumah ini adalah cucu dari Tjong A Fie,” kata Teti yang mengaku sudah beberapa tahun menjadi pemandu wisata di rumah Tjong A Fie.

Rumah Tjong A Fie merupakan salah satu bangunan tua yang masih bertahan di kawasan kota tua Medan yang terkenal dengan nama Kesawan. Rumah bergaya perpaduan Cina dan Melayu tersebut berdiri di pinggir Jalan Raya Ahmad Yani, jalan protokol yang dipenuhi bangunan-bangunan tua peninggalan abad 18-19. Gerbang rumah kokoh berdiri di antara bangunan lain yang umumnya dipakai untuk toko dan perkantoran, seakan menjadi bukti kalau si pemilik rumah yang didominasi cat hijau lumut itu adalah orang sangat berpengaruh pada jamannnya.

Saya sangat mengagumi bagaimana rumah Tj ong A Fie dilestarikan. Ini adalah sebuah bangunan yang menyimpan banyak sejarah, khususnya mengenai Medan dan Sumatera Utara. Rumah ini tidak hanya diisi oleh barang-barang peninggalan Tj ong A Fie yang diperlihatkan kepada setiap pengunjung setelah membayar Rp 35.000. Rumah ini juga menyimpan banyak surat, benda berharga yang terkait nama tokoh lain, serta sejumlah foto yang memperlihatkan perkembangan Kota Medan pada kurun waktu 1800-2000.


Rumah Tjong A Fie hanya salah satu bangunan tua di kawasan Kesawan yang menarik perhatian saya saat traveling ke kawasan kota tua di Medan. Walau salah satu kata di nama saya ada marga asal Sumatera Utara, namun selama ini saya sangat buta dengan kawasan tersebut. Karena penasaran dengan cerita sejumlah traveler yang pernah mampir ke Kesawan, saya pun akhirnya menghabiskan setengah hari di kawasan ini dalam sebuah liburan ke kampung halaman di Sumatera Utara.

Saya mengawali penjelajahan di kawasan kota tua Kesawan dari Lapangan Merdeka. Hari masih terlalu pagi ketika saya tiba di sana sehingga saya pun mencari pengisi perut dulu. Sambil menyantap lontong Medan dari seorang penjual di sisi lapangan yang berhadapan dengan kantor pos, saya mengamati suasana sekitar yang masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang tampak berolahraga pagi di dalam areal lapangan.

Lapangan Merdeka yang ada di depan saya adalah titik nol Kota Medan. Lapangan yang berada di tengah Kota Medan ini dibangun Belanda ketika menguasai Medan sekitar tahun 1880, dan menjadi pusat dari kota baru yang dibangun negeri kincir angin itu. Fungsi lapangan sama seperti alun-alun di sejumlah kota lain yang dikelilingi bangunan untuk pusat kegiatan bisnis dan pemerintahan. Ada kantor pos, hotel, balai kota, bank, stasiun kereta, dan beberapa bangunan lain yang mengelilingi Lapangan Merdeka. Hampir seluruh bangunan peninggalan Belanda tersebut masih berdiri kokoh sampai hari ini. Fungsinya juga tetap sama, kecuali balai kota. Setelah 12 wali kota berkantor di sana, Balai Kota Medan akhirnya pindah ke lokasi lain pada 1990.


Lapangan Merdeka dikelilingi oleh puluhan pohon trembesi berumur sangat tua yang memeluk pohonnya saja butuh sedikitnya dua orang dewasa. Kabarnya, Belanda mendatangkan semua pohon trembesi dari Amerika Latin untuk mempercantik lapangan terbuka ini. Sifat trembesi yang cepat tumbuh dan daun yang sangat rindang akhirnya membuat lapangan ini sangat rimbun. Tidak heran kalau Belanda memberi nama ‘taman burung’ untuk lapangan ini. Ketika Jepang berkuasa, namanya berganti menjadi ‘Fuku Raidu’. Namanya berubah menjadi Lapangan Merdeka sampai hari ini karena di lapangan inilah kemerdekaan Indonesia diumumkan pertama kali ke masyarakat Medan pada 6 Oktober 1945.

Saya kemudian naik ke jembatan penyeberangan orang yang ada di Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan Kantor Pos Medan dan Hotel Natour Dharma Deli. Dari atas jembatan, saya bisa menyaksikan sejumlah bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh dalam radius lima ratus meter. Saya pun teringat dengan sebuah tulisan yang mengungkapkan, kawasan kota tua Medan adalah potret lain dari kemajuan peradaban Eropa karena dibangun dengan menjiplak konsep pembangunan di Eropa pada jaman itu. Pembangunannya sangat memperhitungkan aspek-aspek yang harus dimiliki oleh sebuah kota. Tidak heran kalau Kesawan menjadi tempat pertemuan bisnis antara orang-orang Belanda, pengusaha lokal, dan juga orang-orang Cina yang saat ini semakin menjamur di tanah Sumatera Utara.

Saya lalu membuang tatapan ke Hotel Natour Dharma Deli yang bercat putih dan menjulang tinggi di depan saya. Saya membayangkan bagaimana megahnya hotel ini ketika baru berdiri pada 1898. Awalnya, Belanda memberi nama hotel ini dengan nama Hotel Mijn De Boer. Hotel ini menjadi tempat menginap tamu-tamu kehormatan Pemerintah Belanda serta artis-artis terkenal yang sengaja diundang ke Medan. Bentuk bangunan hotel ini tetap dipertahankan sampai hari ini. Namun, namanya sudah diganti menjadi Hotel Natour Dharma Deli.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, saya pun menyusuri Jalan Ahmad Yani untuk menyelami kawasan kota tua Kesawan. Di kanan saja berjejer bangunan tua lain yang telah berdiri ratusan tahun dengan gaya klasik campuran Eropa dan Melayu. Ada Gedung Bank Indonesia yang dibangun pada 1910 dan awalnya digunakan untuk kantor Javasche Bank, bekas balai kota yang dibangun pada 1908 yang kini tinggal bagian depannya saja, serta bangunan dua lantai lain yang dipakai beberapa bank nasional.

Sedangkan di kiri saya tampak Merdeka Walk. Ini adalah sebuah pusat kuliner di Medan yang menggunakan sebagian Lapangan Merdeka. Pada malam hari, pengunjung tempat ini sangat ramai dan lampu warna-warni pun semakin membuat semarak Merdeka Walk. Walau ditata menarik, namun banyak juga yang memprotes adanya Merdeka Walk. Mereka tidak terima Lapangan Merdeka yang punya nilai sejarah panjang, digunakan untuk areal bisnis.

Ketika saya tiba di persimpangan Jalan Ahmad Yani VII, berdiri kokok sebuah bangunan besar dengan gaya klasik seperti yang lazim dijumpai di kota-kota Eropa. Bangunan lima lantai ini dibangun pada 1906 untuk kantor sebuah perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berpusat di London. Kalau sekarang saja bentuknya masih indah dipandangi, entah semewah apa rupanya tatkala baru dibangun. Apalagi, kabarnya gedung ini adalah bangunan pertama yang menggunakan lift di Medan. Kini, gedung ini lebih terkenal dengan nama Gedung Lonsum, karena dipakai sebagai kantor PT PP London Sumatera, sebuah perusahaan perkebunan.

Petualangan pun semakin menarik ketika saya terus berjalan masuk ke dalam Jalan Ahmad Yani. Kiri-kanan jalan kini terlihat aneka rupa bangunan yang sangat rapat ke badan jalan. Inilah pusat keramaian Kesawan yang dikenal sebagai kawasan Pecinan di Medan. Bangunan tua bergaya klasik kini telah bercampur dengan gedung modern yang dibangun dari hasil menghancurkan gedung tua. Sudah begitu banyak bangunan tua yang dihancurkan demi kepentingan bisnis. Yang tersisa pun banyak yang tidak terawat. Keropos, penuh lumut, ditumbuhi semak, dan tinggal menunggu waktu kapan akan ambruk.


Saya berpikir, sepertinya Pemerintah Kota Medan belum melek bagaimana menata kawasan kota tua. Lihat saja bagaimana susahnya setiap orang untuk menyusuri Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan utama di Kesawan. Pedestrian hanya selebar satu meteran. Celakanya, banyak yang dipakai untuk parkiran motor atau luberan etalase barang dagangan di banyak toko. Akibatnya, orang-orang pun harus berjalan di aspal jalan dengan volume kendaraan yang tidak sedikit. Tidak berhati-hati maka bisa celaka karena terserempat motor atau mobil yang melintas.

Bangunan dua lantai yang masih banyak berdiri di kawasan Kesawan dibangun pada 1889. Bentuknya merupakan perpaduan Cina dan Melayu, yang sekilas seperti bangunan di Penang, Malaysia. Sebelum 1889, rumah-rumah kayu mendominasi kawasan ini.

Dulunya, Kesawan adalah kampung orang Melayu di Medan. Kawasan ini bertambah ramai mulai 1880, ketika orang- orang Cina dari Malaka dan Tiongkok mulai berdatangan. Kesawan pun tumbuh menjadi pusat bisnis dan perekonmian baru di kota yang didirikan pada 1590 oleh Guru Patimpus, seorang pendatang asal Dataran Tinggi Tanah Karo, Sumatera Utara. Celakanya, kebakaran hebat menghabiskan bangunan di sepanjang Jalan Ahmad Yani pada 1889. Nah, usai kebakaran itu, pembangunan kembali dikerjakan dan mayortas adalah bangunan dua lantai yang digunakan sebagai tempat berdagang. Sejumlah foto hitam putih Jalan Ahmad Yani sebelum dan sesudah kebakaran bisa dinikmati di rumah Djong A Fie.

Seorang bapak terus memandangi saya ketika sedang asyik memotret sebuah bangunan. Sepertinya ia heran melihat gaya saya yang berpindah-pindah posisi dalam memotret. Ketika puas jeprat-jepret, saya pun menghampiri bapak tersebut di depan pintu sebuah bangunan berlantai dua. Sepertinya bangunan itu adalah sebuah kantor.

“Mereka semua tidak ada yang peduli dengan bangunan tua di sini. Sudah banyak yang dihancurkan demi kepentingan bisnis”, katanya kepada saya dalam percakapan yang sebentar saja. Sambil bergurau, saya mempertanyakan siapa ‘mereka’ yang ia maksud. Namun, rupanya ia enggan menjelaskannya. “Ya semuanya!,” katanya sambil pergi menaiki mobil yang tadi parkir di depan pintu tempatnya berdiri.


Tidak tertatanya kawasan kota tua ini juga terlihat dari penataan kabel-kabel yang dibiarkan menjulur kemana-mana. Papan reklame juga banyak yang menutupi ekostisnya gaya bangunan klasik di kawasan ini. Yang menyedihkan, banyak gedung-gedung tua di Kesawan yang menjadi sarang walet. Suara burung penghasil kotoran bernilai mahal itu begitu nyaring terdengar sepanjang jalan.

Saya masih ingat ketika dalam satu kunjungan ke Medan beberapa tahun lalu, seorang kawan mengajak saya makan malam di kawasan Kesawan yang sepanjang Jalan Ahmad Yani memang selalu ditutup pada malam hari. Pemerintah Kota Medan menjadikan kawasan ini menjadi pusat jajanan. Segala macam kuliner khas Medan ada di sepanjang jalan yang panjangnya sampai satu kilometer itu. Warna tenda ada dua; merah dan biru. Pembedaan warna tenda bukan tanpa maksud. Keduanya menandakan makanan halal dan haram untuk kaum muslim. Tapi, kini pusat makanan di Kawasan tidak ada lagi. Entah mengapa dihapus. Kalau alasan penutupan karena sudah sepi pengunjung, seharusnya bisa diakali dengan beragam cara yang kreatif. Apalagi Medan sudah lama terkenal dengan kekayaan kulinernya.

Saya kemudian menyusuri Jalan Hindu yang cukup sepi. Hanya ada satu-dua bangunan yang tampak masih dipakai di sepanjang jalan ini. Selebihnya tampak tidak terawat dan beberapa bangunan bahkan sudah hancur dan dipagari seng. Rata-rata bangunan di sepanjang jalan ini masih meninggalkan wajah tuanya. Bentuknya yang bergaya kolonial, jendela kayu yang sudah keropos termakan usia, serta lekukan kotak-kotaknya yang menjadi ciri khas bangunan bergya art deco mendominasi semua bangunan. Pemandangan menakjubkan bagi siapa saja yang menyukai petualangan ke bangunan-bangunan tua.

Saya bertambah takjub ketika tiba di persimpangan Jalan Hindu dan Jalan Ahmad Yani VII. Di salah satu pojok berdiri sebuah bangunan dua lantai yang bentuknya sangat klasik. Kondisi bangunan yang dibangun pada 1919 tersebut sangat tidak terawat. Dinding sudah sangat kusam dan terkelupas di mana-mana. Jendela dan plafon juga banyak yang hancur. Dua papan nama menggantung di pintu masuk. Keduanya adalah papan nama sebuah serikat pekerja dan sebuah organisasi kepemudaan.

Saya menghabiskan waktu cukup lama di depan bangunan bercat putih yang sudah kusam tersebut. Berkali-kali saya mencari posisi yang pas untuk mendapatkan hasil jepretan kamera yang terbaik. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan saya. Namun, saya tidak memperhatikan mereka dan terus asyik mengarahkan lensa kamera ke bangunan tua yang sangat memikat tersebut.

Rasa bangga atas keberadaan kota tua di Medan ini bercampur aduk dengan kemirisan. Bagaimana tidak, perhatian pemerintah daerah untuk melestarikan kawasan kota tua mereka sepertinya masih sangat rendah. Begitu juga dengan warganya yang sama-sama tidak peduli. Akibatnya, bangunan tua di Kawasan Kesawan terus berkurang dari hari ke hari. Sangat disayangkan ketika banyak daerah lain justru sedang berusaha melestarikan kota tua mereka untuk dijadikan tempat wisata dan ikon kota.


Banyak Jalan Menuju Medan
Pesawat yang melayani rute Jakarta-Medan ada puluhan trip setiap hari. Hampir seluruh maskapai nasional membuka rute ke sana. Selain dari Jakarta, kota lain yang memiliki penerbangan langsung dari dan ke Medan adalah Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Penang (Malaysia), dan Singapura. Harga tiket pesawat Jakarta-Medan berkisar Rp 500.000-Rp 2.000.000, tergantung waktu dan kelas tempat duduk.


Transportasi di Medan
Transportasi Kereta Api tersedia dari Bandara Kualanamu untuk mencapai Kota Tua Kesawan. Lokasi stasiun Medan persis berada di samping Lapangan Merdeka. Dari stasiun, tinggal jalan kaki saja untuk menyusuri lorong-lorong kawasan Kesawan lengkap dengan bangunan-bangunan tuanya. Tarif kereta api dari Bandara Kualanamu Rp 80.000. Kualanamu adalah bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan layanan kereta api.
Sedangkan transportasi di Medan bermacam-macam. Ada angkot, taksi, dan becak motor. Tarif angkot sekitar Rp 5.000 untuk jarak terjauh. Sedangkan tarif becak motor tergantung negosiasi. Namun, tarifnya masih jauh lebih murah dibandingkan naik taksi.


Pilihan Menginap di Medan
Medan memiliki banyak pilihan tempat menginap. Dari kamar seharga Rp 100 ribu permalam, sampai kamar sekelas hotel bintang lima. Lokasinya juga tersebar di sejumlah titik, tergantung pilihan suasana kota yang diinginkan. Hotel yang berlokasi di sekitar kawasan Kesawan juga sangat banyak. Bahkan, beberapa hotel kecil ada di Jalan Ahmad Yani, menyatu dengan gedung-gedung tua di sana. Sedangkan sebuah hotel bintang lima yang bangunannya menjadi gedung tertinggi di Medan, ada di ujung jalan tersebut. Hanya butuh jalan kaki sekitar lima menit menuju Lapangan Merdeka.
Selengkapnya...

Selasa, 25 Februari 2014

Nostalgia ke Ambon Manise

Sudah lama saya menunggu kesempatan untuk kembali bisa menjelajahi Ambon. Butuh sepuluh tahun untuk mewujudkanya. Ternyata Ambon semakin menakjubkan.

Sepuluh tahun lalu, Ambon telah membuat saya sangat terkesima. Sisa-sisa konflik yang masih mudah dijumpai dimana-mana pada saat itu, seakan tertutupi oleh kecantikan pulau ini. Pantainya sangat bersih yang penuh dengan pasir putih atau gugusan batu karang, matahari yang selalu cerah bersama birunya langit, kuliner lezat yang menggetarkan lidah, serta panorama kota yang eksotis di pinggiran teluk. Sepuluh tahun sudah berlalu, dan saya akhirnya kembali menginjakkan kaki ke pulau ini.

Pantai dan laut adalah dua hal yang menjadi daya tarik utama Pulau Ambon. Pulau seluas 377 km persegi ini dikelilingi oleh pantai-pantai yang menawan. Tidak hanya satu, dua, atau tiga pantai yang siap menyambut para pengunjung. Dengan garis pantai yang mencapai 52 km, pulau ini menyimpan begitu banyak pantai yang sebagian besar masih perawan karena belum mendapatkan sentuhan komersil. Pasir putih bersih atau pantai yang terpagar tebing dan batu-batu alam yang indah silih berganti tersaji di depan mata. Aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir menjadi bonusnya. Siapa saja pasti takjub kalau mendapatkan ini semua.

Ada sejumlah pantai di Ambon yang sudah sangat terkenal hingga ke mancanegara, dan saya bersyukur sudah sempat menikmatinya dalam dua kali kunjungan ke pulau penghasil rempah-rempah ini. Mulai dari Pantai Netsepa, Pantai Liang, Pantai Namalatu, Pantai Hukurila, dan yang paling terkenal adalah Pantai Pintu Kota. Kalau sekadar cuci mata sambil memuaskan hobi fotografi, rasa-rasanya dua hari cukup untuk mengelilingi seluruh pantai di Ambon. Namun, apakah Anda akan mau melewatkan begitu saja kesempatan untuk snorkling atau berendam di laut yang sangat jernih? Atau, melewatkan menyelam di puluhan titik penyelaman di perairan Ambon yang berisi alam bawah laut yang sungguh indah? Ah, rasa-rasanya dua hari sangatlah tidak cukup. Tidak juga satu minggu.

Pantai Namalatu yang berpasir putih dan berpagar pohon kelapa ini adalah salah satu pantai paling terkenal di Ambon yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit berkendaraan. Aneka kapal kecil sampai besar yang sedang berlayar di Teluk Ambon akan menjadi teman saat berendam di air laut yang relatif tenang atau ketika sekadar duduk santai di pinggir pantai yang beratapkan pohon kelapa. Terumbu karang dan ikan-ikan juga menjadi teman berenang di pantai yang berhadapan langsung dengan Laut Dalam Banda tersebut. Pantai Namalatu juga tempat yang pas kalau hendak menikmati matahari tenggelam.

Ada lagi satu pantai yang lokasinya masih satu arah dengan Pantai Namalatu. Namanya Pantai Pintu Kota. Pantai ini memiliki lubang di tengah tebingnya yang dianggap sebagai pintu gerbang Ambon. Pintu Kota menjadi salah satu ikon Ambon yang banyak dijumpai di poster-poster, kartu pos, atau buku-buku pariwisata.

Datanglah ke Pintu Kota pada saat matahari terbit untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda. Apalagi, pantai ini cukup ramai dikunjungi pada siang hari sehingga akan mengganggu bila tujuan kita adalah berburu foto. Walau pantai ini didominasi oleh hamparan batu-batu, namun masih ada ruang tersisa yang nyaman untuk berenang di air tenang yang sangat jernih usai puas berburu foto.

Perairan di sekitar Pulau Ambon juga menjadi surga bagi para pencinta diving. Ada sekitar 43 titik penyelaman di perairan Ambon dengan kedalaman lima sampai 35 meter dan semuanya sudah dikelola dengan baik. Tidak hanya untuk penyelam yang sudah berpengelamanan, namun bagi penyelam pemula juga bisa merasakan indahnya alam bawah laut Ambon. Waktu terbaik untuk menyelam adalah pada Mei-Juni dan Oktober-Februari. Selain karang dan aneka ikan warna-warni yang indah, ada banyak harta lain yang terpendalam di dalam laut Ambon seperti gua dan kapal karam.

Tapi, Ambon tidak hanya pantai dan laut. Menyusuri suasana kota yang berjuluk Amboina ini, juga sangat sayang untuk dilewatkan. Mari kita nikmati sejumlah sudut Ambon, pulau yang pernah menjadi pusat kekuasaan VOC sebelum dipindahkan Batavia pada ratusan tahun silam. Sayangnya, walau Ambon pernah menjadi pusat perdagangan VOC, hanya sedikit bangunan-bangunan peninggalan penjajah yang bisa dinikmati. Kabarnya, semuanya hancur ketika terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Jepang dengan Australia di Ambon pada masa Perang Dunia kedua. “Di sini tidak ada kawasan kota tua,” kata Ipeh, rekan yang saya temui di Ibukota Maluku ini.

VOC, persekutuan perusahaan dagang asal Belanda, memilih Ambon sebagai basis mereka karena pulau yang kini dihuni sekitar 500 ribu jiwa ini rempah-rempah. Kemasyuran rempah-rempah Maluku ini pun menjadi magnet yang menarik berbagai bangsa untuk datang dan memperebutkannya, hingga Ambon mendapatkan julukan ke The Queen of The East. Hasil bumi seperti cengkeh dan pala yang sudah terkenal sejak jaman Portugis, masih tumbuh subur hingga saat ini.

Saya mencoba membayangkan bagaimana Ambon sangat berjaya dengan rempah-rempahnya sambil menatap lanskap Ambon dari Bukit Karang Panjang. Di bukit ini juga berdiri tegak patung Martha Christina Tiahahu yang menjadi salah satu ikon Ambon. Dari lokasi patung ini, saya dapat memandangi lanskap Kota Ambon yang berpagarkan gunung dan keindahan Teluk Ambon. Waktu yang paling tepat ke sini adalah saat senja karena kita bisa menikmati matahari terbenam dari atas bukit.


Saya juga tidak lupa untuk mampir ke Gong Perdamaian Dunia yang berlokasi di pusat kota. Lokasi berada tepat di depan lapangan Merdeka dan berdampingan dengan Benteng Victoria, benteng peninggalan penjajah yang kini dipakai sebagai markas Kavaleri. Gong perdamaian juga berada di salah satu jalur utama di Ambon. Kantor Gubernur Maluku dan Balai Kota Ambon juga menghadap ke Lapangan Merdeka.

Gong Perdamaian Dunia ini diresmikan pada November 2009 dan merupakan Gong Perdamaian ke-35 di dunia sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Ambon dan juga Indonesia. Gong Perdamaian ini menjadi simbol perdamaian untuk memotivasi warga Maluku agar tidak mudah lagi terprovokasi seperti akhir 1990-an.

Gong Perdamaian Dunia ini memiliki diameter seluas 2 meter dan berwarna keemasan. Selain dipenuhi dengan gambar bendera dari tiap negara, yang berjumlah sekitar 200 bendera, juga terdapat simbol tiap agama di dalam lingkarannya. Di tengahnya juga terdapat miniatur bumi dan bertuliskan 'Gong Perdamaian Dunia' pada bagian bawah, serta 'World Peace Gong' pada bagian atas lingkarannya. Dengan disangga dua pilar raksasa, di atas gong ini juga terdapat lambang Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Jangan lupa datang ke Gong Perdamaian pada malam hari, karena lampu yang menyinari gong ini akan menciptakan warna yang indah. Selain itu, pengunjung juga nyaris tidak ada sehingga bisa memotret gong secara utuh. Puas mengabadikan Gong Perdamaian pada malam hari, berjalan sebentar ke Lapangan Merdeka yang ada di depannya. Tulisan ‘Ambon Manise’ setinggu dua meter dan panjang sekitar 50 meter akan menyala terang di pinggi lapangan.


Menikmati Ambon pada malam tidak lengkap tanpa menikmati nasi kuning khas Ambon. Seperti penjual gudeg di Jogjakarta, penjual nasi kuning juga banyak dijumpai di pinggir jalan di pusat keramaian kota, seperti Jalan Dipenogoro dan Jalan AM Sangaji. Harganya cukup murah. Dengan uang Rp 10.000, sudah dapat nasi kuning dengan lauk telor, mi, tumis kacang panjang dan wortel, serta sepotong ikan asar yang sudah disambeli. Nasi kuning ini ada sampai menjelang tengah malam dan pembelinya rata-rata orang bermobil.

Ikan asar merupakan makanan khas Ambon. Biasanya, yang dijadikan ikan asar adalah cakalang dan tuna. Ikan asar dibuat dengan cara membelah ikan agar menjadi lebar dan kemudian menjepitnya di potongan bambu. Ikan lalu dibakar di atas bara api selama beberapa menit sampai sudah matang.

Ikan asar mudah dijumpai Pasar Mandalika. Sedangkan untuk oleh-oleh ke Jakarta, banyak tersedia di pinggir jalan sebelum Dermaga Penyeberangan Galala. Satu potong ikan dijual Rp 35.000 dan akan dibungkus sangat rapi agar bisa dibawa naik ke dalam pesawat. Ikan asar tahan sekitar seminggu di dalam kulkas dan enak jadi bahan campuran masakan apa saja.

Sambil menunggu ikan asar dibungkus rapi, pembeli juga bisa melihat langsung bagaimana oleh-oleh khas Ambon ini dipanggang di belakang tenda penjual di sekitar Galala. Asap pun tampak mengebul dari sejumlah bedeng tempat pembakaran ikan. Jangan khawatir untuk mangintip ke belakang karena penjual sangat ramah-ramah untuk mengajak keliling. Mereka siap pun jadi model untuk difoto bersama ikan cakalang yang sedang dibakar.


Ada satu lagi yang tidak saya lupakan dalam kunjungan ke Ambon kali ini, yakni nongkrong di Kafe Sibu-Sibu di Jalan Said Pemerintah. Sibu-sibu dalam bahasa Indonesia kira-kira bermakna sepoi-sepoi. Kafe ini tidak terlalu besar, namun memberikan pengalaman lain untuk perjalanan ke Ambon. Sibu-sibu menyajikan berbagai jenis makanan khas Maluku yang mungkin sudah jarang ada. Sebagai pelengkapnya, cobalah kopi rarobang yang memberikan kehangatan ke tubuh berkat potongan jahe yang dicampur bersama kopi.

Tapi, tidak hanya makanan atau minuman yang menjadi daya pikat kafe ini. Pengunjung akan ditemani oleh alunan lagu-lagu Ambon yang tidak putus diputar. Kabarnya, lagu-lagu yang diperdengarkan ini ini adalah lagu Ambon dari jaman dulu yang masih direkam dalam piringan hitam. Selain itu, interior kafe juga dibuat sangat menarik. Seluruh dinding kafe penuh dengan poster tokoh-tokoh berdarah Maluku dari seluruh dunia. Mulai dari pemain musik, pemain bola, penyanyi, hingga finalis Miss Universe perwakilan Belanda yang berdarah Maluku, Sharita Sopacua.


Sepuluh tahun lalu, saya harus menyusuri pinggiran Teluk Ambon dari bandara menuju pusat kota. Butuh waktu sekitar dua jam perjalanan kalau tidak ada kemacetan di sejumlah pusat keramaian. Namun, kini perjalanan ini hanya butuh waktu sekitar satu jam berkat adanya kapal ferry yang menghubungkan kawasan Pokka dengan kawasan Galala, di seberang teluk. Ada dua kapal ferry yang melayani rute ini seharian penuh nonstop, yakni KM Gurame dan KM Mujair. Tarif perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit ini adalah Rp 20.000 untuk mobil, Rp 5.000 untuk motor, dan Rp 2.000 utk pejalan kaki.

Bagi penggemar fotografi, berburu foto di sekitar dermaga atau di atas kapal akan menyuguhkan banyak pemandangan yang sayang kalau dilewatkan. Jangan sungkan untuk mengeluarkan kamera, dan mulai membidik suasana di dermaga, foto lanskap dengan langit biru cerah, atau tingkah polah para penumpang. Siapa tahu juga, Anda akan mendapatkan teman baru di atas kapal, karena orang Ambon terkenal mudah bergaul berkat keramahan mereka serta sangat menghargai pertemanan.

Namun, tidak lama lagi, penyeberangan ini mungkin ditutup. Tidak jauh dari dermaga penyeberangan, sedang dibangun jembatan yang menghubungkan Pokka dan Galala. Kabarnya, jembatan yang bergelar Jembatan Merah Putih tersebut akan selesai pada 2014 dengan menelan biaya hampir Rp 700 miliar. Jembatan yang membentang sepanjang satu kilometer di atas Teluk Ambon itu, bakal menjadi salah satu jembatan terpanjang dan tertinggi di Indonesia karena kapal besar masih bisa melintas di bawahnya. Seperti halnya Jembatan Barelang di Batam dan Suramadu di Jawa timur, jembatan ini bakal menjadi ikon baru Ambon.


Pasar Mandalika juga menjadi tempat yang seru untuk berburu foto di Ambon. Hiruk-pikuk pasar dengan aneka hasil bumi yang penuh warna menjadi objek foto yang indah untuk dibidik. Sambil memotret, perhatikan juga gaya para penjual dalam menarik para pembeli. Ucapan dan intonasi mereka sangat khas dan tidak bisa ditemui di daerah lain. Jangan khawatir datang ke Pasar Mandalika, karena para pedagang sudah biasa didatangi turis. Tapi, tidak salah kalau Anda permisi dulu sebelum membidikkan kamera.

Menuju Ambon
Ada tiga maskapai nasional yang melayani penerbangan Jakarta-Ambon, yakni Lion Air, Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia. Kalau maskapai lain transit di Makassar atau Surabaya, Lion Air berani terbang langsung Jakarta-Ambon PP. Harga tiket ke Ambon sekitar Rp 1,3 juta sampai Rp 4 juta, tergantung pilihan waktu berangkat. Biasanya, keberangkatan dari Jakarta pada malam atau dinihari dan tiba pada pagi hari. Jangan lupa membawa baju hangat selama di pesawat. Makanan ringan serta minuman juga perlu dibawa karena penerbangan selama empat jam cukup menguras energi.


Transportasi di Ambon
Ada banyak pilihan transportasi selama di Ambon. Dari Bandara Internasional Pattimura, bisa menumpang bis Damri ke pusat kota dengan tarif Rp 25.000 atau naik taksi Rp 150.000, dengan waktu tempuh sekitar 60 menit. Mobil sewaan juga banyak tersedia untuk menyusuri keindahan pulau ini dengan tarif sekitar Rp 500.000. Yang lebih murah juga tersedia, seperti angkutan umum, ojek, atau becak.


Pilihan Menginap di Ambon
Dari hari ke hari, semakin banyak hotel baru yang bermunculan di Pulau Ambon. Tidak hanya di pusat kota, namun juga memilih lokasi di luar kota, seperti Hotel Aston Netsepa yang tidak jauh dari pantai paling terkenal di Pulau Ambon, Pantai Natsepa. Beberapa pilihan hotel di Ambon antara lain (Hotel Aston Netsepa Rp 650.000++), Swiss-Belhotel (Rp 450.000++), Amaris Hotel (Rp 400.000++), Manise Hotel (Rp 350.000++), Amans Hotel (Rp 450.000++), Hotel Amboina (Rp 450.000++). Hotel melati dengan tarif sekitar Rp 150.000 juga banyak tersedia di Ambon. Sebaiknya sesuaikan lokasi hotel dengan pengalaman yang ingin didapat saat memilih tempat menginap.

Selengkapnya...