Selasa, 25 Februari 2014

Nostalgia ke Ambon Manise

Sudah lama saya menunggu kesempatan untuk kembali bisa menjelajahi Ambon. Butuh sepuluh tahun untuk mewujudkanya. Ternyata Ambon semakin menakjubkan.

Sepuluh tahun lalu, Ambon telah membuat saya sangat terkesima. Sisa-sisa konflik yang masih mudah dijumpai dimana-mana pada saat itu, seakan tertutupi oleh kecantikan pulau ini. Pantainya sangat bersih yang penuh dengan pasir putih atau gugusan batu karang, matahari yang selalu cerah bersama birunya langit, kuliner lezat yang menggetarkan lidah, serta panorama kota yang eksotis di pinggiran teluk. Sepuluh tahun sudah berlalu, dan saya akhirnya kembali menginjakkan kaki ke pulau ini.

Pantai dan laut adalah dua hal yang menjadi daya tarik utama Pulau Ambon. Pulau seluas 377 km persegi ini dikelilingi oleh pantai-pantai yang menawan. Tidak hanya satu, dua, atau tiga pantai yang siap menyambut para pengunjung. Dengan garis pantai yang mencapai 52 km, pulau ini menyimpan begitu banyak pantai yang sebagian besar masih perawan karena belum mendapatkan sentuhan komersil. Pasir putih bersih atau pantai yang terpagar tebing dan batu-batu alam yang indah silih berganti tersaji di depan mata. Aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir menjadi bonusnya. Siapa saja pasti takjub kalau mendapatkan ini semua.

Ada sejumlah pantai di Ambon yang sudah sangat terkenal hingga ke mancanegara, dan saya bersyukur sudah sempat menikmatinya dalam dua kali kunjungan ke pulau penghasil rempah-rempah ini. Mulai dari Pantai Netsepa, Pantai Liang, Pantai Namalatu, Pantai Hukurila, dan yang paling terkenal adalah Pantai Pintu Kota. Kalau sekadar cuci mata sambil memuaskan hobi fotografi, rasa-rasanya dua hari cukup untuk mengelilingi seluruh pantai di Ambon. Namun, apakah Anda akan mau melewatkan begitu saja kesempatan untuk snorkling atau berendam di laut yang sangat jernih? Atau, melewatkan menyelam di puluhan titik penyelaman di perairan Ambon yang berisi alam bawah laut yang sungguh indah? Ah, rasa-rasanya dua hari sangatlah tidak cukup. Tidak juga satu minggu.

Pantai Namalatu yang berpasir putih dan berpagar pohon kelapa ini adalah salah satu pantai paling terkenal di Ambon yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit berkendaraan. Aneka kapal kecil sampai besar yang sedang berlayar di Teluk Ambon akan menjadi teman saat berendam di air laut yang relatif tenang atau ketika sekadar duduk santai di pinggir pantai yang beratapkan pohon kelapa. Terumbu karang dan ikan-ikan juga menjadi teman berenang di pantai yang berhadapan langsung dengan Laut Dalam Banda tersebut. Pantai Namalatu juga tempat yang pas kalau hendak menikmati matahari tenggelam.

Ada lagi satu pantai yang lokasinya masih satu arah dengan Pantai Namalatu. Namanya Pantai Pintu Kota. Pantai ini memiliki lubang di tengah tebingnya yang dianggap sebagai pintu gerbang Ambon. Pintu Kota menjadi salah satu ikon Ambon yang banyak dijumpai di poster-poster, kartu pos, atau buku-buku pariwisata.

Datanglah ke Pintu Kota pada saat matahari terbit untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda. Apalagi, pantai ini cukup ramai dikunjungi pada siang hari sehingga akan mengganggu bila tujuan kita adalah berburu foto. Walau pantai ini didominasi oleh hamparan batu-batu, namun masih ada ruang tersisa yang nyaman untuk berenang di air tenang yang sangat jernih usai puas berburu foto.

Perairan di sekitar Pulau Ambon juga menjadi surga bagi para pencinta diving. Ada sekitar 43 titik penyelaman di perairan Ambon dengan kedalaman lima sampai 35 meter dan semuanya sudah dikelola dengan baik. Tidak hanya untuk penyelam yang sudah berpengelamanan, namun bagi penyelam pemula juga bisa merasakan indahnya alam bawah laut Ambon. Waktu terbaik untuk menyelam adalah pada Mei-Juni dan Oktober-Februari. Selain karang dan aneka ikan warna-warni yang indah, ada banyak harta lain yang terpendalam di dalam laut Ambon seperti gua dan kapal karam.

Tapi, Ambon tidak hanya pantai dan laut. Menyusuri suasana kota yang berjuluk Amboina ini, juga sangat sayang untuk dilewatkan. Mari kita nikmati sejumlah sudut Ambon, pulau yang pernah menjadi pusat kekuasaan VOC sebelum dipindahkan Batavia pada ratusan tahun silam. Sayangnya, walau Ambon pernah menjadi pusat perdagangan VOC, hanya sedikit bangunan-bangunan peninggalan penjajah yang bisa dinikmati. Kabarnya, semuanya hancur ketika terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Jepang dengan Australia di Ambon pada masa Perang Dunia kedua. “Di sini tidak ada kawasan kota tua,” kata Ipeh, rekan yang saya temui di Ibukota Maluku ini.

VOC, persekutuan perusahaan dagang asal Belanda, memilih Ambon sebagai basis mereka karena pulau yang kini dihuni sekitar 500 ribu jiwa ini rempah-rempah. Kemasyuran rempah-rempah Maluku ini pun menjadi magnet yang menarik berbagai bangsa untuk datang dan memperebutkannya, hingga Ambon mendapatkan julukan ke The Queen of The East. Hasil bumi seperti cengkeh dan pala yang sudah terkenal sejak jaman Portugis, masih tumbuh subur hingga saat ini.

Saya mencoba membayangkan bagaimana Ambon sangat berjaya dengan rempah-rempahnya sambil menatap lanskap Ambon dari Bukit Karang Panjang. Di bukit ini juga berdiri tegak patung Martha Christina Tiahahu yang menjadi salah satu ikon Ambon. Dari lokasi patung ini, saya dapat memandangi lanskap Kota Ambon yang berpagarkan gunung dan keindahan Teluk Ambon. Waktu yang paling tepat ke sini adalah saat senja karena kita bisa menikmati matahari terbenam dari atas bukit.


Saya juga tidak lupa untuk mampir ke Gong Perdamaian Dunia yang berlokasi di pusat kota. Lokasi berada tepat di depan lapangan Merdeka dan berdampingan dengan Benteng Victoria, benteng peninggalan penjajah yang kini dipakai sebagai markas Kavaleri. Gong perdamaian juga berada di salah satu jalur utama di Ambon. Kantor Gubernur Maluku dan Balai Kota Ambon juga menghadap ke Lapangan Merdeka.

Gong Perdamaian Dunia ini diresmikan pada November 2009 dan merupakan Gong Perdamaian ke-35 di dunia sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Ambon dan juga Indonesia. Gong Perdamaian ini menjadi simbol perdamaian untuk memotivasi warga Maluku agar tidak mudah lagi terprovokasi seperti akhir 1990-an.

Gong Perdamaian Dunia ini memiliki diameter seluas 2 meter dan berwarna keemasan. Selain dipenuhi dengan gambar bendera dari tiap negara, yang berjumlah sekitar 200 bendera, juga terdapat simbol tiap agama di dalam lingkarannya. Di tengahnya juga terdapat miniatur bumi dan bertuliskan 'Gong Perdamaian Dunia' pada bagian bawah, serta 'World Peace Gong' pada bagian atas lingkarannya. Dengan disangga dua pilar raksasa, di atas gong ini juga terdapat lambang Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Jangan lupa datang ke Gong Perdamaian pada malam hari, karena lampu yang menyinari gong ini akan menciptakan warna yang indah. Selain itu, pengunjung juga nyaris tidak ada sehingga bisa memotret gong secara utuh. Puas mengabadikan Gong Perdamaian pada malam hari, berjalan sebentar ke Lapangan Merdeka yang ada di depannya. Tulisan ‘Ambon Manise’ setinggu dua meter dan panjang sekitar 50 meter akan menyala terang di pinggi lapangan.


Menikmati Ambon pada malam tidak lengkap tanpa menikmati nasi kuning khas Ambon. Seperti penjual gudeg di Jogjakarta, penjual nasi kuning juga banyak dijumpai di pinggir jalan di pusat keramaian kota, seperti Jalan Dipenogoro dan Jalan AM Sangaji. Harganya cukup murah. Dengan uang Rp 10.000, sudah dapat nasi kuning dengan lauk telor, mi, tumis kacang panjang dan wortel, serta sepotong ikan asar yang sudah disambeli. Nasi kuning ini ada sampai menjelang tengah malam dan pembelinya rata-rata orang bermobil.

Ikan asar merupakan makanan khas Ambon. Biasanya, yang dijadikan ikan asar adalah cakalang dan tuna. Ikan asar dibuat dengan cara membelah ikan agar menjadi lebar dan kemudian menjepitnya di potongan bambu. Ikan lalu dibakar di atas bara api selama beberapa menit sampai sudah matang.

Ikan asar mudah dijumpai Pasar Mandalika. Sedangkan untuk oleh-oleh ke Jakarta, banyak tersedia di pinggir jalan sebelum Dermaga Penyeberangan Galala. Satu potong ikan dijual Rp 35.000 dan akan dibungkus sangat rapi agar bisa dibawa naik ke dalam pesawat. Ikan asar tahan sekitar seminggu di dalam kulkas dan enak jadi bahan campuran masakan apa saja.

Sambil menunggu ikan asar dibungkus rapi, pembeli juga bisa melihat langsung bagaimana oleh-oleh khas Ambon ini dipanggang di belakang tenda penjual di sekitar Galala. Asap pun tampak mengebul dari sejumlah bedeng tempat pembakaran ikan. Jangan khawatir untuk mangintip ke belakang karena penjual sangat ramah-ramah untuk mengajak keliling. Mereka siap pun jadi model untuk difoto bersama ikan cakalang yang sedang dibakar.


Ada satu lagi yang tidak saya lupakan dalam kunjungan ke Ambon kali ini, yakni nongkrong di Kafe Sibu-Sibu di Jalan Said Pemerintah. Sibu-sibu dalam bahasa Indonesia kira-kira bermakna sepoi-sepoi. Kafe ini tidak terlalu besar, namun memberikan pengalaman lain untuk perjalanan ke Ambon. Sibu-sibu menyajikan berbagai jenis makanan khas Maluku yang mungkin sudah jarang ada. Sebagai pelengkapnya, cobalah kopi rarobang yang memberikan kehangatan ke tubuh berkat potongan jahe yang dicampur bersama kopi.

Tapi, tidak hanya makanan atau minuman yang menjadi daya pikat kafe ini. Pengunjung akan ditemani oleh alunan lagu-lagu Ambon yang tidak putus diputar. Kabarnya, lagu-lagu yang diperdengarkan ini ini adalah lagu Ambon dari jaman dulu yang masih direkam dalam piringan hitam. Selain itu, interior kafe juga dibuat sangat menarik. Seluruh dinding kafe penuh dengan poster tokoh-tokoh berdarah Maluku dari seluruh dunia. Mulai dari pemain musik, pemain bola, penyanyi, hingga finalis Miss Universe perwakilan Belanda yang berdarah Maluku, Sharita Sopacua.


Sepuluh tahun lalu, saya harus menyusuri pinggiran Teluk Ambon dari bandara menuju pusat kota. Butuh waktu sekitar dua jam perjalanan kalau tidak ada kemacetan di sejumlah pusat keramaian. Namun, kini perjalanan ini hanya butuh waktu sekitar satu jam berkat adanya kapal ferry yang menghubungkan kawasan Pokka dengan kawasan Galala, di seberang teluk. Ada dua kapal ferry yang melayani rute ini seharian penuh nonstop, yakni KM Gurame dan KM Mujair. Tarif perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit ini adalah Rp 20.000 untuk mobil, Rp 5.000 untuk motor, dan Rp 2.000 utk pejalan kaki.

Bagi penggemar fotografi, berburu foto di sekitar dermaga atau di atas kapal akan menyuguhkan banyak pemandangan yang sayang kalau dilewatkan. Jangan sungkan untuk mengeluarkan kamera, dan mulai membidik suasana di dermaga, foto lanskap dengan langit biru cerah, atau tingkah polah para penumpang. Siapa tahu juga, Anda akan mendapatkan teman baru di atas kapal, karena orang Ambon terkenal mudah bergaul berkat keramahan mereka serta sangat menghargai pertemanan.

Namun, tidak lama lagi, penyeberangan ini mungkin ditutup. Tidak jauh dari dermaga penyeberangan, sedang dibangun jembatan yang menghubungkan Pokka dan Galala. Kabarnya, jembatan yang bergelar Jembatan Merah Putih tersebut akan selesai pada 2014 dengan menelan biaya hampir Rp 700 miliar. Jembatan yang membentang sepanjang satu kilometer di atas Teluk Ambon itu, bakal menjadi salah satu jembatan terpanjang dan tertinggi di Indonesia karena kapal besar masih bisa melintas di bawahnya. Seperti halnya Jembatan Barelang di Batam dan Suramadu di Jawa timur, jembatan ini bakal menjadi ikon baru Ambon.


Pasar Mandalika juga menjadi tempat yang seru untuk berburu foto di Ambon. Hiruk-pikuk pasar dengan aneka hasil bumi yang penuh warna menjadi objek foto yang indah untuk dibidik. Sambil memotret, perhatikan juga gaya para penjual dalam menarik para pembeli. Ucapan dan intonasi mereka sangat khas dan tidak bisa ditemui di daerah lain. Jangan khawatir datang ke Pasar Mandalika, karena para pedagang sudah biasa didatangi turis. Tapi, tidak salah kalau Anda permisi dulu sebelum membidikkan kamera.

Menuju Ambon
Ada tiga maskapai nasional yang melayani penerbangan Jakarta-Ambon, yakni Lion Air, Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia. Kalau maskapai lain transit di Makassar atau Surabaya, Lion Air berani terbang langsung Jakarta-Ambon PP. Harga tiket ke Ambon sekitar Rp 1,3 juta sampai Rp 4 juta, tergantung pilihan waktu berangkat. Biasanya, keberangkatan dari Jakarta pada malam atau dinihari dan tiba pada pagi hari. Jangan lupa membawa baju hangat selama di pesawat. Makanan ringan serta minuman juga perlu dibawa karena penerbangan selama empat jam cukup menguras energi.


Transportasi di Ambon
Ada banyak pilihan transportasi selama di Ambon. Dari Bandara Internasional Pattimura, bisa menumpang bis Damri ke pusat kota dengan tarif Rp 25.000 atau naik taksi Rp 150.000, dengan waktu tempuh sekitar 60 menit. Mobil sewaan juga banyak tersedia untuk menyusuri keindahan pulau ini dengan tarif sekitar Rp 500.000. Yang lebih murah juga tersedia, seperti angkutan umum, ojek, atau becak.


Pilihan Menginap di Ambon
Dari hari ke hari, semakin banyak hotel baru yang bermunculan di Pulau Ambon. Tidak hanya di pusat kota, namun juga memilih lokasi di luar kota, seperti Hotel Aston Netsepa yang tidak jauh dari pantai paling terkenal di Pulau Ambon, Pantai Natsepa. Beberapa pilihan hotel di Ambon antara lain (Hotel Aston Netsepa Rp 650.000++), Swiss-Belhotel (Rp 450.000++), Amaris Hotel (Rp 400.000++), Manise Hotel (Rp 350.000++), Amans Hotel (Rp 450.000++), Hotel Amboina (Rp 450.000++). Hotel melati dengan tarif sekitar Rp 150.000 juga banyak tersedia di Ambon. Sebaiknya sesuaikan lokasi hotel dengan pengalaman yang ingin didapat saat memilih tempat menginap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar