Senin, 31 Maret 2014

Meriahnya Pesta Perkawinan Suku Karo

Sepasang pengantin menari di tengah ratusan tamu. Lembaran uang terus mengalir kepada mereka. Semakin menarik goyangan, semakin keras teriakan kepada mereka. Apalagi yang unik di pesta perkawinan suku Karo?

Hari masih terlalu pagi, ketika saya beranjak keluar dari rumah. Saya berjalan menuju ke sebuah rumah kayu, menyusuri jalan berupa bebatuan tanpa aspal. Saya sempat menatap ke arah Gunung Sinabung yang ada di kejauhan sana. Sedikit gumpalan asap tampak keluar dari puncak gunung setinggi 2.460 meter dpl itu. Setelah meletus pada Agustus 2010, Sinabung belum juga kembali tertidur pulas. Pada September 2013, gunung yang menjadi simbol kesuburan wilayah Tanah Karo itu, kembali berkali-kali meletus. Bahkan ia terus batuk-batuk hingga awal 2014 dan menyebabkan hampir 20 ribu penduduk harus mengungsi.

Kali ini saya berada di Tanah Karo, sebuah dataran tinggi di Sumatera Utara, bukan untuk menikmati panorama Gunung Sinabung yang eksotis nan indah. Di Desa Bintang Meriah, sebuah desa kecil di Kecamatan Kutabuluh, Kabupaten Karo, akan berlangsung sebuah pesta adat untuk merayakan perkawinan seorang gadis desa itu yang dipersunting oleh seorang pemuda dari desa tetangga.

Hingga saat ini, suku Karo masih sangat memelihara tata cara dalam menggelar pesta adat perkawinan yang penuh dengan aturan dan tatakrama. Tidak hanya bagi mereka yang tinggal di kampung, masyarakat Karo yang sudah tinggal di kota juga masih biasa melaksanakannya. Namun, melihat langsung acara ini di daerah asalnya tentu memberikan suasana yang sangat berbeda. Apalagi bagi penggemar fotografi yang bakal mendapatkan banyak momen-momen indah untuk dibidik sepanjang acara adat.

Kepergian saya sambil menenteng kamera ke rumah kayu pada pagi yang agak basah itu adalah untuk menyaksikan kedua pengantin yang sedang didandan dengan memakai pakaian adat. Butuh sekitar dua jam untuk merias keduanya di rumah sederhana milik seorang warga itu. Ini karena banyaknya kain tradisional karo dan pernak-pernik yang harus mereka kenakan.

Si pengantin wanita mengenakan kebaya merah dengan bawahan berupa songket Palembang. Ia pun memakai penutup kepala berbentuk unik, yang disebut tudong. Di luar songket, kemudian dililitkan kain tradisional asli Karo berwarna hitam yang dihiasi benang-benang emas. Lalu, selembar kain tradisional lainnya dengan warna merah yang penuh benang mengkilap seperti emas kembali dipasangkan, hingga hanya tinggal sedikit kain hitam tadi terlihat di bagian bawahnya. Seperangkat perhiasan berwarna emas menggantung di penutup kepalanya serta satu lagi menggantung di leher. Semua kombinasi ini semakin menambah cantik si pengantin wanita.

Sedangkan si pengantin pria dibalut oleh setelan lengkap jas hitam. Ia lalu memakai penutup kepala dengan bentuk unik yang terbuat dari bekabuloh, kain tradisional yang khusus untuk lelaki. Satu bekabuloh yang dominan warna merah itu juga digantungkan di lehernya setelah dilipat membentuk segitiga. Satu kain tradisional dari jenis berbeda lainnya menggantung di pundak dan memanjang hingga ke pinggang kirinya. Sama seperti pengantian wanita, si pengantin pria juga memakai sejumlah perhiasan.


Pada pukul sembilan pagi, pengantin pun diarak ke jambur, sebuah bangunan mirip balai rakyat yang ada di setiap desa di Tanah Karo. Jambur biasanya berukuran besar tanpa dinding yang mampu menampung ratusan hingga seribu orang. Jambur digunakan untuk beragam keperluan, mulai dari acara adat, rapat warga, tempat pemilihan kepala desa serta pemiliham umum, dan lain-lain. Pengantin disambut oleh sanak keluarga yang sudah hadir dengan menyiramkan beras. Alunan musik khas Karo pun ikut menyambut mereka saat memasuki jambur.

Acara yang ditunggu-tunggu selanjutnya adalah menyaksikan si pengantin menari di tengah jambur. Mereka akan menari sambil bergantian menyanyikan lagu-lagu daerah yang bertema asmara. Nama marga yang ada di dalam lagu biasanya akan diganti dengan marga yang sesuai dengan pasangannya. Nah, sorak-sorakan dari para tamu akan terdengar ketika si pengantin menyebut marga dalam nyanyiannya itu.

Menari sambil menyanyi ini sudah menjadi keharusan bagi orang karo yang melangsungkan pesta adat perkawinan. Tidak ada kata tidak bisa, malu, atau yang lain. Hanya satu kata, harus! Ini menjadi kebanggaan bagi keluarga saat melihat anak mereka pandai menari dan menyanyi. Mungkin karena belum hapal lagu-lagu mereka, sepasang pengantin di jambur tempat saya berada, tampak menyanyi sambil ‘mencontek’ lirik lagu ke kertas yang mereka bawa.

Tidak lama kemudian, para undangan akan berdiri sambil menyiapkan lembaran-lembaran uang dan kemudian menghampiri pengantin yang terus menyanyi. Tiba-tiba saja saweran membanjiri kedua pasangan yang bak menjadi raja-ratu sehari itu. Tangan mereka penuh dengan uang kertas, sampai banyak yang jatuh ke lantai. Beberapa undangan memberikan saweran sambil menari sebentar dengan si pengantin, untuk menunjukkan rasa bahagia mereka atas perkawinan anggota keluarga mereka itu. Rasa grogi terlihat jelas dari wajah sepasang pengantin itu.

Setelah menyanyikan beberapa lagu, pengantin kemudian menari dengan irama lebih cepat yang disebut dengan odak-odak. Gerakan menari lebih bebas walau tetap berdasarkan gerakan tarian Karo. Tepuk tangan dan sorak-sorakan akan semakin keras terdengar ketika gerakan menari mereka semakin menarik. Bahkan, tidak lama kemudian, sejumlah anggota keluarga akan ikut menari sambil mengelilingi pengantin yang terus menari sampai peluh membasahi tubuh. Yang pasti, selain mendatangkan kegembiraan, pengantin pun mendapatkan uang sawer yang setelah dihitung, jumlahnya mencapai jutaan rupiah.


Acara adat akan terus berlanjut sampai matahari tenggelam di ufuk Barat. Bagi masyarakat Karo, fisik harus benar-benar dipersiapkan untuk tetap bugar selama melangsungkan acara adat ini. Apalagi, pengantin dan keluarga mereka akan lebih banyak berdiri sepanjang hari. Pelaminan sepertinya hanya menjadi pajangan karena sangat jarang diduduki. Mereka lebih banyak berdiri untuk mendengarkan ucapan selamat dan nasihat-nasihat dari sanak saudara yang hadir. Usai memberi ucapan selamat dan nasihat, perwakilan tamu akan memberikan hadiah kain dengan cara menyelendangkannya kepada kedua pengantin.

Urutan untuk memberikan ucapan selamat dan nasihat tersebut sudah memiliki aturan, sesuai hubungan kekerabatan dalam masyarakat Karo. Ada tiga hubungan kekerabatan yang mereka kenal, yakni Kalimbubu, Sembuyak, dan Anak Beru. Peran Kalimbubu mirip komisaris dalam perusahaan, yang harus dihormati dan dilayani oleh direksi (Anak Beru). Sedangkan Sembuyak adalah mereka yang semarga dengan yang punya acara. Tiga hubungan ini sudah tercipta otomatis berdasarkan marga dan hubungan silsilah yang dimiliki setiap orang. Walau seseorang berpangkat tinggi dan kaya-raya, tapi kalau ia adalah Anak Beru dalam satu acara, maka ia harus siap repot dan duduk paling di belakang.

Tidak hanya si pengantin yang memakai pakaian adat. Para tamu yang datang pun demikian. Para tamu perempuan memakai kebaya dengan bawahan berupa kain songket, kemudian memakai kain tradisional lagi di luar songket. Beberapa tamu juga memakai penutup kepala atau tudong, tapi dengan bentuk yang berbeda dengan yang dipakai si pengantin wanita. Sedangkan tamu laki-laki umumnya memakai baju batik sambil membawa kain sarung yang dikalungkan di leher, seperti yang biasa dijumpai pada orang Betawi.


Masyarakat Karo tidak menyebut ulos untuk kain mereka, karena ulos adalah sebutan untuk kain tradisional dari daerah Tapanuli. Suku Karo memiliki banyak nama untuk menyebut setiap kain tradisional mereka yang banyak macamnya tersebut. Coraknya pun tidak sama dengan ulos, walau sulit dibedakan oleh orang dari luar Sumatera Utara.

Sekitar pukul satu siang, acara berlanjut dengan makan siang. Seluruh keluarga yang berperan sebagai Anak Beru segera menyiapkan seluruh sajian makan siang. Salah satu dari mereka akan memberikan komando dengan pengeras suara. Ia tidak pernah berhenti berbicara untuk memastikan segalanya disiapkan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan tamu-tamu lainnya akan tetap duduk di jambur beralaskan tikar.

Tidak ada sistem prasmanan di setiap acara adat yang digelar di Tanah Karo. Mereka yang bertugas sebagai Anak Beru tadi akan membawa seluruh menu makan siang ke dalam jambur. Piring-piring dibawa secara estafet untuk kemudian didistribusikian ke seluruh tamu. Di piring sudah ada sepotong rendang dan lalapan. Begitu piring sudah tersebar seluruhnya, maka giliran nasi dan sayur yang ada di keranjang atau ember untuk dibawa para Anak Beru kepada para tamu. Begitu semuanya sudah beres, maka salah satu Anak Beru akan memimpin doa makan.

Di tengah hiruk-pikuk suasana santap siang ini, pembawa acara akan terus ‘berteriak’ lewat pengeras suara untuk memastikan para tamu mendapatkan apa yang masih kurang. Mereka yang membawa keranjang berisi nasi tambahan akan terus berkeliling menawarkan nasi itu kepada siapa saja. Begitu juga mereka yang membawa ember berisi sayur.

Suasana makan siang ini akan sangat gaduh oleh suara dari pengeras suara dan orang-orang yang hilir mudik untuk membawa apa saja yang masih dibutuhkan para tamu.

Jangan kaget melihat para tamu yang porsi makan mereka begitu banyak. Dibandingkan orang kota, porsi makan masyarakat Karo di pedesaan bisa mencapai tiga kali lipat. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh kebutuhan energi yang harus besar agar mereka sanggup bekerja di ladang atau kebun.


Ada lagi yang unik melihat pesta ada perkawinan Suku Karo. Mereka tidak menggunakan amplop untuk memberikan sumbangan bagi mempelai. Tapi, mereka menulis nama, alamat, dan besarnya uang yang diberikan di buku yang telah disediakan berdasarkan hubungan kekerabatan dengan si pengantin.

Menyaksikan acara adat perkawinan suku Karo langsung di daerahnya sungguh memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Pencinta fotografi budaya atau sosial pasti menemukan banyak sekali angle yang bisa dieksplor. Karena itu, jangan pernah lupa membawa kartu memori yang cukup.


MENUJU TANAH KARO

Pesawat yang melayani rute Jakarta-Medan ada puluhan trip setiap hari. Hampir seluruh maskapai nasional membuka rute ke sana melalu Bandara Kualanamu. Harga tiket pesawat Jakarta-Medan berkisar Rp 500.000-Rp 2.000.000, tergantung waktu dan kelas tempat duduk.

Dari Medan menuju Tanah Karo, bisa ditempuh lewat jalan darat dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Harga sewa mobil sekitar Rp 450.000 perhari (belum termasuk bahan bakar dan tips sopir). Sedangkan tarif naik angkutan umum rute Medan-Kabanjahe sekitar Rp 15.000. Di Terminal Berastagi dan Kabanjahe, juga sudah menunggu angkutan pedesaan yang siap mengantar Anda ke sejumlah tempat di Tanah Karo dengan tarif Rp 5.000-Rp 10.000.

LOSMEN ATAU HOTEL BINTANG
Jangan khawatir kesulitan mencari tempat menginap di Tanah Karo. Tersedia begitu banyak hotel di Berastagi, mulai dari kelas losmen sampai hotel bintang empat. Semua tersebar mulai pusat kota sampai di beberapa lokasi yang menjual pemandangan indah alam Tanah Karo. Tarif kamar permalam berkisar Rp 100.000-Rp 1.000.000, tergantung hotel dan tipe kamar. Di Berastagi juga banyak vila yang bisa disewa dengan harga sekitar Rp 1 juta permalam.

TIPS BERBURU FOTO PESTA ADAT PERKAWINAN KARO
1. Pelajari dulu susunan acara dengan bertanya kepada keluarga mempelai agar tidak ada momen yang terlewat. Catat seluruhnya di selembar kertas dan terus dibawa saat pesta.
2. Datang sehari sebelum acara berlangsung juga akan sangat membantu dalam pengenalan lokasi. Bahkan, Anda bisa mengajak orang setempat ke lokasi acara untuk menjelaskan susunan acara pada keesokan hari.
3. Orang Karo tidak menolak dijadikan objek foto saat prosesi adat berlangsung. Tapi sangat dianjurkan untuk tetap meminta izin dulu. Sopan-santun harus tetap dijaga dimanapun kita berada.
4. Istirahat yang cukup sebelum hari H dan minum vitamin karena Anda akan seharian di tempat pesta digelar dan pasti bakal menguras stamina.
5. Semua jenis kamera bisa dipakai. Tapi, jenis DSLR tentu akan lebih menghasilkan gambar yang berkualitas.
6. Membawa dua DSLR akan sangat membantu. Satu bodi memakai lensa wide, dan satu lagi lensa tele. Tapi, bila hanya membawa satu DSLR, maka gunakan lensa sapu jagat seperti 18-200 mm.

TIPS KE TANAH KARO
1. Walau penduduk Tanah Karo menggunakan bahasa Karo dalam percakapan sehari-hari, namun mereka tetap bisa berbahasa Indonesia. Jangan segan-segan bertanya, karena mereka sangat ramah untuk membantu.
2. Karena berada di dataran tinggi, maka iklim Tanah Karo cukup dingin. Jangan lupa untuk membawa jaket atau baju tebal. Membawa payung juga bisa dipertimbangkan, karena hujan bisa tiba-tiba turun.
3. Listrik sudah ada 24 jam di Tanah Karo. Jadi, jangan khawatir soal mengisi baterai gadget maupun kamera. Kecuali masih mengandalkan baterai sekali pakai. Harap membawa bekal yang cukup, karena sangat sulit mencari baterai alkaline di luar kota.
4. Sangat banyak oleh-oleh yang bisa dibawa dari Tanah Karo maupun Medan. Jangan lupa membawa tas cadangan. Atur semuanya agar tidak melebihi jatah bagasi pesawat gratis yang hanya 20 kg.
Selengkapnya...

Kamis, 27 Maret 2014

Yang Megah di Bandara Kualanamu

Bandara Kualanamu hari ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak ada pemberitaan istimewa dari peresmian ini. Padahal, yang diresmikan oleh Presiden ini disebut-sebut sebagai bandara termegah di Indonesia pada saat ini. Pembangunannya saja menghabiskan duit Rp 5,8 Triliun. Selain itu, Bandara Kualanamu juga selesai dibangun 22 tahun kemudian setelah pencanangannya pada 1992. Lho, kok bisa tidak heboh berita peresmiannya pada hari ini?

Tidak perlu terkejut dengan minimnya pemberitaan peresmian Bandara Kualanamu. Karena peresmian pada hari ini (hanya) merupakan ritual simbolis saja. Kalau meminjam istilah yang biasa dipakai pusat perbelanjaan, hari ini adalah grand openning dari Bandara Kualanamu. Sebab, sebenarnya bandara yang berjarak sekitar 39 km dari pusat Kota Medan ini, sudah dioperasikan sejak 25 Juli 2013. Saat itu, pencanangan mulai beroperasinya bandara yang berlokasi di Kabupaten Deli Serdang ini dilakukan oleh pejabat setingkat menteri saja.

Walau orang Sumatera Utara, saya sendiri baru dua kali menginjakkan kaki di Bandara Kualanamu, yakni saat pergi melihat letusan Gunung Sinabung pada akhir Januari 2014. Sejak mulai dibangun hingga dioperasikan, sebenarnya saya sangat penasaran dengan bandara ini. Bagaimana tidak, bandara ini disebut sangat megah, luas, dan satu-satunya bandara di Indonesia yang teintegrasi dengan jalur kereta api. Bandara Soekarno-Hatta saja yang berada di ibu kota negara, sampai hari ini sangat sulit dihubungkan dengan jalur kereta. Entah mengapa sulit. Tapi, kalau menurut saya, sih, akibat keragu-raguan dan niat yang tidak tulus untuk mewujudkannya.

Saya beruntung punya banyak waktu untuk mengagumi Bandara Kualanamu pada kunjungan pertama. Setidaknya saya memiliki waktu dua jam untuk mengelilinginya sampai jemputan saya tiba. Karena itu, waktu ini saya manfaatkan dengan baik untuk untuk mengelilingi seluruh sudut bandara. Saya melihat ruang pengambilan bagasi, ruang tunggu jemputan, kafe-kafe, ruang check in, toko-toko, dan sebagainya.


Saya akui, Kualanamu memang memberikan pengalaman berbeda kepada siapa saja yang datang. Misalkan saja, tidak ada porter di sini sehingga para penumpang harus mengambil sendiri barang bagasi mereka. Namun, jangan khawatir sulit mendapatkan troli seperti di Bandara Polonia, karena jumlahnya sangat banyak. Ada juga bangku-bangku taman di sejumlah sudut bandara yang dihiasi oleh pohon imitasi setinggi tiga meter.

Yang paling menarik, tidak ada pemeriksaan menuju konter check in, sehingga siapa saja bisa masuk ke dalam terminal bandara terbesar nomor dua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta ini. Kondisi ini yang menyebabkan hingga hari ini banyak orang yang masuk ke bandara hanya sekadar berwisata dan mengagumi kemegahan bandara yang berkode KNO ini. Padahal, di Bandara Soekarno-Hatta saja, hanya pemegang tiket yang dapat masuk ke ruang check in.

Desain terminal Bandara Kualanamu sangat modern dan didominasi rangkaian baja dan kaca, seperti tren bandara di dunia saat ini. Model seperti ini juga membuat bandara menjadi hemat listrik karena sinar matahari bisa masuk dari mana saja.

Yang pasti, segalanya serba luas di bandara ini. Luas seluruh areal Kualanamu mencapai 1.365 hektar. Sedangkan luas terminal yang kini ada, sekitar 6,5 hektar dan dapat menampung 8,1 juta penumpang serta 10.000 pergerakan pesawat per tahun. Ini baru tahap pertama, karena rencananya bakal ada pembangunan tahap-tahap berikutnya.

Tapi, mengapa namanya Kualanamu ya? Padahal, itu hanya nama kampung lokasi bandara ini. Ini sangat berbeda dengan penentuan nama-nama bandara lain di Indonesia yang banyak mengambil nama pahlawan, nama tokoh, nama suku, atau nama-nama lain.

Memang banyak isu yang berkembang mengapa diberi nama Bandara Internasional Kualanamu. Yang paling masuk akal untuk saya adalah, sulit menggunakan nama pahlawan, nama tokoh, atau nama suku asal Sumatera Utara, karena daerah ini dikenal sebagai provinsi multietnis.

Ya, begitulah kesan saya terhadap Bandara Kualanamu. Memang sudah sepantasnya Sumatera Utara dan terutama Kota Medan memiliki bandara baru dan megah seperti saat ini. Sebuah penantian yang sangat lama…


*) Foto-foto oleh Edi Ginting dan diambil menggunakan smartphone
Selengkapnya...

Selasa, 25 Maret 2014

Saat Sakura Mekar di Tokyo

Sakura adalah Jepang dan Jepang adalah sakura. Dan, hanya pada April kita bisa menikmati bunga itu bermekaran di seluruh Jepang.

Sakura merupakan bunga nasional negeri matahari terbit yang ditanam dimana-mana, mulai dari halaman istana, taman, pekarangan rumah dan kantor, hingga ke pinggiran jalan. Sakura menjadi simbol spiritual bagi warga Jepang untuk perumpamaan banyak hal, seperti perempuan dan kehidupan. Sakura juga melambangkan persahabatan, ketika Tokyo menghadiahkan 3.000 pohon sakura untuk Washington DC pada 1912.

Sakura adalah simbol kehidupan yang tidak kekal karena bunga tersebut hanya mampu bertahan mekar dalam beberapa hari saja dan kemudian habis rontok. Bunga yang juga terkenal dengan nama cherry blossom tersebut, tidak bisa dinikmati sepanjang tahun selayaknya bunga-bunga biasa. Ia hanya bermekaran pada musim semi yang biasanya terjadi pada awal hingga akhir April.

Tapi, ada yang unik soal waktu mekarnya sakura. Rupanya, waktunya berbeda di setiap lokasi walau sama-sama bermekaran dalam bulan yang sama. Karena itu, Jepang sudah memiliki peta kapan sakura bermekaran di seluruh penjuru negeri sepanjang April sehingga mereka tahu kemana harus berkunjung untuk menikmatinya. Bahkan, Tokyo mengeluarkan peta khusus yang membuat dimana saja Anda bisa menikmati sakura. Ada begitu banyak taman yang tertulis di dalam peta tersebut. Antara lain, Yoyogi Park, Meguro River, Shinjuku Gyoen, Ayama Bochi, Kitanomaru Park, Eno Park, Sumida Park, dan puluhan tempat lainnya.

Saya sangat beruntung bunga sakura sedang bermekaran ketika punya kesempatan melancong ke ibu kota Jepang. Bunga ini terlihat dimana-mana dan mendominasi di setiap pohon dengan hanya meninggalkan satu-dua daun saja. Kabarnya, daun-daun muda akan bermunculan tatkala seluruh bunga sudah habis rontok. Indah sekali untuk dipandangi. Apalagi, warnanya juga beragam, tergantung jenis spesiesnya. Ada bunga sakura yang berwarna putih kemerahjambuan, kuning muda, hijau muda, merah menyala, dan merah jambu. Namun, yang mendominasi seluruh Jepang adalah warna terakhir. Warna ini dihasilkan oleh pohon sakura jenis Somei Yoshino yang dikembangbiakkan pada 1860-an, ketika masa pemerintahan Keshogunan Tokuhawa yang terkenal dengan istilah zaman Edo.


Bunga sakura yang sudah berguguran terlihat menutupi permukaan tanah di bawah pohonnya. Saya sempat memungut beberapa bunga yang tampak masih segar. Rupanya, sakura merupakan bunga yang sangat lembut dalam sentuhan, dan lebih lembut daripada bunga mawar. Saya juga sempat membawa beberapa kuntum sakura ke Tanah Air yang dipetik dari sebuah cabang pohon yang rendah. Walau sudah mulai layu sesampainya di rumah, namun saya masih bisa memamerkan sakura yang terbungkus plastik itu kepada keluarga.

Musim sakura bermekaran adalah masa dimana Jepang akan memanen begitu banyak turis dari seluruh dunia, dan kali ini saya menjadi salah satunya. Jepang paham sekali bagaimana menjual daya tarik bunga yang menghasilkan buang ceri yang tidak enak dimakan tersebut. Tidak hanya menjadi pohon utama penghijauan, tapi motif sakura menghiasi segala macam benda, mulai dari hiasan di bandara, papan reklame, pakaian, barang eletronik, hingga aneka pernak-pernik yang menjadi oleh-oleh khas Jepang. Padahal, sakura sebenarnya tidak hanya tumbuh di Jepang. Tidak perlu jauh-jauh, sakura juga ada di Taman Cibodas, Puncak, Jawa Barat.

Ketika saya jalan-jalan ke Tokyo Midtown, sebuah kawasan bisnis di Tokyo, saya mendapati begitu banyak sakura memenuhi ranting-ranting pohon di sebuah taman, hingga pohon yang berjajar di pinggir jalan. Sedangkan di sampingnya terdapat sebuah tempat nongkrong luar ruangan yang asyik sekali duduk di sana sambil memandangi sakura yang berwarna putih ke merah-merahan tersebut. Padahal, saat itu suhu Tokyo sekitar 13 derajat celsius. Jaket pun semakin saya rapatkan menutupi tubuh.

Dalam penjelajahan ke Taman Tokyo Midtown yang lokasinya tidak jauh dari Roppongi, pusat hiburan malam Tokyo, saya melihat sejumlah keluarga sedang asyik berekreasi di bawah sejumlah pohon sakura. Ini namanya hanami, atau piknik di bawah sakura. Kegiatan Hanami ini sudah lazim diadakan orang Jepang ketika bunga sakura sedang bermekaran. Ada yang datang berpasangan, namun tidak sedikit yang piknik dengan keluarga besar sambil menggelar alas, lalu duduk santai sambil menikmati makanan yang dibawa.

Orang Jepang juga punya banyak istilah untuk menunjukkan tingkat kemekaran bunga sakura, sama seperti orang Eskimo yang memiliki banyak nama untuk menyebut salju. Ketika sakura mulai akan mekar, orang Jepang memakai istilah ‘kaika’. Saat mulai bermekaran, namanya ‘ichibuzak’. Sedangkan penyebutkan ‘mankai’ adalah untuk sakura yang sudah mekar seluruhnya. Pohon sakura yang bunganya mulai berguguran yang ditandai dengan munculnya daun muda disebut ‘ichibu hazakura’. Sedangkan istilah‘ hazakura’ dipakai untuk pohon sakura yang seluruh bunganya sudah habis jatuh.

Kebetulan saya berada di Tokyo Midtown hingga malam menjemput. Pemandangan lain yang tidak kalah indahnya ditawarkan jejeran bunga sakura di sepanjang tepi jalan taman. Siraman cahaya lampu yang dipasang khusus di sekitar pohon, membuat bunga-bunga tersebut terlihat lebih indah. Saya pun tidak puas-puas untuk memotretnya. Bahkan saya mengelilinginya hingga bebeberapa kali untuk mendapatkan sudut yang pas untuk membidikkan lensa. Entah berapa foto yang saya hasilkan, dan saya baru berhenti ketika saya sadar kalau gerimis mulai turun dari langit Tokyo. Saya pun buru-buru mengakhiri petualangan saya di Taman Tokyo Midtown.


Ketika menatap lanskap Kota Tokyo dari puncak Tokyo Tower yang memiliki ketinggian 333 meter, saya masih melihat sejumlah taman yang dipenuhi Sakura, bermekaran di antara gedung-gedung tinggi pencakar langit. Tokyo Tower adalah menara dari baja yang dibangun pada 1958 dan berlokasi di Taman Shiba. Bentuknya sangat mirip dengan Menara Eiffel, walau lebih tinggi sekitar 10 meter daripada menara kebanggaan Paris itu.

Dari Tokyo Tower, pengunjung bisa memandangi Tokyo dari dua posisi. Pertama, dari lantai main observatory setinggi 150 meter, dan special observatory pada ketinggian 250 meter. Total harga tiket agar bisa sampai ke puncak Tokyo Tower adalah sekitar Rp 142.000. Tokyo Tower menjadi tempat yang paling pas untuk menikmati pemandangan Kota Tokyo yang penuh dengan hutan beton yang seakan berlomba-lomba mencakar langit. Bahkan, kalau Anda beruntung, Gunung Fuji dan Gunung Tsukuba pun dapat terlihat ketika langit sedang cerah. Tidak sia-sia mengeluarkan Rp 142.000 untuk menikmati Tokyo dari ketinggian 250 meter.


Selain ada beberapa kafe di lantai 1F Main observatory, di salah satu sudutnya juga ada bagian lantai yang terbuat dari kaca, yang disebut dengan lookdown window. Berdirilah di atas kaca untuk merasakan sensasi lain. Saya berusaha untuk menumbuhkan keberanian untuk mampu berdiri di kaca tersebut walau rasa gamang langsung timbul begitu menatap ke bawah.

Namun, kini posisi Tokyo Tower sebagai simbol ibu kota negeri sakura ini, telah digantikan oleh Tokyo Skytree, sebuah menara setinggi 666 meter. Pengunjung dapat menatap Tokyo dari ketinggian 450 meter, atau hampir dua kali lipat dari Tokyo Tower. Saya tidak bisa membayangkan, seberapa kecil mobil dan gedung-gedung terlihat dari tower yang dibuka mulai 22 Mei 2012 ini. Tokyo Skytree pun semakin menancapkan Jepang sebagai negara maju dan berteknologi tinggi dunia.

Kesempatan lain yang saya peroleh untuk memuaskan diri menikmati keindahan sakura adalah ketika berada di depan Museum Meiji dan Taman Tokyo Imperial Palace. Di tempat terakhir ini, saya bahkan bisa memegang sakura sepuas-puasnya karena dahannya rendah sekali. Puas menikmati keindahan sakura, saya pun menuju gerbang Istana Kaisar Jepang Akihito di sisi lain Taman Tokyo Imperial Palace.

Untuk sampai ke istana kaisar tersebut, saya harus melewati sebuah taman yang penuh dengan jejeran pohon-pohon pinus yang sudah dibentuk seperti bonsai. Bonsai dalam ukuran lebih besar, tentunya. Di setiap pohon, batang utama dan dahan-dahannya dibentuk agar melengkung kesana-kemari, seperti bentuk tubuh manusia yang sedang menari-nari. Saya terkesima dengan kepiawaian orang Jepang dalam membuat taman ini. Di samping jago menciptakan karya berteknologi tinggi, jiwa seni orang Jepang juga tinggi.

TERBANG MENUJU TOKYO
Hanya Garuda Indonesia yang melayani penerbangan langsung Jakarta-Tokyo-Jakarta. Sedangkan maskapai lain rata-rata transit satu kali dan biasanya bakal berganti pesawat sehingga cukup merepotkan. Harga tiket ke Jakarta-Tokyo sekitar Rp 9 jutaan, tergantung waktu berangkat, dengan lamanya penerbangan Tokyo sekitar delapan jam.

Garuda Indonesia sudah melayani penerbangan ke Jepang selama 51 tahun. Tidak salah kalau maskapai kebanggan nasional ini sudah sangat akrab bagi masyarakat negeri matahari terbit. Tidak hanya menu makanan khas Jepang yang disediakan dalam penerbangan, namun pramugari asal Jepang juga direkrut untuk melayani para penumpang di dalam kabin. Silahkan Anda mempraktekkan Bahasa Jepang Anda dengan mereka sebelum berkeliling Tokyo.


TRANSPORTASI KELILING TOKYO
Tokyo merupakan salah satu kota di dunia yang memiliki jaringan transportasi terbaik. Angkutan utama di kota ini adalah subway atau kereta bawah tanah. Stasiun-stasiunnya menjangkau seluruh kawasan dengan jadwal yang sangat ketat. Bus dan angkutan air juga tersedia walau tidak banyak. Buku kecil penuntun angkutan di Tokyo bisa diperoleh di bandara, atau langsung mengunjungi situs resminya di www.kotsu.metro.tokyo.jp atau www.tokyometro.jp. Ingat selalu jenis kereta dan stasiun berangkat serta tujuan Anda agar tidak tersasar di tengah ratusan stasiun.

Ada beberapa pilihan tiket yang disediakan bila ingin mengelilingi Tokyo. Misalkan saja, Tokyo Metro-Toei one day pass seharga 1.000 yen atau sekitar Rp 100.000. dengan memegang tiket ini, Anda seharian bebas naik kereta jalur Toei Subway maupun Tokyo Metro Line. Yang lebih murah lagi ada tiket Tokyo Metro one-day Pass seharga 710 yen atau sekitar Rp 71.000. Tiket ini hanya berlaku untuk naik kereta jalur Tokyo Metro line mulai kereta pertama sampai terakhir di malam hari. Bila tertarik naik bus, ada Tokyo Shitamachi bus seharga 200 yen atau Rp 20.000 sekali naik, dan melayani sejumlah rute strategis.


MENGINAP DIMANA DI TOKYO

Sebagai pusat politik, bisnis, pendidikan, budaya, dan juga pariwisata, tentu tidak sulit menemukan tempat menginap di Ibu kota jepang ini. Dari hotel bertaburan bintang sampai penginapan biasa, banyak tersedia di ibu kota matahari terbit ini. Lokasi-lokasi hotel terpampang jelas di buku panduan Tokyo yang bisa diperoleh di bandara. Namun, sebaiknya sudah memastikan tempat menginap ketika masih di Indonesia agar tidak kerepotan. Apalagi, harga hotel di Tokyo jauh lebih mahal dibandingkan Jakarta.

Selama di Tokyo, saya menginap di sebuah hotel dari merek dunia di tengah keramaian kawasan Roppongi, salah satu pusat hiburan malam di Tokyo. Kalau di Jakarta, merek itu biasanya termasuk hotel bintang dua yang tarifnya sekitar Rp 400.000 permalam. Sedangkan kamar yang saya pakai ini dibandrol 13.382 yen atau sekitar Rp 1.338.200 permalam dengan ukuran kamar 3x3 meter.


TOKYO TIDAK HANYA SAKURA
Puas ‘perburuan’ bunga sakura di Tokyo, sebaiknya tidak lupa menikmati pesona salah satu kota metropolitan terbesar di dunia ini. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Tokyo, tergantung minat dan selera. Kalau Anda penggemar wisata kuliner, cobalah memanjakan lidah dengan berbagai masakan khas Jepang yang mungkin telah banyak disajikan restoran masakan Jepang di dalam negeri. Tapi, menikmatinya di negeri leluhurnya adalah sebuah pengalaman lain.

Orang Jepang terbiasa berjalan kaki kemana-mana sehingga trotoar di sana sangat lebar. Orang Jepang juga lebih suka naik kendaraan umum, kereta, atau subway untuk bepergian, daripada naik kendaraan pribadi. Selain parkir di Tokyo sangat mahal, harga seleter bensin juga mencapai Rp 11.000. Pengendara mobil juga sangat tertib berlalulintas. Suara klekson sangat jarang terdengar. Ini pemandangan baru bagi orang Indonesia yang terbiasa belum hidup displin.

Selama di Tokyo, saya berkesempatan untuk mengunjungi sejumlah pusat bisnis di sana. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Asakusa, di sebelah timur laut Tokyo. Asakusa adalah lokasi kuil Asakusa Kannon (Asakusa Kannon Temple), kuil tertua di Tokyo. Lentera merah yang besar dan tergantung di atas gerbang menjadi ciri khas Asakusa. Wajib hukumnya untuk berfoto di pintu gerbang tersebut. Saya juga menyusuri Jalan Kaminari-mon, di samping Asakura yang berderet kios oleh-oleh khas Jepang. Sebutan Tokyo sebagai salah satu kota termahal di dunia tampak jelas lokasi ini. Rata-rata harga sebuah gantungan kunci atau tempelan kulkas sekitar 350 yen atau sekitar Rp 35.000.

Tempat lain yang saya kunjungi adalah Omotesando, sebuah tempat belanja kelas atas di Tokyo. Toko-toko berjejer rapi di pinggir pedistrian yang sangat lebar dan sangat nyaman dijelajahi. Sekilas, saya teringat dengan Orchard Road di Singapura saat pertama kali melihat suasana Omotesando.

Harajuku adalah pusat bisnis lain yang selalu ramai dikunjungi pelancong yang sangat terkenal sebagai tempat anak muda Jepang beradu penampilan. Mereka mendominasi Harajuku dengan dandanan mereka yang paling keren, paling aktual, dan terkadang aneh untuk ukuran orang Indonesia. Jangan lewatkan ke Harajuku untuk memanjakan mata dengan kecantikan wanita-wanita muda Jepang.

Bagi pecinta hiburan malam, kawasan Roppongi adalah tempatnya. Roppongi mirip kawasan Mangga Besar Jakarta walau jauh lebih ramai dan eksotis, karena pornografi dilegalkan di Jepang. Sejumlah tempat hiburan malam berserakan di kiri-kanan jalan dan semakin malam semakin ramai dikunjungi . Belakangan saya tahu, klub malam bertebaran di sini karena mayoritas kedutaan besar berada di Roppongi. Hati-hati terbujuk rayu para pegawai tempat hiburan saat berada di Roppongi!
Selengkapnya...