Senin, 31 Maret 2014

Meriahnya Pesta Perkawinan Suku Karo

Sepasang pengantin menari di tengah ratusan tamu. Lembaran uang terus mengalir kepada mereka. Semakin menarik goyangan, semakin keras teriakan kepada mereka. Apalagi yang unik di pesta perkawinan suku Karo?

Hari masih terlalu pagi, ketika saya beranjak keluar dari rumah. Saya berjalan menuju ke sebuah rumah kayu, menyusuri jalan berupa bebatuan tanpa aspal. Saya sempat menatap ke arah Gunung Sinabung yang ada di kejauhan sana. Sedikit gumpalan asap tampak keluar dari puncak gunung setinggi 2.460 meter dpl itu. Setelah meletus pada Agustus 2010, Sinabung belum juga kembali tertidur pulas. Pada September 2013, gunung yang menjadi simbol kesuburan wilayah Tanah Karo itu, kembali berkali-kali meletus. Bahkan ia terus batuk-batuk hingga awal 2014 dan menyebabkan hampir 20 ribu penduduk harus mengungsi.

Kali ini saya berada di Tanah Karo, sebuah dataran tinggi di Sumatera Utara, bukan untuk menikmati panorama Gunung Sinabung yang eksotis nan indah. Di Desa Bintang Meriah, sebuah desa kecil di Kecamatan Kutabuluh, Kabupaten Karo, akan berlangsung sebuah pesta adat untuk merayakan perkawinan seorang gadis desa itu yang dipersunting oleh seorang pemuda dari desa tetangga.

Hingga saat ini, suku Karo masih sangat memelihara tata cara dalam menggelar pesta adat perkawinan yang penuh dengan aturan dan tatakrama. Tidak hanya bagi mereka yang tinggal di kampung, masyarakat Karo yang sudah tinggal di kota juga masih biasa melaksanakannya. Namun, melihat langsung acara ini di daerah asalnya tentu memberikan suasana yang sangat berbeda. Apalagi bagi penggemar fotografi yang bakal mendapatkan banyak momen-momen indah untuk dibidik sepanjang acara adat.

Kepergian saya sambil menenteng kamera ke rumah kayu pada pagi yang agak basah itu adalah untuk menyaksikan kedua pengantin yang sedang didandan dengan memakai pakaian adat. Butuh sekitar dua jam untuk merias keduanya di rumah sederhana milik seorang warga itu. Ini karena banyaknya kain tradisional karo dan pernak-pernik yang harus mereka kenakan.

Si pengantin wanita mengenakan kebaya merah dengan bawahan berupa songket Palembang. Ia pun memakai penutup kepala berbentuk unik, yang disebut tudong. Di luar songket, kemudian dililitkan kain tradisional asli Karo berwarna hitam yang dihiasi benang-benang emas. Lalu, selembar kain tradisional lainnya dengan warna merah yang penuh benang mengkilap seperti emas kembali dipasangkan, hingga hanya tinggal sedikit kain hitam tadi terlihat di bagian bawahnya. Seperangkat perhiasan berwarna emas menggantung di penutup kepalanya serta satu lagi menggantung di leher. Semua kombinasi ini semakin menambah cantik si pengantin wanita.

Sedangkan si pengantin pria dibalut oleh setelan lengkap jas hitam. Ia lalu memakai penutup kepala dengan bentuk unik yang terbuat dari bekabuloh, kain tradisional yang khusus untuk lelaki. Satu bekabuloh yang dominan warna merah itu juga digantungkan di lehernya setelah dilipat membentuk segitiga. Satu kain tradisional dari jenis berbeda lainnya menggantung di pundak dan memanjang hingga ke pinggang kirinya. Sama seperti pengantian wanita, si pengantin pria juga memakai sejumlah perhiasan.


Pada pukul sembilan pagi, pengantin pun diarak ke jambur, sebuah bangunan mirip balai rakyat yang ada di setiap desa di Tanah Karo. Jambur biasanya berukuran besar tanpa dinding yang mampu menampung ratusan hingga seribu orang. Jambur digunakan untuk beragam keperluan, mulai dari acara adat, rapat warga, tempat pemilihan kepala desa serta pemiliham umum, dan lain-lain. Pengantin disambut oleh sanak keluarga yang sudah hadir dengan menyiramkan beras. Alunan musik khas Karo pun ikut menyambut mereka saat memasuki jambur.

Acara yang ditunggu-tunggu selanjutnya adalah menyaksikan si pengantin menari di tengah jambur. Mereka akan menari sambil bergantian menyanyikan lagu-lagu daerah yang bertema asmara. Nama marga yang ada di dalam lagu biasanya akan diganti dengan marga yang sesuai dengan pasangannya. Nah, sorak-sorakan dari para tamu akan terdengar ketika si pengantin menyebut marga dalam nyanyiannya itu.

Menari sambil menyanyi ini sudah menjadi keharusan bagi orang karo yang melangsungkan pesta adat perkawinan. Tidak ada kata tidak bisa, malu, atau yang lain. Hanya satu kata, harus! Ini menjadi kebanggaan bagi keluarga saat melihat anak mereka pandai menari dan menyanyi. Mungkin karena belum hapal lagu-lagu mereka, sepasang pengantin di jambur tempat saya berada, tampak menyanyi sambil ‘mencontek’ lirik lagu ke kertas yang mereka bawa.

Tidak lama kemudian, para undangan akan berdiri sambil menyiapkan lembaran-lembaran uang dan kemudian menghampiri pengantin yang terus menyanyi. Tiba-tiba saja saweran membanjiri kedua pasangan yang bak menjadi raja-ratu sehari itu. Tangan mereka penuh dengan uang kertas, sampai banyak yang jatuh ke lantai. Beberapa undangan memberikan saweran sambil menari sebentar dengan si pengantin, untuk menunjukkan rasa bahagia mereka atas perkawinan anggota keluarga mereka itu. Rasa grogi terlihat jelas dari wajah sepasang pengantin itu.

Setelah menyanyikan beberapa lagu, pengantin kemudian menari dengan irama lebih cepat yang disebut dengan odak-odak. Gerakan menari lebih bebas walau tetap berdasarkan gerakan tarian Karo. Tepuk tangan dan sorak-sorakan akan semakin keras terdengar ketika gerakan menari mereka semakin menarik. Bahkan, tidak lama kemudian, sejumlah anggota keluarga akan ikut menari sambil mengelilingi pengantin yang terus menari sampai peluh membasahi tubuh. Yang pasti, selain mendatangkan kegembiraan, pengantin pun mendapatkan uang sawer yang setelah dihitung, jumlahnya mencapai jutaan rupiah.


Acara adat akan terus berlanjut sampai matahari tenggelam di ufuk Barat. Bagi masyarakat Karo, fisik harus benar-benar dipersiapkan untuk tetap bugar selama melangsungkan acara adat ini. Apalagi, pengantin dan keluarga mereka akan lebih banyak berdiri sepanjang hari. Pelaminan sepertinya hanya menjadi pajangan karena sangat jarang diduduki. Mereka lebih banyak berdiri untuk mendengarkan ucapan selamat dan nasihat-nasihat dari sanak saudara yang hadir. Usai memberi ucapan selamat dan nasihat, perwakilan tamu akan memberikan hadiah kain dengan cara menyelendangkannya kepada kedua pengantin.

Urutan untuk memberikan ucapan selamat dan nasihat tersebut sudah memiliki aturan, sesuai hubungan kekerabatan dalam masyarakat Karo. Ada tiga hubungan kekerabatan yang mereka kenal, yakni Kalimbubu, Sembuyak, dan Anak Beru. Peran Kalimbubu mirip komisaris dalam perusahaan, yang harus dihormati dan dilayani oleh direksi (Anak Beru). Sedangkan Sembuyak adalah mereka yang semarga dengan yang punya acara. Tiga hubungan ini sudah tercipta otomatis berdasarkan marga dan hubungan silsilah yang dimiliki setiap orang. Walau seseorang berpangkat tinggi dan kaya-raya, tapi kalau ia adalah Anak Beru dalam satu acara, maka ia harus siap repot dan duduk paling di belakang.

Tidak hanya si pengantin yang memakai pakaian adat. Para tamu yang datang pun demikian. Para tamu perempuan memakai kebaya dengan bawahan berupa kain songket, kemudian memakai kain tradisional lagi di luar songket. Beberapa tamu juga memakai penutup kepala atau tudong, tapi dengan bentuk yang berbeda dengan yang dipakai si pengantin wanita. Sedangkan tamu laki-laki umumnya memakai baju batik sambil membawa kain sarung yang dikalungkan di leher, seperti yang biasa dijumpai pada orang Betawi.


Masyarakat Karo tidak menyebut ulos untuk kain mereka, karena ulos adalah sebutan untuk kain tradisional dari daerah Tapanuli. Suku Karo memiliki banyak nama untuk menyebut setiap kain tradisional mereka yang banyak macamnya tersebut. Coraknya pun tidak sama dengan ulos, walau sulit dibedakan oleh orang dari luar Sumatera Utara.

Sekitar pukul satu siang, acara berlanjut dengan makan siang. Seluruh keluarga yang berperan sebagai Anak Beru segera menyiapkan seluruh sajian makan siang. Salah satu dari mereka akan memberikan komando dengan pengeras suara. Ia tidak pernah berhenti berbicara untuk memastikan segalanya disiapkan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan tamu-tamu lainnya akan tetap duduk di jambur beralaskan tikar.

Tidak ada sistem prasmanan di setiap acara adat yang digelar di Tanah Karo. Mereka yang bertugas sebagai Anak Beru tadi akan membawa seluruh menu makan siang ke dalam jambur. Piring-piring dibawa secara estafet untuk kemudian didistribusikian ke seluruh tamu. Di piring sudah ada sepotong rendang dan lalapan. Begitu piring sudah tersebar seluruhnya, maka giliran nasi dan sayur yang ada di keranjang atau ember untuk dibawa para Anak Beru kepada para tamu. Begitu semuanya sudah beres, maka salah satu Anak Beru akan memimpin doa makan.

Di tengah hiruk-pikuk suasana santap siang ini, pembawa acara akan terus ‘berteriak’ lewat pengeras suara untuk memastikan para tamu mendapatkan apa yang masih kurang. Mereka yang membawa keranjang berisi nasi tambahan akan terus berkeliling menawarkan nasi itu kepada siapa saja. Begitu juga mereka yang membawa ember berisi sayur.

Suasana makan siang ini akan sangat gaduh oleh suara dari pengeras suara dan orang-orang yang hilir mudik untuk membawa apa saja yang masih dibutuhkan para tamu.

Jangan kaget melihat para tamu yang porsi makan mereka begitu banyak. Dibandingkan orang kota, porsi makan masyarakat Karo di pedesaan bisa mencapai tiga kali lipat. Kondisi ini mungkin disebabkan oleh kebutuhan energi yang harus besar agar mereka sanggup bekerja di ladang atau kebun.


Ada lagi yang unik melihat pesta ada perkawinan Suku Karo. Mereka tidak menggunakan amplop untuk memberikan sumbangan bagi mempelai. Tapi, mereka menulis nama, alamat, dan besarnya uang yang diberikan di buku yang telah disediakan berdasarkan hubungan kekerabatan dengan si pengantin.

Menyaksikan acara adat perkawinan suku Karo langsung di daerahnya sungguh memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Pencinta fotografi budaya atau sosial pasti menemukan banyak sekali angle yang bisa dieksplor. Karena itu, jangan pernah lupa membawa kartu memori yang cukup.


MENUJU TANAH KARO

Pesawat yang melayani rute Jakarta-Medan ada puluhan trip setiap hari. Hampir seluruh maskapai nasional membuka rute ke sana melalu Bandara Kualanamu. Harga tiket pesawat Jakarta-Medan berkisar Rp 500.000-Rp 2.000.000, tergantung waktu dan kelas tempat duduk.

Dari Medan menuju Tanah Karo, bisa ditempuh lewat jalan darat dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Harga sewa mobil sekitar Rp 450.000 perhari (belum termasuk bahan bakar dan tips sopir). Sedangkan tarif naik angkutan umum rute Medan-Kabanjahe sekitar Rp 15.000. Di Terminal Berastagi dan Kabanjahe, juga sudah menunggu angkutan pedesaan yang siap mengantar Anda ke sejumlah tempat di Tanah Karo dengan tarif Rp 5.000-Rp 10.000.

LOSMEN ATAU HOTEL BINTANG
Jangan khawatir kesulitan mencari tempat menginap di Tanah Karo. Tersedia begitu banyak hotel di Berastagi, mulai dari kelas losmen sampai hotel bintang empat. Semua tersebar mulai pusat kota sampai di beberapa lokasi yang menjual pemandangan indah alam Tanah Karo. Tarif kamar permalam berkisar Rp 100.000-Rp 1.000.000, tergantung hotel dan tipe kamar. Di Berastagi juga banyak vila yang bisa disewa dengan harga sekitar Rp 1 juta permalam.

TIPS BERBURU FOTO PESTA ADAT PERKAWINAN KARO
1. Pelajari dulu susunan acara dengan bertanya kepada keluarga mempelai agar tidak ada momen yang terlewat. Catat seluruhnya di selembar kertas dan terus dibawa saat pesta.
2. Datang sehari sebelum acara berlangsung juga akan sangat membantu dalam pengenalan lokasi. Bahkan, Anda bisa mengajak orang setempat ke lokasi acara untuk menjelaskan susunan acara pada keesokan hari.
3. Orang Karo tidak menolak dijadikan objek foto saat prosesi adat berlangsung. Tapi sangat dianjurkan untuk tetap meminta izin dulu. Sopan-santun harus tetap dijaga dimanapun kita berada.
4. Istirahat yang cukup sebelum hari H dan minum vitamin karena Anda akan seharian di tempat pesta digelar dan pasti bakal menguras stamina.
5. Semua jenis kamera bisa dipakai. Tapi, jenis DSLR tentu akan lebih menghasilkan gambar yang berkualitas.
6. Membawa dua DSLR akan sangat membantu. Satu bodi memakai lensa wide, dan satu lagi lensa tele. Tapi, bila hanya membawa satu DSLR, maka gunakan lensa sapu jagat seperti 18-200 mm.

TIPS KE TANAH KARO
1. Walau penduduk Tanah Karo menggunakan bahasa Karo dalam percakapan sehari-hari, namun mereka tetap bisa berbahasa Indonesia. Jangan segan-segan bertanya, karena mereka sangat ramah untuk membantu.
2. Karena berada di dataran tinggi, maka iklim Tanah Karo cukup dingin. Jangan lupa untuk membawa jaket atau baju tebal. Membawa payung juga bisa dipertimbangkan, karena hujan bisa tiba-tiba turun.
3. Listrik sudah ada 24 jam di Tanah Karo. Jadi, jangan khawatir soal mengisi baterai gadget maupun kamera. Kecuali masih mengandalkan baterai sekali pakai. Harap membawa bekal yang cukup, karena sangat sulit mencari baterai alkaline di luar kota.
4. Sangat banyak oleh-oleh yang bisa dibawa dari Tanah Karo maupun Medan. Jangan lupa membawa tas cadangan. Atur semuanya agar tidak melebihi jatah bagasi pesawat gratis yang hanya 20 kg.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar