Selasa, 25 Maret 2014

Saat Sakura Mekar di Tokyo

Sakura adalah Jepang dan Jepang adalah sakura. Dan, hanya pada April kita bisa menikmati bunga itu bermekaran di seluruh Jepang.

Sakura merupakan bunga nasional negeri matahari terbit yang ditanam dimana-mana, mulai dari halaman istana, taman, pekarangan rumah dan kantor, hingga ke pinggiran jalan. Sakura menjadi simbol spiritual bagi warga Jepang untuk perumpamaan banyak hal, seperti perempuan dan kehidupan. Sakura juga melambangkan persahabatan, ketika Tokyo menghadiahkan 3.000 pohon sakura untuk Washington DC pada 1912.

Sakura adalah simbol kehidupan yang tidak kekal karena bunga tersebut hanya mampu bertahan mekar dalam beberapa hari saja dan kemudian habis rontok. Bunga yang juga terkenal dengan nama cherry blossom tersebut, tidak bisa dinikmati sepanjang tahun selayaknya bunga-bunga biasa. Ia hanya bermekaran pada musim semi yang biasanya terjadi pada awal hingga akhir April.

Tapi, ada yang unik soal waktu mekarnya sakura. Rupanya, waktunya berbeda di setiap lokasi walau sama-sama bermekaran dalam bulan yang sama. Karena itu, Jepang sudah memiliki peta kapan sakura bermekaran di seluruh penjuru negeri sepanjang April sehingga mereka tahu kemana harus berkunjung untuk menikmatinya. Bahkan, Tokyo mengeluarkan peta khusus yang membuat dimana saja Anda bisa menikmati sakura. Ada begitu banyak taman yang tertulis di dalam peta tersebut. Antara lain, Yoyogi Park, Meguro River, Shinjuku Gyoen, Ayama Bochi, Kitanomaru Park, Eno Park, Sumida Park, dan puluhan tempat lainnya.

Saya sangat beruntung bunga sakura sedang bermekaran ketika punya kesempatan melancong ke ibu kota Jepang. Bunga ini terlihat dimana-mana dan mendominasi di setiap pohon dengan hanya meninggalkan satu-dua daun saja. Kabarnya, daun-daun muda akan bermunculan tatkala seluruh bunga sudah habis rontok. Indah sekali untuk dipandangi. Apalagi, warnanya juga beragam, tergantung jenis spesiesnya. Ada bunga sakura yang berwarna putih kemerahjambuan, kuning muda, hijau muda, merah menyala, dan merah jambu. Namun, yang mendominasi seluruh Jepang adalah warna terakhir. Warna ini dihasilkan oleh pohon sakura jenis Somei Yoshino yang dikembangbiakkan pada 1860-an, ketika masa pemerintahan Keshogunan Tokuhawa yang terkenal dengan istilah zaman Edo.


Bunga sakura yang sudah berguguran terlihat menutupi permukaan tanah di bawah pohonnya. Saya sempat memungut beberapa bunga yang tampak masih segar. Rupanya, sakura merupakan bunga yang sangat lembut dalam sentuhan, dan lebih lembut daripada bunga mawar. Saya juga sempat membawa beberapa kuntum sakura ke Tanah Air yang dipetik dari sebuah cabang pohon yang rendah. Walau sudah mulai layu sesampainya di rumah, namun saya masih bisa memamerkan sakura yang terbungkus plastik itu kepada keluarga.

Musim sakura bermekaran adalah masa dimana Jepang akan memanen begitu banyak turis dari seluruh dunia, dan kali ini saya menjadi salah satunya. Jepang paham sekali bagaimana menjual daya tarik bunga yang menghasilkan buang ceri yang tidak enak dimakan tersebut. Tidak hanya menjadi pohon utama penghijauan, tapi motif sakura menghiasi segala macam benda, mulai dari hiasan di bandara, papan reklame, pakaian, barang eletronik, hingga aneka pernak-pernik yang menjadi oleh-oleh khas Jepang. Padahal, sakura sebenarnya tidak hanya tumbuh di Jepang. Tidak perlu jauh-jauh, sakura juga ada di Taman Cibodas, Puncak, Jawa Barat.

Ketika saya jalan-jalan ke Tokyo Midtown, sebuah kawasan bisnis di Tokyo, saya mendapati begitu banyak sakura memenuhi ranting-ranting pohon di sebuah taman, hingga pohon yang berjajar di pinggir jalan. Sedangkan di sampingnya terdapat sebuah tempat nongkrong luar ruangan yang asyik sekali duduk di sana sambil memandangi sakura yang berwarna putih ke merah-merahan tersebut. Padahal, saat itu suhu Tokyo sekitar 13 derajat celsius. Jaket pun semakin saya rapatkan menutupi tubuh.

Dalam penjelajahan ke Taman Tokyo Midtown yang lokasinya tidak jauh dari Roppongi, pusat hiburan malam Tokyo, saya melihat sejumlah keluarga sedang asyik berekreasi di bawah sejumlah pohon sakura. Ini namanya hanami, atau piknik di bawah sakura. Kegiatan Hanami ini sudah lazim diadakan orang Jepang ketika bunga sakura sedang bermekaran. Ada yang datang berpasangan, namun tidak sedikit yang piknik dengan keluarga besar sambil menggelar alas, lalu duduk santai sambil menikmati makanan yang dibawa.

Orang Jepang juga punya banyak istilah untuk menunjukkan tingkat kemekaran bunga sakura, sama seperti orang Eskimo yang memiliki banyak nama untuk menyebut salju. Ketika sakura mulai akan mekar, orang Jepang memakai istilah ‘kaika’. Saat mulai bermekaran, namanya ‘ichibuzak’. Sedangkan penyebutkan ‘mankai’ adalah untuk sakura yang sudah mekar seluruhnya. Pohon sakura yang bunganya mulai berguguran yang ditandai dengan munculnya daun muda disebut ‘ichibu hazakura’. Sedangkan istilah‘ hazakura’ dipakai untuk pohon sakura yang seluruh bunganya sudah habis jatuh.

Kebetulan saya berada di Tokyo Midtown hingga malam menjemput. Pemandangan lain yang tidak kalah indahnya ditawarkan jejeran bunga sakura di sepanjang tepi jalan taman. Siraman cahaya lampu yang dipasang khusus di sekitar pohon, membuat bunga-bunga tersebut terlihat lebih indah. Saya pun tidak puas-puas untuk memotretnya. Bahkan saya mengelilinginya hingga bebeberapa kali untuk mendapatkan sudut yang pas untuk membidikkan lensa. Entah berapa foto yang saya hasilkan, dan saya baru berhenti ketika saya sadar kalau gerimis mulai turun dari langit Tokyo. Saya pun buru-buru mengakhiri petualangan saya di Taman Tokyo Midtown.


Ketika menatap lanskap Kota Tokyo dari puncak Tokyo Tower yang memiliki ketinggian 333 meter, saya masih melihat sejumlah taman yang dipenuhi Sakura, bermekaran di antara gedung-gedung tinggi pencakar langit. Tokyo Tower adalah menara dari baja yang dibangun pada 1958 dan berlokasi di Taman Shiba. Bentuknya sangat mirip dengan Menara Eiffel, walau lebih tinggi sekitar 10 meter daripada menara kebanggaan Paris itu.

Dari Tokyo Tower, pengunjung bisa memandangi Tokyo dari dua posisi. Pertama, dari lantai main observatory setinggi 150 meter, dan special observatory pada ketinggian 250 meter. Total harga tiket agar bisa sampai ke puncak Tokyo Tower adalah sekitar Rp 142.000. Tokyo Tower menjadi tempat yang paling pas untuk menikmati pemandangan Kota Tokyo yang penuh dengan hutan beton yang seakan berlomba-lomba mencakar langit. Bahkan, kalau Anda beruntung, Gunung Fuji dan Gunung Tsukuba pun dapat terlihat ketika langit sedang cerah. Tidak sia-sia mengeluarkan Rp 142.000 untuk menikmati Tokyo dari ketinggian 250 meter.


Selain ada beberapa kafe di lantai 1F Main observatory, di salah satu sudutnya juga ada bagian lantai yang terbuat dari kaca, yang disebut dengan lookdown window. Berdirilah di atas kaca untuk merasakan sensasi lain. Saya berusaha untuk menumbuhkan keberanian untuk mampu berdiri di kaca tersebut walau rasa gamang langsung timbul begitu menatap ke bawah.

Namun, kini posisi Tokyo Tower sebagai simbol ibu kota negeri sakura ini, telah digantikan oleh Tokyo Skytree, sebuah menara setinggi 666 meter. Pengunjung dapat menatap Tokyo dari ketinggian 450 meter, atau hampir dua kali lipat dari Tokyo Tower. Saya tidak bisa membayangkan, seberapa kecil mobil dan gedung-gedung terlihat dari tower yang dibuka mulai 22 Mei 2012 ini. Tokyo Skytree pun semakin menancapkan Jepang sebagai negara maju dan berteknologi tinggi dunia.

Kesempatan lain yang saya peroleh untuk memuaskan diri menikmati keindahan sakura adalah ketika berada di depan Museum Meiji dan Taman Tokyo Imperial Palace. Di tempat terakhir ini, saya bahkan bisa memegang sakura sepuas-puasnya karena dahannya rendah sekali. Puas menikmati keindahan sakura, saya pun menuju gerbang Istana Kaisar Jepang Akihito di sisi lain Taman Tokyo Imperial Palace.

Untuk sampai ke istana kaisar tersebut, saya harus melewati sebuah taman yang penuh dengan jejeran pohon-pohon pinus yang sudah dibentuk seperti bonsai. Bonsai dalam ukuran lebih besar, tentunya. Di setiap pohon, batang utama dan dahan-dahannya dibentuk agar melengkung kesana-kemari, seperti bentuk tubuh manusia yang sedang menari-nari. Saya terkesima dengan kepiawaian orang Jepang dalam membuat taman ini. Di samping jago menciptakan karya berteknologi tinggi, jiwa seni orang Jepang juga tinggi.

TERBANG MENUJU TOKYO
Hanya Garuda Indonesia yang melayani penerbangan langsung Jakarta-Tokyo-Jakarta. Sedangkan maskapai lain rata-rata transit satu kali dan biasanya bakal berganti pesawat sehingga cukup merepotkan. Harga tiket ke Jakarta-Tokyo sekitar Rp 9 jutaan, tergantung waktu berangkat, dengan lamanya penerbangan Tokyo sekitar delapan jam.

Garuda Indonesia sudah melayani penerbangan ke Jepang selama 51 tahun. Tidak salah kalau maskapai kebanggan nasional ini sudah sangat akrab bagi masyarakat negeri matahari terbit. Tidak hanya menu makanan khas Jepang yang disediakan dalam penerbangan, namun pramugari asal Jepang juga direkrut untuk melayani para penumpang di dalam kabin. Silahkan Anda mempraktekkan Bahasa Jepang Anda dengan mereka sebelum berkeliling Tokyo.


TRANSPORTASI KELILING TOKYO
Tokyo merupakan salah satu kota di dunia yang memiliki jaringan transportasi terbaik. Angkutan utama di kota ini adalah subway atau kereta bawah tanah. Stasiun-stasiunnya menjangkau seluruh kawasan dengan jadwal yang sangat ketat. Bus dan angkutan air juga tersedia walau tidak banyak. Buku kecil penuntun angkutan di Tokyo bisa diperoleh di bandara, atau langsung mengunjungi situs resminya di www.kotsu.metro.tokyo.jp atau www.tokyometro.jp. Ingat selalu jenis kereta dan stasiun berangkat serta tujuan Anda agar tidak tersasar di tengah ratusan stasiun.

Ada beberapa pilihan tiket yang disediakan bila ingin mengelilingi Tokyo. Misalkan saja, Tokyo Metro-Toei one day pass seharga 1.000 yen atau sekitar Rp 100.000. dengan memegang tiket ini, Anda seharian bebas naik kereta jalur Toei Subway maupun Tokyo Metro Line. Yang lebih murah lagi ada tiket Tokyo Metro one-day Pass seharga 710 yen atau sekitar Rp 71.000. Tiket ini hanya berlaku untuk naik kereta jalur Tokyo Metro line mulai kereta pertama sampai terakhir di malam hari. Bila tertarik naik bus, ada Tokyo Shitamachi bus seharga 200 yen atau Rp 20.000 sekali naik, dan melayani sejumlah rute strategis.


MENGINAP DIMANA DI TOKYO

Sebagai pusat politik, bisnis, pendidikan, budaya, dan juga pariwisata, tentu tidak sulit menemukan tempat menginap di Ibu kota jepang ini. Dari hotel bertaburan bintang sampai penginapan biasa, banyak tersedia di ibu kota matahari terbit ini. Lokasi-lokasi hotel terpampang jelas di buku panduan Tokyo yang bisa diperoleh di bandara. Namun, sebaiknya sudah memastikan tempat menginap ketika masih di Indonesia agar tidak kerepotan. Apalagi, harga hotel di Tokyo jauh lebih mahal dibandingkan Jakarta.

Selama di Tokyo, saya menginap di sebuah hotel dari merek dunia di tengah keramaian kawasan Roppongi, salah satu pusat hiburan malam di Tokyo. Kalau di Jakarta, merek itu biasanya termasuk hotel bintang dua yang tarifnya sekitar Rp 400.000 permalam. Sedangkan kamar yang saya pakai ini dibandrol 13.382 yen atau sekitar Rp 1.338.200 permalam dengan ukuran kamar 3x3 meter.


TOKYO TIDAK HANYA SAKURA
Puas ‘perburuan’ bunga sakura di Tokyo, sebaiknya tidak lupa menikmati pesona salah satu kota metropolitan terbesar di dunia ini. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Tokyo, tergantung minat dan selera. Kalau Anda penggemar wisata kuliner, cobalah memanjakan lidah dengan berbagai masakan khas Jepang yang mungkin telah banyak disajikan restoran masakan Jepang di dalam negeri. Tapi, menikmatinya di negeri leluhurnya adalah sebuah pengalaman lain.

Orang Jepang terbiasa berjalan kaki kemana-mana sehingga trotoar di sana sangat lebar. Orang Jepang juga lebih suka naik kendaraan umum, kereta, atau subway untuk bepergian, daripada naik kendaraan pribadi. Selain parkir di Tokyo sangat mahal, harga seleter bensin juga mencapai Rp 11.000. Pengendara mobil juga sangat tertib berlalulintas. Suara klekson sangat jarang terdengar. Ini pemandangan baru bagi orang Indonesia yang terbiasa belum hidup displin.

Selama di Tokyo, saya berkesempatan untuk mengunjungi sejumlah pusat bisnis di sana. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Asakusa, di sebelah timur laut Tokyo. Asakusa adalah lokasi kuil Asakusa Kannon (Asakusa Kannon Temple), kuil tertua di Tokyo. Lentera merah yang besar dan tergantung di atas gerbang menjadi ciri khas Asakusa. Wajib hukumnya untuk berfoto di pintu gerbang tersebut. Saya juga menyusuri Jalan Kaminari-mon, di samping Asakura yang berderet kios oleh-oleh khas Jepang. Sebutan Tokyo sebagai salah satu kota termahal di dunia tampak jelas lokasi ini. Rata-rata harga sebuah gantungan kunci atau tempelan kulkas sekitar 350 yen atau sekitar Rp 35.000.

Tempat lain yang saya kunjungi adalah Omotesando, sebuah tempat belanja kelas atas di Tokyo. Toko-toko berjejer rapi di pinggir pedistrian yang sangat lebar dan sangat nyaman dijelajahi. Sekilas, saya teringat dengan Orchard Road di Singapura saat pertama kali melihat suasana Omotesando.

Harajuku adalah pusat bisnis lain yang selalu ramai dikunjungi pelancong yang sangat terkenal sebagai tempat anak muda Jepang beradu penampilan. Mereka mendominasi Harajuku dengan dandanan mereka yang paling keren, paling aktual, dan terkadang aneh untuk ukuran orang Indonesia. Jangan lewatkan ke Harajuku untuk memanjakan mata dengan kecantikan wanita-wanita muda Jepang.

Bagi pecinta hiburan malam, kawasan Roppongi adalah tempatnya. Roppongi mirip kawasan Mangga Besar Jakarta walau jauh lebih ramai dan eksotis, karena pornografi dilegalkan di Jepang. Sejumlah tempat hiburan malam berserakan di kiri-kanan jalan dan semakin malam semakin ramai dikunjungi . Belakangan saya tahu, klub malam bertebaran di sini karena mayoritas kedutaan besar berada di Roppongi. Hati-hati terbujuk rayu para pegawai tempat hiburan saat berada di Roppongi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar