Kamis, 27 Maret 2014

Yang Megah di Bandara Kualanamu

Bandara Kualanamu hari ini diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak ada pemberitaan istimewa dari peresmian ini. Padahal, yang diresmikan oleh Presiden ini disebut-sebut sebagai bandara termegah di Indonesia pada saat ini. Pembangunannya saja menghabiskan duit Rp 5,8 Triliun. Selain itu, Bandara Kualanamu juga selesai dibangun 22 tahun kemudian setelah pencanangannya pada 1992. Lho, kok bisa tidak heboh berita peresmiannya pada hari ini?

Tidak perlu terkejut dengan minimnya pemberitaan peresmian Bandara Kualanamu. Karena peresmian pada hari ini (hanya) merupakan ritual simbolis saja. Kalau meminjam istilah yang biasa dipakai pusat perbelanjaan, hari ini adalah grand openning dari Bandara Kualanamu. Sebab, sebenarnya bandara yang berjarak sekitar 39 km dari pusat Kota Medan ini, sudah dioperasikan sejak 25 Juli 2013. Saat itu, pencanangan mulai beroperasinya bandara yang berlokasi di Kabupaten Deli Serdang ini dilakukan oleh pejabat setingkat menteri saja.

Walau orang Sumatera Utara, saya sendiri baru dua kali menginjakkan kaki di Bandara Kualanamu, yakni saat pergi melihat letusan Gunung Sinabung pada akhir Januari 2014. Sejak mulai dibangun hingga dioperasikan, sebenarnya saya sangat penasaran dengan bandara ini. Bagaimana tidak, bandara ini disebut sangat megah, luas, dan satu-satunya bandara di Indonesia yang teintegrasi dengan jalur kereta api. Bandara Soekarno-Hatta saja yang berada di ibu kota negara, sampai hari ini sangat sulit dihubungkan dengan jalur kereta. Entah mengapa sulit. Tapi, kalau menurut saya, sih, akibat keragu-raguan dan niat yang tidak tulus untuk mewujudkannya.

Saya beruntung punya banyak waktu untuk mengagumi Bandara Kualanamu pada kunjungan pertama. Setidaknya saya memiliki waktu dua jam untuk mengelilinginya sampai jemputan saya tiba. Karena itu, waktu ini saya manfaatkan dengan baik untuk untuk mengelilingi seluruh sudut bandara. Saya melihat ruang pengambilan bagasi, ruang tunggu jemputan, kafe-kafe, ruang check in, toko-toko, dan sebagainya.


Saya akui, Kualanamu memang memberikan pengalaman berbeda kepada siapa saja yang datang. Misalkan saja, tidak ada porter di sini sehingga para penumpang harus mengambil sendiri barang bagasi mereka. Namun, jangan khawatir sulit mendapatkan troli seperti di Bandara Polonia, karena jumlahnya sangat banyak. Ada juga bangku-bangku taman di sejumlah sudut bandara yang dihiasi oleh pohon imitasi setinggi tiga meter.

Yang paling menarik, tidak ada pemeriksaan menuju konter check in, sehingga siapa saja bisa masuk ke dalam terminal bandara terbesar nomor dua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta ini. Kondisi ini yang menyebabkan hingga hari ini banyak orang yang masuk ke bandara hanya sekadar berwisata dan mengagumi kemegahan bandara yang berkode KNO ini. Padahal, di Bandara Soekarno-Hatta saja, hanya pemegang tiket yang dapat masuk ke ruang check in.

Desain terminal Bandara Kualanamu sangat modern dan didominasi rangkaian baja dan kaca, seperti tren bandara di dunia saat ini. Model seperti ini juga membuat bandara menjadi hemat listrik karena sinar matahari bisa masuk dari mana saja.

Yang pasti, segalanya serba luas di bandara ini. Luas seluruh areal Kualanamu mencapai 1.365 hektar. Sedangkan luas terminal yang kini ada, sekitar 6,5 hektar dan dapat menampung 8,1 juta penumpang serta 10.000 pergerakan pesawat per tahun. Ini baru tahap pertama, karena rencananya bakal ada pembangunan tahap-tahap berikutnya.

Tapi, mengapa namanya Kualanamu ya? Padahal, itu hanya nama kampung lokasi bandara ini. Ini sangat berbeda dengan penentuan nama-nama bandara lain di Indonesia yang banyak mengambil nama pahlawan, nama tokoh, nama suku, atau nama-nama lain.

Memang banyak isu yang berkembang mengapa diberi nama Bandara Internasional Kualanamu. Yang paling masuk akal untuk saya adalah, sulit menggunakan nama pahlawan, nama tokoh, atau nama suku asal Sumatera Utara, karena daerah ini dikenal sebagai provinsi multietnis.

Ya, begitulah kesan saya terhadap Bandara Kualanamu. Memang sudah sepantasnya Sumatera Utara dan terutama Kota Medan memiliki bandara baru dan megah seperti saat ini. Sebuah penantian yang sangat lama…


*) Foto-foto oleh Edi Ginting dan diambil menggunakan smartphone

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar