Jumat, 18 April 2014

Rute Menantang Kabanjahe-Kutacane

Kali ini saya berbagi cerita mengenai perjalanan menuju perbatasan Sumatera Utara dengan Aceh yang berada di Kabupaten Karo. Saya melewati jalur Kabanjahe-Kutacane yang membentang hampir 100 km. Jalur ini merupakan akses utama menuju Kabupaten Aceh Tenggara yang berpusat di Kota Kutacane. Masyarakat kabupaten ini sejak dulu memang lebih banyak bepergian ke Kota Medan daripada ke Banda Aceh karena letaknya yang lebih dekat ke Sumatera Utara.

Untuk menempuh Medan-kutacane, dibutuhkan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam. Ada banyak angkutan umum melayani rute ini yang menggunakan jenis kendaraan Mitsubishi Colt. Tarif angkutan ini sekitar Rp 60 ribu untuk sekali jalan. Waktu keberangkatan pun beragam, mulai pagi, siang, atau malam. Banyak orang yang memilih berangkat malam untuk menghindari panas. Namun, banyak juga yang memilih berangkat siang karena khawatir dengan kondisi di jalan. Lho, memang ada apa?

Saya pun mencoba mencari tahu jawabannya dengan menjelajahi sebagian jalur menuju Kutacane tersebut. Dari Medan, saya menggunakan kendaraan roda empat sampai keDesa Perbesi di Tanah Karo. Nah, saya lalu menggunakan sepeda motor dari Desa Perbesi yang dikemudikan oleh seorang ‘sahabat’.

Jalur Medan-Kabanjahe relatif mulus dengan pemandangan yang menyegarkan berupa kawasan hutan Pegunungan Bukit Barisan. Ada beberapa badan jalan yang rusak, namun tidak terlalu mengganggu. Sepertinya, jalur ini memang rutin mendapatkan perawatan sehingga kerusakannya tidak pernah terlalu parah. Jarak Medan-Kabanjahe sekitar 70 KM dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam.

Petualangan yang sebenarnya baru dirasakan saat keluar dari Kabanjahe dan menyusuri jalan raya menuju arah Kutacane. Badan jalan yang berbelok-belok dengan lebar yang hanya pas untuk dua kendaraan, mulai rusak-rusak. Lubang ada dimana-mana dan kendaraan harus berjalan zigzag agar mencari badan jalan yang relatif masih ‘mulus’. Perbaikan sebenarnya sudah dilakukan dibeberapa bagian, namun apalah artinya bila kerusakan jalan di ruas lain begitu parahnya.


Kerusakan seperti ini terjadi hingga ke perbatasan Tanah Karo dengan Aceh Tenggara. Entah mengapa perbaikan begitu sulit dilakukan. Padahal, jalur ini adalah jalan utama yang menghubungkan dua provinsi. Karena kerusakan seakan tidak pernah diatasi dengan tuntas, maka Aceh Tenggara pernah menawarkan untuk ikut membantu perbaikannya. Ini seharusnya sangat memalukan Pemerintah Tanah Karo dan juga Sumatera Utara.

Perjalanan yang sekitar tiga jam menuju perbatasan dengan Aceh Tenggara terasa begitu melelahkan. Sepeda motor yang saya naiki harus berjalan pelan di sebagian besar ruas jalan yang sangat rusak. Saya membayangkan kendaraan roda empat yang tentu harus lebih lambat lagi berjalan dibandingkan saya. Tidak heran kalau banyak truk yang mogok karena mengalami kerusakan pada roda. Kalau sudah bertemu dengan truk mogok, maka perjalanan pun akan semakin lama. Pasalnya, truk mogok di tengah jalan karena tidak sempat dibawa ke pinggir jalan.

Setelah merasakan sendiri kondisi jalan yang betapa rusak dengan medan yang berbelok-belok dan naik turun bukit ini, maka saya menjadi tahu mengapa banyak orang menghindari jalur ini pada malam hari. Kondisi jalan yang berbelok-belok dengan jurang yang menganga di pinggir jalan, tentu lebih berbahaya pada malam hari. Bila telat memutar kemudi atau lengah sedikit saja, maka bersiaplah masuk ke jurang yang sangat dalam.

Andai saja jalur Kabanjahe-Kutacane dipelihara sangat baik, sepertinya bisa menjadi daya tarik yang luar biasa dan menjadi kebanggaan Tanah Karo. Pemandangan yang menakjubkan sepanjang jalur Tigabinanga hingga perbatasan Aceh Tenggara tentu bisa dikelola menjadi objek wisata yang mendatangkan pemasukan bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Entah kapan peluang ini dilihat mereka yang duduk di kursi kekuasangan sana…

Berikut sejumlah foto hasil jepretan saya selama menjelajahi rute Kabanjahe-Kutacane:

Selengkapnya...

Jumat, 11 April 2014

Membidik Jokowi Pemilik Baju Kotak-Kotak

Saat melihat-lihat tumpukan foto-foto di komputer, saya menemukan sejumlah foto Joko Widodo. Rupanya, saya pernah memotretnya dalam sebuah kesempatan. Saat itu, Jokowi datang ke redaksi Metro TV saat musim kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta masih berlangsung. Bahkan, Jokowi masih memakai kemeja kotak-kotak dalam foto-foto tersebut. Ya, kemeja kotak-kotak memang menjadi ‘baju kebesaran’ pasangan Joko Widodo –Basuki Tjahaja Purnama saat bertarung di Pemilukada DKI.

Saya memotret Jokowi dengan menggunakan kamera smartphone, ketika ia sedang diwawancarai oleh seorang reporter di halaman tengah Metro TV. Saat itu, Jokowi sedang memaparkan program kerja dia kalau terpilih menjadi Gubernur, lengkap dengan menunjukkan kartu sehat dan kartu pintar yang bakal menjadi program utamanya.

Saat musim kampanye, pasangan Jokowi-Ahok memang sering bertandang ke Metro TV. Situasi ini berubah 180 derajat ketika mereka sudah terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Mereka sepertinya sudah sangat jarang datang. Mungkin karena sibuk mengurusi Ibu Kota dengan segala permasalahannya.

Seingat saya, Jokowi baru dua kali ke Metro TV setelah menjadi gubernur. Yang pertama adalah ketika mendampingi Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjadi narasumber program Mata Najwa. Yang kedua adalah pada acara Live Event Pemilu 2014. Setahu saja, Jokowi memang bersikap untuk menghindari kunjungan ke media-media begitu terpilih menjadi gubernur.

Kini, Jokowi kembali ramai diberitakan karena ia menjadi calon Presiden dari PDIP. Akanlah mantan Wali Kota Solo tersebut akan kembali sering datang ke redaksi Metro TV? Dugaan saya, iya. Kita lihat saja…

Selengkapnya...

Rabu, 09 April 2014

Ini Jaman Demokrasi Narsis

Hari ini Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan. Sekitar 180 juta penduduk negeri ini diberikan hak untuk memberikan suara hari ini untuk memilih para anggota legislatif yang akan duduk di DPD, DPR, DPR provinsi, dan DPR kabupaten/kota. Ada hampir 50 TPS yang disediakan bagi mereka di seluruh Indonesia.

Salah satu penduduk yang mendapatkan hak untuk mencoblos adalah saya. Berdasarkan surat undangan yang diberikan, saya bisa mencoblos di TPS 08 yang berlokasi di sebuah gedung SD tidak jauh dari rumah. Beberapa hari lalu, saya masih belum punya niat untuk memberikan suara alias memilih untuk Golput. Tapi, pikiran ini berubah dua hari lalu.

Tidak ada alasan khusus mengapa saya akhirnya menggunakan hak memilih. Bahkan, tidak ada caleg alias calon legislatif yang saya unggulkan di daerah pemilihan saya. Memang ada beberapa nama yang saya kenal, tapi saya tidak berharap juga mereka untuk terpilih. Terpilih ya bagus, tidak terpilih juga tidak masalah untuk saya. Saya pun tidak mencoblos nama mereka saat berada di bilik suara.

Saya tiba di TPS sekitar pukul 09.00 bersama istri dan anak. Rupanya, TPS tempat saya mencoblos ini berada di satu ruang kelas. Bangku dan meja yang biasanya dipakai belajar oleh murid-murid SD di sini, sudah diatur sedemikian rupa sehingga ada tempat untuk petugas pemilih, tempat mencoblos, tempat kotak suara, meja pendaftaran, dan jejeran bangku untuk para pemilih, dan tentu saja meja untuk menempatkan tinta.

Beberapa petugas pun saya kenal. Ada ketua RT saya, mantan ketua RT, dan beberapa pengurus RW. Bahkan, petugas yang menjaga meja tinta adalah salah satu satpam di komplek rumah. Karena itu, suasana sangat cair di ruang kelas yang berubah menjadi TPS ini. Saya beberapa kali mencandai mereka, termasuk bertanya mengenai siapa yang harus saya coblos. Tentu mereka tidak berani menjawab dengan menyebut nama partai atau nama caleg tertentu.


Cukup lama saya berada di bilik suara sampai akhirnya sangat yakin untuk mencoblos di setiap kertas suara yang saya pegang. Saya kemudian berjalan ke kotak suara. Nah, ini yang menarik. Saya meminta petugas penjaga kotak suara yang kebetulan adalah mantan ketua RT saya untuk mengambil foto momen saya memasukkan kertas kertas suara ke kotak suara. Saya menyerahkan handpone milik saya mengajarinya cara memotret dalam beberapa detik. “Seperti pejabat saja,” kata istri yang sudah terlebih dahulu memasukkan seluruh kertas suara ke kotak suara.

Usai memasukkan semua kertas suara, saya pun menuju meja tempat tinta berada. Saya mencelupkan jari kelingking kiri ke dalam tinta, sambil mengajak ngobrol Said, petugas tinta yang sehari-sehari adalah penjaga keamanan di komplek rumah. Tidak lupa saya memotret tinta dalam beberapa angle.


Pada jaman yang serba terkoneksi ini, sepertinya memang sudah sangat umum untuk memperlihatkan foto-foto kegiatan apapun yang dilakukan. Foto-foto pun tersebut langsung disebar lewat sejumlah jejaring sosial. Ini juga terjadi pada Pemilu 2014. Lihat saja, dalam waktu sekejab berbagai foto mengenai kegiatan pencoblosan sudah bertebaran di Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sejumlah media sosial lain.

Saya pun punya julukan untuk fenomena ini. Kalau jaman Soekarno disebut Demokrasi Terpimpin, jaman Soeharto disebut Demokrasi Pura-Pura, maka saat ini adalah jaman Demokrasi Narsis.

Dan, saya termasuk di dalamnya. Saya memotret berbagai objek di seputar TPS dan kemudian menyebarkannya di jejaring sosial yang saya ikuti.

Selamat memilih, Indonesia!
Selengkapnya...

Rabu, 02 April 2014

Kemana saja, Jenderal?

Lama tidak terdengar beritanya, tiba-tiba saja Jenderal Polisi berbintang satu itu muncul di depanku. Memang beberapa kali aku bertanya-tanya, kemana gerangan anggota Polri yang sempat sangat tenar pada tahun 2000-an awal tersebut. Terakhir, aku mengetahuinya menjadi seorang Kapolda di Pulau Sulawesi. Setelah itu, ia sepertinya tenggelam bagai batu yang jatuh ke danau.

Ia muncul ketika aku sedang duduk-duduk dengan dua orang Pamen Polri di sebuah restoran di bilangan Jakarta Selatan. Kami membahas banyak hal, mulai hal-hal yang tidak penting sampai kasus lumayan berat yang sedang dihadapi kedua perwira menengah polisi itu. Sang Jenderal tersebut duduk di kursi empuk yang ada di hadapan saya. Kami pun segera larut dalam beragam pembicaraan.

“Siapa yang tidak kenal Jenderal ini pada awal tahun 2000. Semua wartawan pasti berusaha mengenalnya, karena semua kasus besar dipegang Jenderal,” celetuk saya.

Rupanya, celetukan saya tersebut mampu memancing sang Jenderal untuk kembali bernostalgia. Ia pun banyak bercerita mengenai kejadian-kejadian yang pernah ia hadapi tatkala menjadi direktur reserse dan kriminal di Polda Metro Jaya.

Salah satu cerita yang paling menarik adalah bagaimana ia dan para kepala satuan di bawah kendalinya, merancang program ‘liburan bersama’ kalau sedang penat dengan pekerjaan. Tujuan ‘liburan bersama’ ini pun beragam, mulai ke Bali, Singapura, Hongkong, dan sejumlah tempat lain. Tentu saja acara ini dibungkus dengan embel-embel ‘melakukan penyelidikan’.

“Wah, sama dong dengan komandan yang ini,” kataku sambil menunjuk salah satu perwira menengah yang duduk di kiriku.

Semua tertawa.

Kami pun membahas mengenai sebuah kasus yang kini sedang membuat pusing kesatuan kedua Pamen yang duduk bersama saya. Sang Jenderal pun memberikan masukan yang dulu juga sering ia praktekkan.

“Sebelum sidang dimulai, anggota harus menguasai seluruh bangku pengunjung. Tidak boleh ada bangku yang dikuasai pendukung terdakwa. Perintahkan anggota untuk duduk rapi sampai sidang selesai. Ini penting untuk memberi pesan kepada hakim dan jaksa agar mereka tidak takut kepada terdakwa, apalagi berani macam-macam,” begitu pesan sang Jenderal yang dulu ikut mengungkap sejumlah kasus bom tersebut.

Hampir 15 menit sang Jenderal tersebut bergabung dengan kami. Tidak lama berselang, ia pun pamit pergi.

“Sukses selalu, Jenderal!,” kata saya sambil menyalaminya.
Selengkapnya...