Rabu, 09 April 2014

Ini Jaman Demokrasi Narsis

Hari ini Indonesia menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan. Sekitar 180 juta penduduk negeri ini diberikan hak untuk memberikan suara hari ini untuk memilih para anggota legislatif yang akan duduk di DPD, DPR, DPR provinsi, dan DPR kabupaten/kota. Ada hampir 50 TPS yang disediakan bagi mereka di seluruh Indonesia.

Salah satu penduduk yang mendapatkan hak untuk mencoblos adalah saya. Berdasarkan surat undangan yang diberikan, saya bisa mencoblos di TPS 08 yang berlokasi di sebuah gedung SD tidak jauh dari rumah. Beberapa hari lalu, saya masih belum punya niat untuk memberikan suara alias memilih untuk Golput. Tapi, pikiran ini berubah dua hari lalu.

Tidak ada alasan khusus mengapa saya akhirnya menggunakan hak memilih. Bahkan, tidak ada caleg alias calon legislatif yang saya unggulkan di daerah pemilihan saya. Memang ada beberapa nama yang saya kenal, tapi saya tidak berharap juga mereka untuk terpilih. Terpilih ya bagus, tidak terpilih juga tidak masalah untuk saya. Saya pun tidak mencoblos nama mereka saat berada di bilik suara.

Saya tiba di TPS sekitar pukul 09.00 bersama istri dan anak. Rupanya, TPS tempat saya mencoblos ini berada di satu ruang kelas. Bangku dan meja yang biasanya dipakai belajar oleh murid-murid SD di sini, sudah diatur sedemikian rupa sehingga ada tempat untuk petugas pemilih, tempat mencoblos, tempat kotak suara, meja pendaftaran, dan jejeran bangku untuk para pemilih, dan tentu saja meja untuk menempatkan tinta.

Beberapa petugas pun saya kenal. Ada ketua RT saya, mantan ketua RT, dan beberapa pengurus RW. Bahkan, petugas yang menjaga meja tinta adalah salah satu satpam di komplek rumah. Karena itu, suasana sangat cair di ruang kelas yang berubah menjadi TPS ini. Saya beberapa kali mencandai mereka, termasuk bertanya mengenai siapa yang harus saya coblos. Tentu mereka tidak berani menjawab dengan menyebut nama partai atau nama caleg tertentu.


Cukup lama saya berada di bilik suara sampai akhirnya sangat yakin untuk mencoblos di setiap kertas suara yang saya pegang. Saya kemudian berjalan ke kotak suara. Nah, ini yang menarik. Saya meminta petugas penjaga kotak suara yang kebetulan adalah mantan ketua RT saya untuk mengambil foto momen saya memasukkan kertas kertas suara ke kotak suara. Saya menyerahkan handpone milik saya mengajarinya cara memotret dalam beberapa detik. “Seperti pejabat saja,” kata istri yang sudah terlebih dahulu memasukkan seluruh kertas suara ke kotak suara.

Usai memasukkan semua kertas suara, saya pun menuju meja tempat tinta berada. Saya mencelupkan jari kelingking kiri ke dalam tinta, sambil mengajak ngobrol Said, petugas tinta yang sehari-sehari adalah penjaga keamanan di komplek rumah. Tidak lupa saya memotret tinta dalam beberapa angle.


Pada jaman yang serba terkoneksi ini, sepertinya memang sudah sangat umum untuk memperlihatkan foto-foto kegiatan apapun yang dilakukan. Foto-foto pun tersebut langsung disebar lewat sejumlah jejaring sosial. Ini juga terjadi pada Pemilu 2014. Lihat saja, dalam waktu sekejab berbagai foto mengenai kegiatan pencoblosan sudah bertebaran di Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sejumlah media sosial lain.

Saya pun punya julukan untuk fenomena ini. Kalau jaman Soekarno disebut Demokrasi Terpimpin, jaman Soeharto disebut Demokrasi Pura-Pura, maka saat ini adalah jaman Demokrasi Narsis.

Dan, saya termasuk di dalamnya. Saya memotret berbagai objek di seputar TPS dan kemudian menyebarkannya di jejaring sosial yang saya ikuti.

Selamat memilih, Indonesia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar