Rabu, 02 April 2014

Kemana saja, Jenderal?

Lama tidak terdengar beritanya, tiba-tiba saja Jenderal Polisi berbintang satu itu muncul di depanku. Memang beberapa kali aku bertanya-tanya, kemana gerangan anggota Polri yang sempat sangat tenar pada tahun 2000-an awal tersebut. Terakhir, aku mengetahuinya menjadi seorang Kapolda di Pulau Sulawesi. Setelah itu, ia sepertinya tenggelam bagai batu yang jatuh ke danau.

Ia muncul ketika aku sedang duduk-duduk dengan dua orang Pamen Polri di sebuah restoran di bilangan Jakarta Selatan. Kami membahas banyak hal, mulai hal-hal yang tidak penting sampai kasus lumayan berat yang sedang dihadapi kedua perwira menengah polisi itu. Sang Jenderal tersebut duduk di kursi empuk yang ada di hadapan saya. Kami pun segera larut dalam beragam pembicaraan.

“Siapa yang tidak kenal Jenderal ini pada awal tahun 2000. Semua wartawan pasti berusaha mengenalnya, karena semua kasus besar dipegang Jenderal,” celetuk saya.

Rupanya, celetukan saya tersebut mampu memancing sang Jenderal untuk kembali bernostalgia. Ia pun banyak bercerita mengenai kejadian-kejadian yang pernah ia hadapi tatkala menjadi direktur reserse dan kriminal di Polda Metro Jaya.

Salah satu cerita yang paling menarik adalah bagaimana ia dan para kepala satuan di bawah kendalinya, merancang program ‘liburan bersama’ kalau sedang penat dengan pekerjaan. Tujuan ‘liburan bersama’ ini pun beragam, mulai ke Bali, Singapura, Hongkong, dan sejumlah tempat lain. Tentu saja acara ini dibungkus dengan embel-embel ‘melakukan penyelidikan’.

“Wah, sama dong dengan komandan yang ini,” kataku sambil menunjuk salah satu perwira menengah yang duduk di kiriku.

Semua tertawa.

Kami pun membahas mengenai sebuah kasus yang kini sedang membuat pusing kesatuan kedua Pamen yang duduk bersama saya. Sang Jenderal pun memberikan masukan yang dulu juga sering ia praktekkan.

“Sebelum sidang dimulai, anggota harus menguasai seluruh bangku pengunjung. Tidak boleh ada bangku yang dikuasai pendukung terdakwa. Perintahkan anggota untuk duduk rapi sampai sidang selesai. Ini penting untuk memberi pesan kepada hakim dan jaksa agar mereka tidak takut kepada terdakwa, apalagi berani macam-macam,” begitu pesan sang Jenderal yang dulu ikut mengungkap sejumlah kasus bom tersebut.

Hampir 15 menit sang Jenderal tersebut bergabung dengan kami. Tidak lama berselang, ia pun pamit pergi.

“Sukses selalu, Jenderal!,” kata saya sambil menyalaminya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar