Rabu, 07 Mei 2014

Bahaya di Zona Merah Sinabung

Sinabung belum juga tertidur lagi. Ia terus batuk-batuk dan menyebabkan ribuan penduduk tetap mengungsi. Desa mereka pun bagai desa mati.

Larangan untuk memasuki kawasan berbahaya di sekitar Gunung Sinabung semakin diperketat, ketika 16 orang meninggal dunia akibat disapu awan panas pada Sabtu siang, 1 Februari 2014. Mereka menjadi korban ketika berada di red zone atau zona merah Gunung Sinabung di sekitar Desa Sukameriah, Kecamatan Payung. Kawasan ini masuk dalam radius 2 km dari Sinabung yang sangat berbahaya.

Zona merah di pinggiran Desa Sukameriah ini merupakan salah satu tepi ‘lidah’ luncuran erupsi material Sinabung. Memang, tempat tersebut menjadi lokasi yang pas untuk menikmati dampak dari dahsyatnya letusan sinabung. Anehnya, penjagaan relatif longgar sehingga siapapun bisa memasuki kawasan tersebut dari simpang Desa Gurukinayan. Simpang tersebut baru ditutup dan dijaga ketat setelah erupsi besar 1 Februari itu.

Erupsi besar 1 Februari terjadi beberapa hari setelah saya datang ka Tanah Karo. Saat berada di dataran tinggi di Sumatera Utara yang terkenal sebagai penghasil buah-buahan dan sayur-mayur itu, saya sempat mencuri-curi waktu untuk bisa melihat langsung beberapa dampak letusan Sinabung. Bersama beberapa teman, saya mendatangi sejumlah lokasi yang terkena dampak paling besar. Saya pun memberanikan diri untuk menantang bahaya masuk ke kawasan berbahaya Gunung Sinabung. Saya berani karena pergi dengan sejumlah orang yang sepertinya sudah paham suasana di sana, walau sebenarnya tidak seorangpun bisa prediksi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.

Lokasi pertama yang saya datangi adalah kawasan Lau Kawar, sebuah danau kecil di lereng Gunung Sinabung. Lau Kawar yang masuk ke Desa Kutagugung, Kecamatan Naman Teran ini, masuk dalam zona berbahaya karena masuk ke dalam radius 2 km dari Sinabung. Pada kondisi normal, Lau Kawar adalah sebuah tempat wisata di Tanah Karo. Alamnya indah dengan kawasan hutan bercampur perkebunan rakyat. Saya terakhir ke Lau Kawar pada 2009.

Walau sangat dekat dengan Sinabung, Lau Kawar tidak begitu parah terkena dampak letusan. Rupanya, posisinya yang berada di sebelah Timur gunung berapi itu, membuat Lau Kawar lolos dari terjangan debu maupun material vulkanik lain yang lebih sering ke arah Tenggara atau Selatan. Daun-daun di sekitar Lau Kawar hanya sedikit tertutupi debu vulkanik, mirip seperti debu yang menempel di furnitur karena lama tidak dibersihkan.

Puas berada di tepi danau, saya lalu naik ke lereng gunung di samping Lau Kawar untuk melihat tim Kementerian ESDM yang sedang memeriksa alat-alat pemantau gunung. Alat-alat itu dipasang untuk memantau setiap aktifitas Sinabung yang terhubung ke kantor pusat pengendali di Kabanjahe, Ibu Kota Kabupaten Karo. Peralatan itu ditanam di sekitar perkebunan jeruk dan cabai yang masih terlihat hijau.


Dari tempat itu, saya dapat menatap dengan jelas ke puncak Sinabung yang tidak henti-hentinya mengeluarkan abu vulkanik. Jarak saya ke puncak gunung serasa begitu dekatnya sehingga Sinabung tampak hanya berupa gundukan bukit kecil saja. Dari menatap ke puncak gunung, saya menggeser badan ke arah sebaliknya. Di sana, tampak Danau Lau Kawar yang ada di bawah saya lengkap dengan hijaunya hutan yang mengelilinginya.

Saat menuju ke Danau Lau Kawar dari arah Berastagi, sebuah kota wisata di Tanah Karo, saya melewati sejumlah desa yang tampaknya habis tertutup debu vulkanik. Seperti Desa Gamber, Simacem, dan Sigarang-garang. Yang paling parah adalah Desa Sigarang-garang, karena semua rumah di sana terlihat berwarna seragam, abu-abu. Ya, desa berpenduduk sekitar 1.500 jiwa ini, berkali-kali terkena hujan abu vulkanik sehingga seluruh warganya pun harus mengungsi. Sigarang-garang pun bagai desa mati. Memasuki desa ini hanya disambung anjing yang menggonggong, atau kucing yang kelaparan.

Desa Sigarang-garang adalah salah satu desa dari 15 desa yang tetap harus dikosongkan akibat lokasinya yang sangat dekat dengan Sinabung. Jumlah desa ini menurun dibandingkan saat puncak erupsi Sinabung terjadi pada awal 2014, karena ada 32 desa yang ditinggal pergi penduduknya. Saat itu, sekitar 32.000 pengungsi terpaksa tinggal di 45 lokasi. Ada warga yang terpaksa tinggal di pengungsian selama berbulan-bulan lantaran situasi Sinabung yang terus tidak menentu.


Saya melihat debu vulkanik yang menghujani kawasan ini bukanlah debu biasa. Debu tersebut akan menjadi lumpur kalau kena air. Saat kering, ia tidak akan kembali menjadi debu, tapi lumpur kering dan menempel di benda apapun. Karena itu, banyak atap rumah yang kemudian menjadi rusak karena tidak kuat menahan debu yang sudah berubah seperti lumpur kering tersebut. Begitu juga dengan tanaman yang semua dahannya merunduk karena beratnya lumpur kering menempel di setiap daun, dahan, dan semua pemohonan.

Ada pemandangan menarik yang sama temui di beberapa desa mati saat menuju Danau Lau Kawar. Daun-daun muda bermunculan diantara tumpukan lumpur vulkanik. Daun muda yang berwarna sangat hijau itu pun terlihat sangat bersih dan eksotis di tengah lumpur vulkanik yang menempel dimana-mana. Sejumlah bunga warna-warni pun mekar dari pohon yang tertutup lumpur vulkanik. Indah sekali melihat warna tunggal bunga itu yang kontras dengan sekelilingnya yang nyaris berwarna seragam, warna abu-abu.

ZONA MERAH SINABUNG
Pengalaman paling berkesan saat berada di Tanah Karo adalah ketika saya nekat menantang bahaya untuk memasuki red zone atau zona merah Gunung Sinabung. Zona ini adalah kawasan yang menjadi lokasi luncuran material erupsi Sinabung. Kawasan ini penuh dengan material debu, batu, udara yang lumayan panas. Berada di zona ini seperti sedang berada di planet lain.
Saya memasuki kawasan red zone yang pertama dari Desa Bekerah. Walau ini kawasan sangat terlarang untuk dimasuki, tapi saya tidak melihat upaya larangan itu. Tidak ada penjagaan maupun tanda-tanda larangan untuk masuk. Saya sangat bebas masuk ke sana melalui Desa Bekerah yang sudah menjadi desa mati.

Harusnya jalan yang saya lewati tembus ke Desa Sukameriah. Namun, jalan akhirnya terputus oleh longsoran materiak vulkanik. Cuaca sangat terik saat saya turun dari mobil yang saya tumpangi bersama beberapa teman, tiba di ujung jalan yang terputus. Saya lihat jam, rupanya baru pukul 14.25 WIB. Saya pun berjalan memasuki ‘lidah’ erupsi Sinabung. Saya lihat Agus, pengemudi mobil yang saya tumpangi, memutar kepala mobil ke arah kami datang. Dalam perjalanan, kami memang sempat diskusi untuk selalu mengantisipasi bisa segera menjauh dari red zone Sinabung ini, bila muncul segala sesuatu yang membahayakan.



Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan ada di depan saya saat saya sudah melangkah lima meter. Puncak Sinabung terlihat sangat dekat. Ingin rasanya berlari ke puncak sana. Tapi, keinginan itu segera sirna begitu mendengar suara gemuruh dari arah gunung. Sulit melukiskan bagaimana bentuk suara itu. Kira-kira mirip seperti air mendidih di dalam panci yang terus berusaha menekan tutupnya.

Yang lebih menyeramkan lagi, batu-batu terlihat terus berjatuhan dari lereng gunung yang tampak berwarna hitam pekat. Sepertinya, warna hitam itu adalah lava yang sudah padam. Bisa jadi, warnanya sebenarnya merah menyala kalau ditatap pada malam hari. Tapi, siapa juga yang berani datang ke tempat saya berdiri ini pada malam hari.

Saya berada di hamparan abu vulkanik yang sangat tebal, mungkin setebal 20 cm. Batu-batu berbagai ukuran juga ada di mana-mana. Bahkan ada yang sampai seukuran mobil minibus. Semuanya keluar dari dalam perut Sinabung. Betapa dahsyatnya letusan dan erupsi gunung setinggi 2.460 meter di atas permukaan laut ini. Tampak asap putih keluar dari sela-sela beberapa batu yang sebagian terbenam di dalam abu vulkanik. Saya menduga, asap itu berasal dari lava yang belum mendingin.

Saya berada di tempat yang sangat berbahaya ini sekitar 40 menit. Saya seperti sedang berada di planet lain yang sangat gersang dan panas, serta hanya ada abu dan batu. Angin puting beliung kecil pun sering terlihat. Angin yang membawa debu ini berputar-putar sangat tinggi, seakan sedang menari-nari. Saya dan teman-teman bergegas pergi ketika angin dengan ukuran lebih besar, terbang menuju ke arah kami. Kami pun tiba di mobil dengan tubuh yang penuh debu.

Pada kesempatan lain, saya melakukan perjalanan ke Desa Gurukinayan di sebelah Barat Sinabung. Salah satu desa terpadat di Tanah Karo ini, masuk dalam zona berbahaya karena berjarak tidak sampai 3 km dari Sinabung. Gurukinayan sangat lama menjadi desa mati karena seluruh penduduknya mengungsi. Tidak ada seorang pun di sini kecuali saya dan beberapa rekan yang sengaja mampir ke desa berpenduduk sekitar 2.000 jiwa ini.

Jalan utama Desa Gurukinayan membentang sangat lurus di tengah desa. Panjangnya sekitar dua kilometer yang di kiri-kanannya penuh dengan rumah dan bangunan lain, termasuk beberapa rumah adat dari kayu. Ketika berdiri di tengah jalan dan menatap lurus ke salah satu ujung jalan, saya teringat dengan adegan di film-film koboi. Penduduk kota tiba-tiba berlarian dan bersembunyi di dalam rumah ketika muncul seorang koboi lengkap dengan senapan. Si koboi lalu berjalan menyusuri jalan kota yang lurus itu sambil merasakan ada banyak mata yang mengawasinya dari dalam setiap rumah.

Begitulah yang saya rasakan saat berjalan di tengah Desa Gurukinayan yang sudah tertimbun abu vulkanik setebal 20 cm. Tidak ada seorang warganya pun terlihat. Tidak ada juga deru suara kendaraan. Yang terdengar hanya suara longlongan anjing. Ya, rupanya penduduknya banyak meninggalkan anjing piaraan mereka di rumah. Mungkin sebagai penjaga rumah. Banyak juga dijumpai kucing-kucing yang berkeliaran di sekitar perkampungan ini. Binatang ini segera melahap habis biskuit yang dilemparkan ke mereka.


Dari Gurukinayan, saya melanjutkan perjalanan terus naik mendekati Sinabung. Saya melewati Desa Sukameriah, sebuah desa kecil dengan penduduk sekitar 400 jiwa. Sukameriah ini adalah terdekat dengan Sinabung. Dampaknya pun lebih dahsyat daripada apa yang terlihat di Gurukinayan. Debu vulkanik sangat tebal menutupi permukiman dan areal perkebunan di desa ini. Nyaris seluruh tanaman pun sudah berwarna abu-abu.

Pemandangan miris semakin terlihat tatkala saya dan teman-teman terus bergerak menyusuri jalan yang melewati Desa Sukameriah. Tanaman di kiri-kanan jalan aspal yang kini sudah ditutupi debu setebal belasan sentimeter itu terlihat nyaris tumbang karena menahan berat debu yang sudah mengeras. Semakin menanjak, , pemandangan ini berganti perlahan-perlahan dengan pemandangan pepohonan kering tanpa menyisakan selembarpun daun di rantingnya. Sepertinya saya semakin dekat saja dengan puncak Sinabung.

Tiba-tiba mobil yang kami naiki sampai di ujung jalan. Di depan terhampar padang abu vulkanik dengan batu-batu berserakan. Rupanya kami telah tiba di ujung ‘lidah’ luncuran material letusan Sinabung di sebelah Barat. Saya tidak sabar untuk segera turun dari mobil. “Hati-hati ke sana! Jangan injak debu, tapi berjalan dengan menginjak batu! Debu di sini tidak hanya dalam, tapi masih panas,” kata Dickson Pelawi, rekan dari Berastagi yang turut menemani kami.

Begitu turun dari mobil, saya memperhatikan kondisi di sekeliling. Tampaknya, suasana di sini jauh lebih parah daripada di red zone Sinabung dari sisi Desa Bekerah. Pohon jeruk yang ada di kiri-kanan jalan sudah tidak memiliki daun-daun. Begitu pun sejumlah pohon besar yang ada di sekitarnya. Hanya tinggal ranting-ranting. Sepertinya awan panas dari Sinabung telah mengeringkan seluruh pepohonan. Bukan hanya awan panas, debu vulkanik juga sangat tebal di sini. Di tepi jalan saja sudah mencapai 30 cm.

Begitu sudah memasuki ‘lidah’ luncuran material Sinabung, debu rupanya jauh lebih tebal. Benar apa kata Dickson yang memperingatkan untuk tidak menginjak debu saat memasuki kawasan ini. Kaki saya sempat begitu dalam masuk ke dalam debu. Dan, ternyata memang panas seperti yang diperingatkan Dickson. Karena itu, saya pun menjadi sangat berharti-hati berjalan. Saya melompat dari satu batu ke batu lain untuk menuju ke tengah zona merah ini.

Saya hanya berani ‘berjalan’ sampai sekitar 10 meter ke tengah ‘lidah’ luncuran erupsi Sinabung. Rasa takut timbul di dalam diri ini saat mendengar suara gemuruh di atas puncak Sinabung yang tak pernah berhenti. Dapur magma gunung tersebut tampaknya terus mendidih. Awan putih bercampur dengan awan berwarna abu-abu pun selalu terbang tinggi. Yang warna putih mungkin berasal dari mendidihnya dapur magma gunung, sedangkan yang berwarna abu-abu sudah pasti debu vulkanik yang beterbangan.

Saya pun menatap ke arah Selatan dimana hamparan sebagian alam Tanah Karo terlihat jelas. Ada perkampungan, perkebunan, dan terlihat kendaraan yang melaju di jalan berbelok-belok. Saya juga dapat melihat dengan jelas gradasi debu vulkanik dari yang paling tebal sampai ke tempat yang tidak terkena debu. Di ujung sana, terlihat hamparan perkebunan yang masih sangat hijau. Seharusnya, begitulah seluruh alam Tanah Karo yang subur ini, kalau saja Sinabung tidak batuk-batuk.

Sekitar 30 menit berada di kawasan zona merah Sinabung di sebelah Desa Sukameriah, saya dan teman-teman pun beranjak pulang. Kami tidak berani berlama-lama di sini, karena tidak ada yang bisa memprediksi apa yang terjadi di atas gunung. Yang pasti, seminggu kemudian, 14 orang tewas di tempat saya berada ini, karena terkena debu panas Sinabung…

Menuju Tanah Karo

Pesawat yang melayani rute Jakarta-Medan ada puluhan trip setiap hari. Hampir seluruh maskapai nasional membuka rute ke sana melalu Bandara Kualanamu. Harga tiket pesawat Jakarta-Medan berkisar Rp 500.000-Rp 2.000.000, tergantung waktu dan kelas tempat duduk.

Dari Medan menuju Tanah Karo, bisa ditempuh lewat jalan darat dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Harga sewa mobil sekitar Rp 450.000 perhari (belum termasuk bahan bakar dan tips sopir). Sedangkan tarif naik angkutan umum rute Medan-Kabanjahe sekitar Rp 15.000. Di Terminal Berastagi dan Kabanjahe, juga sudah menunggu angkutan pedesaan yang siap mengantar Anda ke sejumlah tempat di Tanah Karo dengan tarif Rp 5.000-Rp 10.000.

Losmen atau Hotel Bintang
Jangan khawatir kesulitan mencari tempat menginap di Tanah Karo. Tersedia begitu banyak hotel di Berastagi, mulai dari kelas losmen sampai hotel bintang empat. Semua tersebar mulai pusat kota sampai di beberapa lokasi yang menjual pemandangan indah alam Tanah Karo. Tarif kamar permalam berkisar Rp 100.000-Rp 1.000.000, tergantung hotel dan tipe kamar. Di Berastagi juga banyak vila yang bisa disewa dengan harga sekitar Rp 1 juta permalam.

Tips ke Tanah Karo
Walau penduduk Tanah Karo menggunakan bahasa Karo dalam percakapan sehari-hari, namun mereka tetap bisa berbahasa Indonesia. Jangan segan-segan bertanya, karena mereka sangat ramah untuk membantu.
Karena berada di dataran tinggi, maka iklim Tanah Karo cukup dingin. Jangan lupa untuk membawa jaket atau baju tebal. Membawa payung juga bisa dipertimbangkan, karena hujan bisa tiba-tiba turun.
Listrik sudah ada 24 jam di Tanah Karo. Jadi, jangan khawatir soal mengisi baterai gadget maupun kamera. Kecuali masih mengandalkan baterai sekali pakai. Harap membawa bekal yang cukup, karena sangat sulit mencari baterai alkaline di luar kota.
Sangat banyak oleh-oleh yang bisa dibawa dari Tanah Karo maupun Medan. Jangan lupa membawa tas cadangan. Atur semuanya agar tidak melebihi jatah bagasi pesawat gratis yang hanya 20 kg.

Tips ke Sinabung
Jangan masuk ke kawasan berbahaya.
Pakailah pakaian berwarna agar mudah terlihat.
Minta izinlah untuk masuk ke desa-desa sepi agar tidak dituduh hendak mencuri.
Bawa masker yang cukup
Bawa makanan dan minuman yang cukup karena sulit mendapatkannya di desa yang sudah sepi.
Pikirkan untuk sewa mobil 4x4 bila mau ke kawasan dengan medan berat.
Bawa pemandu orang lokal untuk memudahkan komunikasi dan paham medan.


1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus