Jumat, 06 Juni 2014

Tentang Gubernur Riau dan Keluarganya

Sebuah berita di harian Kompas edisi Kamis, 5 Juni 2014, menarik perhatian saya. Berita berjudul ‘Anak Gubernur Terpilih’ tersebut adalah headline utama di halaman 21 harian milik Kompas Gramedia ini. Berita ini mengulas mengenai terpilihnya Erianda Maamun sebagai Wakil Bupati Rokan Hilir, Riau.

Saya tertarik dengan berita ini karena orang yang beruntung menjadi wakil bupati tersebut tidak lain adalah anak kandung dari Annas Maamun. Siapa dia? Annas adalah Gubernur Riau yang baru terpilih akhir 2013 lalu. Sebelum menjadi Gubernur, Annas adalah Bupati Rokan Hilir. Karena terpilih menjadi orang nomor satu di Riau, maka otomatis kursi bupati menjadi milik sang Wakil Bupati Suyatno. Jadi kesimpulannya adalah anak mantan sang Bupati terpilih untuk menjadi wakil kepala daerah di kabupaten yang sebelumnya dipimpin ayahnya sendiri.


Dalam berita Kompas ini, disebutkan kalau terpilihnya Erianda Maamun yang berumur 38 tahun itu memang sudah diprediksi. Erianda yang seorang PNS di Dinas Pekerjaan Umum Rokan Hilir, meraup 30 suara dari 34 anggota DPRD yang menghadiri Rapat Paripurna DPRD Rokan Hilir pada Selasa, 3 Juni 2014. Erianda unggul dari lawannya yang (hanya) satu orang, yakni Karmila Sari, anggota DPRD setempat dari Partai Golkar.

Berita ini menarik perhatian saya karena pada pemilihan gubernur Riau, November 2013 lalu, saya turut menjadi saksi terpilihnya Annas Maamun sebagai Gubernur Riau. Saya berada di Bagansiapiapi, Ibu Kota Rokan Hilir, selama beberapa hari hingga hari pencoblosan. Bahkan, saya menyaksikan Annas Maamun mencoblos di sebuah lapangan antara kantor bupati dan rumah dinas bupati.

Saya juga menyaksikan Annas dan timnya menonton acara Live Event Quick Qount Pemilihan Gubernur Riau yang ditayangkan Metro TV sejak pukul 13.00 sampai 15.00 WIB. Saya masih ingat sekali bagaimana kemeriahan di lapangan tersebut ketika hasil hitung cepat memperlihatkan Annas mengungguli lawannya.


Selama di Rokan Hilir, saya pun beberapa kali berkesempatan untuk berdialog dengan Annas Maamun. Dari yang sebelumnya tidak kenal, maka saya pun menjadi tahu siapa dan bagaimana sosok Annas yang memulai karir sebagai guru ini. Ia memang pintar berkata-kata. Ucapannya begitu menyakinkan. Tidak heran kalau dua kali ia terpilih menjadi Bupati Rokan Hilir.

Saya yakini, Annas yang kini berusia 74 tahun ini, memang seorang politisi yang begitu lihai dengan pengaruh yang tidak bisa dianggap enteng. Tidak heran kalau jabatan Ketua DPD Partai Golkar Riau pun ia pegang. Lho? Kalau ia petinggi Partai Golkar, mengapa orang Golkar bisa kalah di pemilihan wakil bupati Rokan Hilir tadi? Mmm….

Baiklah. Saya akan mengutip dua paragraf di berita Kompas yang menarik perhatian saya tadi.

Terpilihnya Erianda melengkapi kisah nepotisme Gubernur yang dilantik 19 Februari 2014 itu. Hingga saat ini, 3 anak kandung, 1 menantu, dan 1 adik iparnya sudah diangkat menjadi pejabat di lingkungan pemprov Riau.

Di jalur politik, Annas, yang juga Ketua DPD partai Golkar Riau, meloloskan anak kandungnya, Mirza Noor, menjadi anggota DPRD Riau dari Partai Golkar. Adik Kandung Annas, Tabrani Maamun, juga terpilih menjadi anggota DPR dari Partai Golkar dari daerah pemilihan Rokan Hilir. Mirza disebut-sebut bakal menjabat Ketua DPRD Riau periode 2014-2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar