Jumat, 21 Agustus 2015

Ketika Mereka Mengudara di CNN Indonesia

Di atas adalah sebuah foto yang belakangan ini menyebar di sejumlah media sosial. Foto ini memperlihatkan mereka yang menjadi presenter di CNN Indonesia, sebuah stasiun televisi baru yang resmi mulai mengudara sejak 17 Agustus 2015.

Ada yang menarik perhatian saya saat melihat foto ini. Dari 13 wajah yang ada di foto ini, saya mengenal beberapa di antara mereka. Tujuh orang malah pernah sekantor dengan saya. Ya, hampir 50 persen!

Kita lihat satu-satu. Kita mulai dari kanan saja, karena kanan katanya berarti bersih dan mulia, walau saya tidak sependapat juga dengan ungkapan ini.

Yang berdiri di barisan paling kanan adalah Hera F Haryn. Saya cukup kaget juga saat mengetahui ia kini berlabuh di CNN Indonesia, karena sebelumnya ia menjadi salah satu presenter andalan di Bloomberg TV Indonesia. Saya mengenal wanita berdarah Aceh yang lama tinggal di Medan ini, ketika mengawali karir sebagai jurnalis di Metro TV sekitar 2007. Saat itu, kami berada di program sama, yakni Metro Realitas. Dengan gaya khasnya, Hera sangat memberi warna di program bergenre penelusuran dan investigasi itu. Namun, kebersamaan kami harus berakhir ketika Hera keluar dari Metro TV untuk meraih pujaan hatinya. Pasti muncul kebingungan Anda ketika membaca kalimat terakhir saya tadi. Maaf, saya memang sengaja membuatnya demikian.

Kita masuk ke wajah kedua yang saya kenal di foto ini. Wanita di samping Hera F Haryn yang tampak di foto ini adalah Putri Ayuningtyas. Sebelumnya, wanita yang sering dipanggil Putay ini, merupakan seorang presenter di Metro TV. Kalau saya tidak salah, Hera dan Putri satu angkatan masuk ke Metro TV. Dari yang awalnya reporter biasa, Putri kemudian menjadi pembaca berita mulai sekitar 2009. Putri sempat menjadi presenter di sejumlah program unggulan di Metro TV, seperti Metro Malam, Metro Pagi, Metro Hari Ini, Primetime News, Kupas Ketujuh, dan sebagainya.

Masih yang berdiri, tampak di foto adalah Prabu Revolusi di baris kelima. Prabu Revolusi juga pernah menjadi presenter berita di Metro TV. Sejumlah program yang pernah ia gawangi antara lain 811, Metro Pagi, dan Metro Siang. Ia keluar dari Metro TV sekitar 2013 dan kemudian bergabung dengan RTV. Kini, Prabu yang juga pernah menjadi presenter berita di Trans TV ini, bergabung dengan CNN Indonesia.

Di sebelang kanan Prabu adalah Indra Maulana. Bagi Anda yang sering menonton tayangan berita di Metro TV, pasti mengenal sosok pria ini. Indra adalah salah satu presenter berita di Metro TV yang selalu muncul di berbagai peristiwa besar dan penting. Indra yang mengawali karir di Metro TV sebagai reporter di Biro Surabaya ini, juga dipercaya menjadi presenter di sejumlah program utama di jam utama, seperti program Metro Hari ini dan Primetime News.

Berikutnya, perempuan di sebelah kanan Indra Maulana adalah Eva Julianti. Wanita ini bergabung menjadi presenter berita di Metro TV sekitar 2007. Sejumlah program pernah ia bawakan, seperti Metro Siang, Metro Hari ini, Forum Indonesia, dan sebagainya. Bahkan, Eva pun pernah menjadi presenter di program Metro Realitas ketika saya menjadi produser di sana. Sebelum bergabung di Metro TV, Eva bekerja di SCTV sebagai reporter dan presenter berita. Saat itu, ia memakai nama Eva Yunizar di layar. Bagi penggemar program Buser di Liputan 6 SCTV di awal-awal tahun 2000-an, pasti tidak asing dengan perempuan ini. Kabarnya, Eva kembali memakai nama lamanya ini di CNN Indonesia.

Perempuan di samping Eva Julianti yang duduk di sandaran kursi adalah Frida Lidwina. Wanita langsing semampai ini, sempat bergabung sebagai presenter berita di Metro TV sejak 2004. Frida sangat menguasai isu-isu ekonomi, sehingga ia lebih sering membawakan berita-berita ekonomi di layar Metro TV. Namun, sejumlah program berita lain juga pernah ia bawakan, seperti Indonesia Now, Headline News, Suara Anda, Metro Malam, World News, dan sebagainya.

Terakhir, dari empat orang yang duduk di kursi di dalam foto, ada satu orang yang juga pernah bekerja di Metro TV. Namanya Desi Anwar, yang duduk nomor dua dari kiri. Desi Anwar bisa jadi adalah sebuah legenda. Namanya sangat terkenal di awal-awal era program berita di televisi swasta. Desi Anwar dulunya menjadi seorang presenter berita di Seputar Indonesia RCTI. Ia punya gaya yang sangat khas ketika tampil dan kemudian menjadi inspirasi bagi para pembaca berita yang lebih junior. Desi Anwar kemudian ikut membidani lahirnya Metro TV, stasiun televisi berita pertama di Indonesia. Hampir 15 tahun di Metro TV, perempuan yang masih hidup sendiri ini, lantas ikut menelurkan CNN Indonesia.

Itulah tujuh wajah yang saya kenal di dalam foto para presenter CNN Indonesia yang kini banyak beredar di media sosial. Sebetulnya, ada wajah lain yang saya kenal dan tahu latar belakang mereka, tapi kami belum pernah berinteraksi secara langsung.

Selamat berkarya untuk teman-teman semua di tempat baru. Sukses untuk Anda semua...
Selengkapnya...

Selasa, 18 Agustus 2015

Hunting Foto di Pantai Anyer

Sebagai orang yang paling bahagia bersama laut dan pantai, maka Pantai Anyer adalah lokasi yang paling pas tatkala rasa rindu menghampiri. Lokasinya hanya sekitar 100 KM dari Jakarta yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam ke arah Merak, Banten.

Ada banyak lokasi pantai yang bisa disinggahi di sepanjang kawasan Pantai Anyer. Karateristik pantai pun bisa dipilih sesuka hati. Mulai dari yang berpantai pasir, penuh batu karang, atau campuran keduanya. Bagi saya yang hobi motret di pantai, tentu saja yang paling asyik adalah kawasan pantai yang ada pantai pasir dan batu karangnya.

Berikut ini adalah beberapa foto hasil jepretan saja ketika menghabiskan satu akhir pekan di kawasan Pantai Anyer. Saya dan keluarga menginap di Pisita Cottage, yang lokasinya tidak jauh begitu keluar dari kawasan Cilegon. Cottage ini memiliki pantai pribadi yang menarik sebagai spot memotret. Tidak percaya? Ini buktinya...










Selengkapnya...

Senin, 17 Agustus 2015

Upacara 17 Agustus di Pulau Terluar Indonesia

Mengikuti upacara hari kemerdekaan 17 Agustus di Istana Negara mungkin suatu kebanggan. Tapi, ikut upacara di pulau-pulau terluar yang menjadi pagar negeri ini, menjadi sebuah pengalaman yang lebih membanggakan. Sebab, tidak mudah untuk mencapai pulau-pulau terluar dari kota terdekat. Selain jarak yang jauh, juga harus menghadapi ombak yang ganas ketika berangkat ke sana. Belum lagi sarana transportasi yang serba terbatas.

Karena itu, saya bangga pernah beberapa kali merasakan betapa hikmatnya upacara hari kemerdekaan di sejumlah pulau terluar. Saya pernah mengikuti upacara 17 Agustus di Pulau Marore di Sulawesi Utara, Pulau Kisar di Maluku, Pulau Morotai di Maluku Utara, Pulau Lingayan di Sulawesi Tengah, dan Pulau Weh di Aceh. Semuanya adalah pulau yang menjadi batas Indonesia dengan negara tetangga.

Beberapa pulau berada jauh dari ibu kota provinsi ataupun ibu kota kabupaten. Sarana dan prasarana juga serba terbatas. Tapi, jangan tanya soal nasionalisme mereka. Setiap penduduk yang saya temui, selalu menjawab dengan tegas, kalau mereka adalah orang Indonesia. Hal ini dibuktikan antara lain dengan secara sukarela ikut upacara di lapangan rumput di pinggir pulau, walau tidak ada kewajiban.

Walau mereka bangga sebagai orang Indonesia, namun di tengah pembicaraan selalu terselip ucapan agar perhatian pemerintah semakin besar bagi mereka. Mungkin saja, ini bukan ucapan, tapi sebuah doa yang terucap ketika sedang berbicara dengan saya. Sebuah doa yang sangat penuh pengharapan.

Mereka adalah penduduk negeri ini yang menempati pulau-pulau terpencil dan jauh. Mereka tinggal di pulau yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia atau Samudra Pasifik. Ada juga pulau yang lebih dekat dengan negara tetangga dari daripada daratan Indonesia. Tapi, perhatian pemerintah sepertinya hanya cuma-cuma. Mereka memang bisa hidup mandiri selama ini, tapi kehadiran negara dan bangsa juga mereka harapkan. Tidak hanya berupa seremonial dan jargon-jargon berbau nasionalisme, tapi juga perhatian berupa sentuhan pembangunan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-70!


Pulau Kisar, Maluku
Pulau Lingayan, Sulawesi Tengah
Pulau Marore, Sulawesi Utara
Pulau Morotai, Maluku Utara
Pulau Weh, Aceh
Selengkapnya...