Sabtu, 31 Desember 2016

Konsolidasi Jokowi di Pertengahan Jalan

Tahun pertama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah masa-masa sulit. Terjadi banyak upaya untuk menjegal dan mengakhiri kekuasaannya. Ini yang membuat beberapa kalangan mulai mempertanyakan kemampuan Jokowi untuk bermain politik. Sebuah keraguan yang telah dijawab Jokowi dengan semakin memperkuat duduk di puncak di pemerintahan.

Presiden Jokowi pelan-pelan terus menggalang kekuatan politik. Di tahun 2016, ia pun sukses mengumpulkan partai-partai yang sebelumnya beroposisi, untuk berbalik mendukungnya.

Hari Rabu, 27 Juli 2016, Presiden Joko Widodo mengumumkan reshuffle Kabinet Kerja jilid II. Pengumuman ini menarik untuk dicatat, karena sekaligus mengonfirmasi telah bergabungnya Partai Golkar dan PAN ke dalam pemerintahan.

Lebih dari setahun Jokowi dirongrong kanan-kiri oleh menteri-menteri yang senang berbicara di media dan saling bantah. Lewat reshuffle II ini, Jokowi pun mengakhiri kegaduhan ini dengan menyingkirkan beberapa menteri yang suka bikin gaduh. Melihat komposisi Kabinet Kerja pasca reshuffle jilid II ini, terasa sekali bagaimana Jokowi telah mampu melakukan konsolidasi politik di dua tahun pemerintahannya.

Yang paling terasa tentu saja di parlemen. Koalisi partai-partai pendukung pemerintah kini menjadi kekuatan mayoritas dengan menguasai sekitar 70 persen kursi. Sebanyak 30 persen lagi adalah 3 kekuatan partai tersisa, yakni Gerindra, PKS, dan Demokrat. Dengan komposisi seperti ini, tentu saja ada konsekwensi positif dan negatifnya. Jokowi tidak perlu risau lagi bakal mendapatkan tekanan dari parlemen seperti awal-awal pemerintahannya.

Walau Gerindra tidak masuk dalam barisan partai pendukung pemerintah, hubungan Jokowi dengan Gerinda bukannya tidak mesra. Sejarah mencatat, Prabowo yang menjadi rival Jokowi di Pilpres 2014, segera menemui Jokowi di Istana Bogor pada Januari 2015, atau sekitar tiga bulan setelah Jokowi menjadi presiden.

Bulan oktober 2016, giliran Jokowi yang bertamu ke kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, ketika jagat perpolitikan Indonesia sedang memanas, yang dipicu oleh suasana Pilkada DKI Jakarta. Pertemuan ini disebut sebagai diplomasi berkuda, karena kedua tokoh sempat berdiskusi sambil menunggangi dua kuda peliharaan prabowo.


Tanggal 17 November 2016, giliran Prabowo lagi yang menemui Jokowi. Di Istana Negara, Jokowi pun menjamu makan siang Prabowo dengan menu ikan bakar sambil berdiskusi mengenai masalah kebangsaan.

Sepertinya hanya Ketua Umum artai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang belum pernah bertemu empat mata dengan Jokowi. Ketika ramai-rama rencana aksi masa tanggal 4 November, SBY rupanya juga lebih memilih menyambangi Wakil Presiden Jusuf Kalla pada hari Selasa , 1 November 2016.

Publik pun menanti bagaimana hubungan Jokowi dan SBY selanjutnya pada tahun 2017. Karena tidak baik ada jarak di antara para pemimpin bangsa ini. Terlebih mereka adalah negarawan.


Dua tahun menjadi presiden, Jokowi semakin menunjukkan kematengannya dalam berpolitik. Ia punya banyak cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul, termasuk masalah yang entah bagaimana caranya, selalu dikaitkan dengan kursi presiden yang ia duduki.

Termasuk ketika mulai ramai-ramai kasus Ahok di penghujung 2016, yang sangat menyita perhatian seorang Jokowi. Pangkal persoalannya adalah ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tersandung masalah dugaan penodaan agama. Sebuah permasalahan yang melebar ke mana-mana, termasuk urusan makar yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Kemampuan presiden jokowi untuk merangkul semua kelompok pun diuji di sini. Salah satu yang dilakukan Presiden Jokowi adalah, tiba-tiba saja rajin bersafari ke sejumlah markas pasukan elit TNI-Polri. Dalam kunjungannya ke markas tentara ini, Presiden Jokowi berkali-kali menyebut, sebagai panglima tertinggi TNI, ia ingin memastikan semua prajurit loyal kepada negara dan bangsa. Juga ingin memastikan apakah semua prajurit siap digerakkan kalau kondisi sedang darurat.



Tidak hanya mengunjungi para prajurit, Presiden Jokowi juga melakukan sejumlah pertemuan dengan berbagai organisasi keagaman dan para tokoh ulama. Mengenai persoalan hukum yang menyangkut gubernur DKI Jakarta, Presiden cukup lama terdiam sebelum menyebut nama Ahok.
Safari jokowi ke sejumlah markas tentara dan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama ini, dilakukan setelah terjadinya aksi demonstrasi pada hari Jumat, 4 November 2016. Aksi ini dimotori oleh kelompok yang mendesak penegakan hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dituduh menodai agama Islam.

Malam harinya, Kerusuhan pecah di sekitar depan Istana Merdeka, ketika para peserta aksi 4 November sudah membubarkan diri.

Usai menggelar rapat pada malam itu juga, Presiden Jokowi yang tampil dengan mengenakan jaket bomber, menuding ada aktor politik yang menunggangi aksi damai 4 November.


Banyak yang berkomentar, Jokowi yang sekarang adalah Jokowi yang telah pintar berpolitik. Ia pandai merangkul lawan-lawan politiknya. Dan, hebatnya, jokowi hanya membutuhkan satu setengah tahun untuk mengusai parlemen.

Misalkan saja, ketika jokowi mengundang sejumlah ketua umum partai politik ke istana. Serangkaian pertemuan dengan para ketua umum partai ini dibaca publik sebagai bagian dari manuver jokowi untuk menurunkan tensi politik nasional yang sedang menghangat. Jokowi sepertinya sadar kalau orang-orang yang menggoreng kasus yang sedang menjerat Ahok, juga menyasar dirinya.

Terjadi dua kali aksi massa besar-besar di Ibu Kota terkait persoalan hukum yang menjerat Ahok. Setelah aksi tanggal 4 November 2016, lautan manusia kembali memadati Ibu Kota pada Jumat, 2 Desember 2016. Puncak dari aksi yang dikenal dengan sebutan aksi super damai 212 ini adalah sholat jumat.

Di luar dugaan, Presiden Jokowi pun ikut sholat jumat di monas. Presiden Jokowi juga berkesempatan naik ke panggung usai sholat jumat dan memberikan sambutan.

Kehadiran Jokowi di tengah masa aksi 2 Desember 2016 ini memang pas sekali dengan sifat Jokowi yang sangat sederhana dan tidak mau berjarak dengan rakyatnya. Jokowi juga tipe presiden yang tidak suka dengan pembuat gaduh dan pembuat hal-hal kontroversi di tengah masyarakat.


Jokowi adalah tipe pekerja, sesuai dengan nama kabinetnya, kabinet kerja. Ia sangat tegas dalam mengawal setiap pekerjaan yang dilaksakan para menterinya. Sepanjang tahun 2016, Jokowi sangat rajin blusukan sekadar untuk melihat perkembangan proyek yang sedang berjalan.

Walau baru dua tahun menjadi orang nomor satu di negeri ini, hasil karya seorang Jokowi tidak bisa dipandang sebelah mata. Kita lihat beberapa indakotor berikut ini; jumlah penduduk miskin indonesia terus mengalami penurunan, proses pengurusan perizinan yang bisa mencapai ratusan hari hingga sampai waktu tak terhingga dipercepat sampai 600 persen, pembangunan ribuan kilometer jalan baru di kawasan perbatasan dan terluar, dan ratusan proyek dikerjakan untuk mengurangi ketimpangan Jawa dan di luar Jawa.

Ini tadi hanya beberapa capaian prestasi Jokowi-JK selama 2 tahun memerintah.

Ada banyak capaian lain, termasuk program tax amnesty atau pengampunan pajak yang sampai periode pertama saja, hasilnya tercatat tertinggi di seluruh dunia.

Ada saja kejadian menarik dalam kunjungan Presiden Jokowi ke daerah. Misalkan saja, ketika Jokowi dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh seorang santri saat menghadiri perayaan Isra Miraj di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Mei 2016.


Di balik sikap sederhana seorang Joko Widodo, ia adalah presiden yang sangat tegas dan serius dalam bekerja. Salah satunya mengenai pemberantasan pungutan liar atau pungli yang menjadi isu besar di tahun 2016.

Di sisi lain, Presiden Jokowi rupanya juga seorang pemaaf, tidak pendendam, dan juga tidak suka mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Ignasius Jonan yang pernah diberhentikan karena diangap keras kepala, kembali diangkat menjadi menteri, menteri ESDM tepatnya.

Oya, Pak Jokowi sepertinya sangat gemar mengenakan sarung di waktu santainya. Berikut beberapa buktinya sepanjang tahun 2016.



Selengkapnya...

Selasa, 27 Desember 2016

Mengerek Gerobak Anggaran


Sepintar-pintah tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sekiranya pesan ini jangan lupa diingat oleh pemerintah dan wakil rakyat ketika selalu ada celah untuk memanfaatkan kesempatan dengan berbagai cara. Semoga saja hubungan harmonis antara pemerintah dan DPRD di DKI Jakarta tidak diikuti dengan kompromi politik lain. Karena membangun komunikasi politik dengan memuluskan anggaran agar lolos, bisa bisa malah menjadi masalah di masa depan.

(MENGEREK GEROBAK ANGGARAN, Realitas 27 Desember 2016)

Selengkapnya...

Rabu, 07 Desember 2016

Sori, Saya Terpaksa Unfollow Kamu!

Beberapa waktu yang lampau, setiap akhir tahun saya selalu merindukan tentang tiga hal. Ketiganya adalah musim durian, musim rambutan, dan musim duku.

Menikmati buah duku atau rambutan sambil menanti hujan reda adalah suasana yang sangat menyenangkan ketika itu. Atau, waktunya untuk menyantap durian ketika berkunjung ke rumah saudara yang merayakan Tahun Baru.

Itu dulu. Dulu sekali. Karena situasi kini sudah berbeda.

Di penghujung akhir tahun ini, bukan lagi tiga hal tadi yang tersaji. Yang ramai bermunculan saat ini adalah left dari grup Whatsapp, unfriend di Facebook, atau unfollow di Twitter. Ya, ketiga inilah yang bermunculan pada saat ini. Mungkin Anda juga melakukannya. Atau, jangan-jangan justru Anda yang dihapus dari pertemanan sejumlah kawan karib Anda gara-gara perilaku Anda yang tidak berkenan bagi mereka.

Seorang kawan tiba-tiba saja memilih keluar dari grup Whatsapp setelah terjadi perdebatan yang tak berujung ketika ada sebuah postingan berbau politik dikirim seorang teman. Yang mengirim artikel menjelaskan hak setiap anggota untuk memposting apapun kalau dianggap punya manfaat untuk orang lain. Menurut dia, kalau ada anggota yang merasa tidak mendapatkan manfaat dari postingan itu, maka tinggal mengabaikan saja. Sikap seperti ini segera memancing reaksi keras dari banyak anggota. Dan, ujung-ujungnya si kawan tadi memilih left dari grup.

Di grup Whatsapp lain, ada seorang teman yang kembali keluar walau sudah sebelumnya sudah ditarik lagi untuk masuk ke dalam grup. Alasannya sama saja, tidak tertarik lagi dengan percakapan di dalam grup ketika banyak materinya mengenai agama yang dibumbui dengan isu politik.

”Kalau postingan soal agama sih ga apa-apa. Ada manfaatnya buat gua. Tapi kalau agama yang dicampuri urusan politik, gua gak tertarik. Males baca ceramahan melulu. Cukup gua nikmati postingan-postingan ceramahan soal politik di Facebook,” begitu kata kawan tersebut ketika saya tanya mengapa ia keluar lagi dari grup.

Hal yang sama juga terjadi di media sosial Facebook dan Twitter. Sejumlah teman mengaku sudah melenyapkan teman-teman mereka dari daftar pertemanan karena sering membuat status yang provokatif atau suka membagikan tautan berita dari situs abal-abal. “Niatnya mau cari hiburan malah mengundang amarah,” kata seorang teman.

Ya, begitulah yang terjadi belakangan ini. Dari belasan grup Whatsapp yang saya ikuti, mayoritas grup saat ini memang sering membahas isu-isu berbau agama yang dibumbui politik praktis. Tiba-tiba saja banyak yang menjadi pakar politik atau pakar agama. Ironisnya, sering tidak tercipta diskusi yang sehat ketika yang lebih banyak terjadi adalah ‘saya yang benar dan kamu selalu salah’.

Kalau sudah begini, jangan heran kalau banyak yang memilih untuk left. “Untuk menjaga pikiran tetap sehat,” kata seorang teman.
Selengkapnya...

Selasa, 29 November 2016

Cerita Pahit Industri Gula


Swasembada gula yang ditargetkan tahun 2019, sejatinya dapat tercapai jika pemerintah serius membuat kebijakan yang pro petani gula, dan juga memikirkan industrinya.

Jangan sampai swasembada gula hanya berupa cita-cita yang enggan diwujudkan.

Kalah semangat dengan mereka yang selalu meraup untung besar dari bisnis impor gula.

(CERITA PAHIT INDUSTRI GULA, 29 November 2016)

Sumber Foto: Kanalsatu.com

Selengkapnya...

Senin, 28 November 2016

Gerilya Para Petinggi Negeri

Inilah yang sedang terjadi di Indonesia, khususnya di Ibu Kota Jakarta belakangan ini.

Aksi unjuk rasa besar yang direncanakan lagi pada tanggal 2 Desember 2016 telah dibumbui dengan beragam rumor yang menebar rasa kekhawatiran.

Isu sara terus digoreng-goreng. Ajakan tarik tunai rupiah untuk menggoyang roda ekonomi juga dihembuskan. Belum lagi ujaran kebencian dan fitnah yang ditiup sangat deras di media sosial.

Jangan sampai bangsa ini mengalami nasib terpuruk lagi, ketika adu kuat berebut kekuasaan terjadi, dan meledak.

(GERILYA PARA PETINGGI NEGERI, Realitas 28 November 2016)
Selengkapnya...

Selasa, 22 November 2016

Rentetan Teror Serampangan

Aksi terorisme adalah musuh bersama. Ia harus diperangi bersama-sama agar tidak tumbuh subur di negeri ini dan menebar teror ketakutan bagi kita semua.

Memberantas jaringan terorisme dan menangkapi para pelakunya memang sebuah keharusan.

Hanya saja, jangan lupa untuk mencari akar permasalahannya. Karena mencegah adalah cara terbaik. Demi menangkal berkembangnya paham radikal di tengah masyarakat.

(RENTETAN TEROR SERAMPANGAN, Realitas 22 November 2016)
Selengkapnya...

Senin, 21 November 2016

Curi-Curi Jadi TKI

Moratorium penghentian pengiriman TKI pembantu rumah tangga ke Timur Tengah yang diterbitkan pemerintah, terbukti tak mempan menghentikan para makelar merekrut calon TKI.

Ironis, program moratorium yang mestinya bisa menurunkan angka perdagangan manusia, justru meningkatkan harga jual manusia. Inilah yang disebut banyak pihak sebagai teori ekonomi perbudakan. Harga manusia naik saat suplainya berkurang.

Pemerintah perlu mencari solusi yang lebih jitu untuk permasalahan ini. Jangan sampai ungkapan peraturan dibuat memang untuk dilanggar, juga berlaku dalam urusan moratorium TKIi ini

(CURI-CURI JADI TKI, Realitas 21 November 2016)
Selengkapnya...

Rabu, 16 November 2016

Tentang Seorang Pria Yang Dipanggil Ahok



*Postingan ini dibuat pada hari ketika polisi menjadikan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama



Selengkapnya...

Selasa, 15 November 2016

Penikmat Pungli Miliaran di Pelabuhan


Pungutan liar sudah menjadi penyakit kronis di republik ini

Ia ada dimana-mana
dan terlihat jelas di depan mata

Pungli begitu sulit diberantas
karena hanya lewat beragam resep di atas kertas

Ketika Presiden Jokowi menyatakan perang melawan pungli
semoga saja para pejabatnya bersatu untuk berdiri

Bukan tunduk dan bersekutu dengan mafia dan preman
demi hidup makmur dari uang siluman

(PENIKMAT PUNGLI MILIARAN DI PELABUHAN, Realitas 15 November 2016)

Selengkapnya...

Jumat, 11 November 2016

Blusukan Jokowi ke Markas Tentara

Ada kegiatan berbeda dijalankan presiden kita sepekan ini. Yang biasanya Jokowi rajin blusukan ke pelosok-pelosok negeri, kali ini ia malah masuk-keluar markas tentara. Jokowi bertandang ke markas Kopassus, Marinir, TNI Angkatan Darat, hingga Brimob. Entah selanjutnya ke barak militer mana lagi presiden kita ini. Mungkin ke Kostrad, Yonif, atau markas Paskhas. Entah lah...

Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya agenda di balik safari militer Pak Presiden Jokowi ini. Apakah negara sedang dalam keadaan genting sehingga presiden harus merapatkan barisan bersama para serdadu. Atau, jangan-jangan Jokowi sedang menunjukkan kepada para ‘lawan’ bahwa ia adalah panglima tertinggi TNI, sehingga ada pesan ‘jangan macam-macam kalian, ya!”.

Wartawan sebenarnya sudah berusaha mengorek pengakuan dari presiden kita ini. Tapi, gaya Pak Presiden ini memang suka memberi jawaban yang tidak diharapkan. Dalam satu kesempatan safari militernya ini, Jokowi mengatakan, dirinya sengaja blusukan ke barak tentara untuk menemui para prajurit karena mengaku belum pernah mengunjungi mereka. Padahal, ia adalah panglima tertinggi.

"Saya ingin memastikan bahwa semuanya loyal kepada negara, setia pada Pancasila, pada UUD 1945, NKRI, Kebhinekaan kita. Sehingga, kalau sudah bertemu dan dekat seperti ini bisa kita rasakan prajurit kita siap. Memastikan itu saja," begitulah kata Jokowi dalam satu kesempatan blusukan ke markas militer.

Yang jelas, safari militer ke sejumlah kesatuan pasukan TNI dan Polri ini, dilakukan usai aksi demonstrasi yang terjadi pada 4 November 2016. Hari Jumat itu, massa yang diklaim berjumlah 100 ribu sampai 200 ribu orang, berdemo di depan Istana Merdeka setelah Sholat Jumat. Aksi ini terkait dengan tuduhan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti karena ikut Pilkada Jakarta.

Baiklah. Kita bahas kemana saja Jokowi blusukan usai demonstrasi besar 4 November itu.

Safari militer Jokowi berawal di Markas TNI AD di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, pada Senin, 7 November 2016. Awalnya, Jokowi mengakui kedatangannya ini khusus untuk mengapresiasi kinerja jajaran TNI yang telah menjaga keamanan pada aksi 4 November. Namun, pada bagian lain, Pak Presiden malah memberi pesan yang maknanya sangat mendalam.

Jokowi berpesan kepada prajurit TNI untuk menjaga soliditas dan kekompakan agar mampu menjaga persatuan Indonesia, menyatukan ras dan suku yang berbeda-beda, serta menyatukan agama yang berbeda-beda. TNI harus menjadi perekat kemajemukan.

Jokowi juga mengaku telah memerintahkan kepada Panglima TNI untuk tidak mentolerir gerakan yang ingin memecah belah bangsa, mengadu domba bangsa dengan provokasi dan politisasi. "Jangan ragu bertindak untuk keutuhan NKRI kita," kata Pak Presiden.

Lho, apa sebenarnya yang terjadi?

Untuk menerka-nerka jawabannya, kita lihat lagi agenda Pak Presiden selanjutnya.


Rupanya, keesokan harinya setelah bertantang ke Markas TNI AD, Jokowi mampir ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di , Jalan Tirtayasa, Jakarta Selatan. Di sana, Jokowi memberikan pengarahan kepada para anggota Polri yang jumlahnya mencapai 600 orang. Mereka terdiri dari anggota Polri berpangkat bintara hingga perwira tinggi, termasuk Kapolri Tito Karnavian. Mayoritas adalah mereka yang terlibat dalam pengamanan aksi 4 November.

Di acara yang tertutup bagi media ini, Jokowi memaparkan kondisi keamanan negara terkini. Terlebih lagi soal adanya orang politik yang menunggangi aksi 4 November yang ditutup dengan kericuhan. Jokowi menegaskan, Polri dalam menegakkan hukum, jangan mau diintervensi.
"Sebagai sebuah institusi, Polri tergolong besar dengan 430 ribu anggota. Oleh karena itu, jangan ragu dalam bertindak untuk tegakkan hukum yang tegas. Tidak boleh institusi sebesar Polri ragu, kalah, apalagi ke kelompok kecil, organisasi apapun, dan tokoh siapapun," tegas Jokowi.

Mmmm.... siapa sebenarnya sasaran tembak Pak Presiden? Lagi-lagi, sulit diungkap. Kalau sekadar tebak-tebak buah manggis memang bisa saja. Ah, sebaiknya hindari tunjuk hidung kalau tidak mau mati konyol.


Yang pasti, pada Kamis pagi, 10 November 2016, Jokowi kembali blusukan ke markas tentara. Kali ini, sasarannya adalah markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Cijantung, Jakarta Timur. Jokowi datang ke Cijantung usai memperingati hari pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sekitar 1.720 prajurit Kopassus begitu sigap menyambut kehadiran Pak Presiden.

"Ini merupakan pasukan cadangan yang dalam keadaan emergency, dalam keadaan darurat, bisa saya gerakkan. Ini adalah pasukan cadangan yang bisa saya gerakkan sebagai panglima tertinggi lewat Pangab, lewat Panglima TNI, untuk keperluan khusus," kata Jokowi saat berada di markas baret merah ini.

"Lalu, apakah saat ini sedang ada situasi darurat?" tanya wartawan.

"Tidak ada. Ini Hari Pahlawan kok. Kan tadi saya bilang ada 'kalau'," kata Jokowi.


Hari Jumat pagi, 11 November 2016, giliran markas Brimob yang disambangi Jokowi. Pak Presiden hadir di tengah-tengah sekitar 3.000 personil Brimob yang berbaris rapi di lapangan markas Korps Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok. Kepada mereka, Jokowi kembali mengucapkan terima kasih karena sudah ikut mengamankan aksi 4 November.

Jokowi juga mengaku hadir di Markas Brimob untuk melihat langsung kesiapan jajaran Brimob dalam kesiapan menghadapi berbagai gangguan keamanan dan ketertiban. "Sekecil apa pun gangguan itu, segera selesaikan. Sekecil apa pun. Jangan menunggu sampai masalahnya menjadi lebih besar dan lebih besar," kata Jokowi.


Dari markas Brimob, Jokowi kemudian beranjak ke markas Marinir di Cilandak, Jakarta Selatan. Di markas baret ungu ini, lagi-lagi, Jokowi meminta para prajurit untuk mengerahkan kekuatannya dalam menghadapi setiap kekuatan yang ingin mengganggu keutuhan NKRI.

"Sebagai panglima tertinggi TNI, saya memerintahkan kepada perwira dan prajurit Marinir untuk menjadi yang terdepan dalam menghadapi setiap kekuatan, yang ingin mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa," kata Jokowi dari atas tank amfibi BMP-3 yang "disulap" menjadi podium utama.


Itulah sejumlah kegiatan Presiden Jokowi yang blusukan ke sejumlah markas tentara dalam seminggu terakhir. Untuk melakukan konsolidasi? Mungkin jawabannya iya. Konsolidasi karena ada ancaman yang mengintai? Nah, kalau yang ini jawabannya tidak bisa dipastikan.

Yang perlu dicatat, kata seorang pengamat politik yang pernah saya baca, Jokowi memang punya satu gaya dalam berpolitik, yakni ‘memukul semak’ agar ular keluar.
Selengkapnya...

Rabu, 09 November 2016

Kenali Modusnya Hindari Aksinya

Saat asyik bertransaksi di dunia maya, ada yang mengintai anda.
Tanpa disadari, Anda telah kehilangan harta kekayaan.
Dalam enam bulan terakhir, puluhan milyar rupiah uang nasabah lenyap.
Bisa jadi uang Anda adalah sasaran berikutnya.
News, story, dan insight, dalam sebuah peristiwa terangkum dalam NSI.


Ini kalimat pembuka Aviani Malik dalam program NSI yang tayang di layar Metro TV pada Senin, 9 November 2016, dengan judul ‘Pencuri Data Dunia Maya’. Episode ini menjadi sangat spesial karena merupakan tayangan perdana. Ya, NSI tayang pertama kali pada hari Senin, 9 November 2016, selama 60 menit mulai jam 20.05 WIB, untuk menggantikan program Kupas Ketujuh. Dan hari ini, tepat satu tahun usianya.

Memori pun kembali ke masa sekitar setahun lalu, ketika ikut terlibat dalam melahirkan program NSI ini.

Persiapan dimulai sekitar Agustus 2015. Sebagai komandannya adalah Catharina Davy, Manajer Non News Bulletin di Metro TV. “Kita mau membuat program baru untuk menggantikan ‘Kupas Ketujuh’. Konsep programnya adalah investigasi yang digabung dengan talkshow,” kata Keket, sapaan akrab kami bagi Catharina Davy.

Konsep pun segera digodok. Sejumlah nama yang kuat di program berbau investigasi dan juga kuat di program talkshow dilibatkan dalam penyusunan konsep ini. Waktunya sangat mepet karena harus segera dipaparkan ke hadapan petinggi Metro TV. Konsep yang kami tawarkan baru mendapatkan persetujuan setelah sekitar tiga bolak-balik mengubah konsep.

Masalah nama juga tidak mudah diputuskan. Nama NSI didapat di saat-saat terakhir ketika berbagai nama yang kami tawarkan ditolak dengan beragam alasan. Modus, Titik Balik, Titik Terang, Lacak, adalah beberapa nama yang kami tawarkan. Semuanya ditolak karena dinilai tidak ‘menjual’.

Suatu hari, ketika waktu sudah mau habis dan kami tidak boleh meninggalkan ruang rapat sebelum punya usulan nama lain, muncullah ide untuk memberi nama NSI, singkatan dari News Story Insight. Nama ini kami anggap tidak terlalu berbau kriminal dan sekilas mirip dengan sebuah program dari TV asing. Usulan kami ini akhirnya diterima. Kami pun lega dan mulai melakukan persiapan lain.

Ketika masalah nama sudah selesai, maka persiapan teknis segera dikerjakan. Kami tidak punya waktu banyak karena hari penayangan sudah ditetapkan, yakni awal November 2015. Kami harus memikirkan konsep studio dengan segala peralatannya, bumper, grafis, dan juga gaya naskah dan editing. Dari sinilah kemudian muncul tagline NSI yang tetap dipakai sampai hari ini; kenali modusnya, hindari aksinya.

Sesuai dengan namanya, NSI pada akhirnya tidak hanya mengangkat isu-isu kriminal. Hanya kasus kriminal kuat dan menjadi perhatian publik yang kami kupas. Beragam tema kami angkat di NSI. Mulai dari isu korupsi, pengggusaran, ekonomi, terorisme, atau lingkungan. Tema boleh beragam, tapi semuanya tetap memiliki satu nafas, yakni mengupas satu masalah dan mencari apa yang salah agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.

Selama satu tahun mengudara, rating tertinggi dicapai dalam episode “Jejak Sianida Mirna” yang tayang pada 1 Februari 2016. Rating episode ini mencapai 2,3 dengan share 10,1. Momen penayangan episode yang berkisah mengenai misteri kematian Wayan Mirna Salihin akibat diracun ini memang pas sekali. Satu hari sebelum tayang, polisi menangkap Jessica Kumala Wongso yang diduga sebagai pembunuh Mirna. Episode ini juga ada wawancara Aviani Malik dengan Jessica Wongo yang dilakukan tiga hari sebelum wanita muda itu ditahan.



Episode lain yang mendapatkan rating di atas satu adalah episode “Siasat Sesat Kurir Narkoba” (11 Januari 2016), “Pencari Keadilan (18 Januari 2016), “Sel-sel Teroris” (25 Januari 2016), “Akhir Kisah Kalijodo” (29 Februari 2016), “Mirna, Jessica, dan Kopi Sianida” (29 Agustus 2016), dan “Pemeras Berseragam” (31 Oktober 2016).

Capaian tertinggi NSI adalah ketika masuk nominasi Panasonic Gobel Award 2016 untuk kategori Program News Talkshow. NSI bersaing dengan sejumlah program sejenis yang sudah bertahun-tahun mengudara dan telah sangat terkenal di masyarakat. Saat itu, yang menjadi juaranya adalah program ILC. Walau NSI tidak menang, ini sudah menjadi sebuah kebanggaan bagi tim dan juga Metro TV. Sebuah prestasi untuk program yang belum berumur setahun.

Saya bangga telah ikut melahirkan NSI. Saya juga bangga karena selama setahun ini ikut terlibat dalam melahirkan episode demi episode setiap pekan.

Kini, saatnya untuk berganti peran dan cukup menjadi penonton NSI. Entah sampai kapan...
Selengkapnya...