Kamis, 27 Oktober 2016

Menantang Bahaya di Gunung Sinabung

Saya menemukan beberapa koleksi foto ketika pergi ke Gunung Sinabung bersama tim 1000 Meter pada awal 2014. Bersama tiga orang rekan, kami nekat memasuki kawasan yang sangat berbahaya di gunung yang tak kunjung berhenti ‘mengamuk’ tersebut demi mendapatkan gambar yang ‘tak biasa’.

Kami masuk ke kawasan luncuran material letusan yang penuh batu, pasir, dan debu. Sejumlah batu terasa masih panas ketika dipijak. Dari posisi kami berada, suara gemuruh dari Sinabung sangat jelas terdengar. Itu adalah suara longsoran batu yang berjatuhan akibat letusan dari dapur magma.

Kami masuk ke kawasan terlarang Sinabung pertama kali lewat Desa Bekerah yang berada di sisi timur gunung. Dari posisi ini, puncak Sinabung begitu dekatnya. Hampir satu jam kami berada di sini, dan baru pergi ketika debu beterbangan akibat tiupan angin yang kencang.

Ini adalah sejumlah foto-fotonya ketika kami berada di kawasan ini:


Kami kemudian memutar arah dan kemudian masuk ke kawasan luncuran material Sinabung dari sebelah barat. Kami menuju tempat ini dengan melewati Desa Sukamerah yang sudah menjadi desa mati. Desa Bekerah dan Desa Sukameriah dulunya tersambung oleh jalan aspal yang panjangnya tak sampai satu kilometer. Namun, kedua desa ini kini terpisah oleh hamparan material gunung yang begitu banyak.

Seminggu setelah kami ke tempat ini, terjadi letusan yang sangat dahsyat dan disertai awan panas. Sekitar 14 orang tewas di tempat ini!

Ini adalah sejumlah foto-fotonya ketika kami berada di kawasan ini:

Kami juga sempat memasuki Desa Gurukinayan, salah satu desa terbesar di Kabupaten Karo dan kini jadi desa mati akibat ditinggal seluruh warganya. Dua kali kami memasuki desa ini. Pada kunjungan yang pertama, debu sangat tebal menutupi desa. Namun, pada kunjungan kedua, debu berubah jadi lumpur akibat hujan.

Ini adalah sejumlah foto-fotonya ketika kami berada di Desa Gurukinayan:

Terakhir, kami juga sempat mendatangi Danau Lau Kawar untuk melihat petugas Kementerian ESDM sedang mengecek alat pemantau aktivitas gunung berapi seperti Sinabung. Kawasan ini relatif hijau dan hanya terkena sedikit debu. Tanaman pertanian seperti kopi dan cabai juga masih tumbuh walau kotor oleh debu letusan Sinabung.

Ini adalah sejumlah foto-fotonya ketika kami berada di kawasan ini:




Selengkapnya...

Rabu, 26 Oktober 2016

Impian Danau Toba Jadi Kelas Dunia

Pemerintah rupanya sangat serius untuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia. Langkah-langkah nyata pemerintah mulai terlihat.

Sebagai orang Sumatera Utara, saya tentu sangat bangga. Tidak sabar menanti apa saja yang akan dilakukan pemerintah di kawasan danau ini kelak. Jangan-jangan, nantinya wajah Danau Toba akan seperti yang ada di kepala saya. Berubah menjadi surga dunia yang benar-benar diperlakukan sebagai surga. Mmm, kalau sudah begini, bisa-bisa saya akan mudik ke kampung setiap tahun, atau bahkan beberapa kali dalam setahun.

Demi memoles kawasan Danau Toba, pemerintah bahkan rela mencari pinjaman. Baru-baru ini, pemerintah menandatangani kesepakatan pinjaman dari Bank Dunia. Total pinjaman yang disepakati mencapai 200 juta dolar AS, atau sekitar Rp 2,6 triliun. Uang sebanyak ini memang bukan seluruhnya untuk modal mendandani Danau Toba.

Uang triliunan rupiah ini akan dipakai untuk modal pembangunan infrastruktur di tiga destinasi wisata unggulan, dari 10 destinasi yang sudah ditetapkan pemerintah. Selain Danau Toba, dua destinasi lain adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Khusus untuk Danau Toba, uang pinjaman ini nantinya akan dipakai untuk merestorasi lingkungan danau, penyusunan portofolio atraksi sejarah dan budaya, taman bunga, dan sejumlah proyek lain. Pemerintah juga akan jalan tol Kuala Namu-Parapat sepanjang 160.5 km, perpanjangan landasan Bandara Silangit yang masih 2.400x30 meter menjadi 2.650x45 meter, dan sejumlah pembangunan lain.

Selain pinjaman ini, kabarnya pemerintah juga sudah menyiapkan dana lain yang bersumber dari anggaran pusat maupun daerah. Nilainya mencapai Rp 1 triliun dan mulai dicairkan pada Januari 2017.

Dengan segala program ini, sudah mulai terbayang nanti apa jadinya Danau Toba. Akses ke sana akan semakin mudah dan murah. Tidak butuh lagi waktu empat jam perjalanan dari Bandara Kuala Namu ke Danau Toba, karena pesawat sekelas boeing 737 sudah bisa mendarat di Bandara Silangit yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Danau Toba. Penerbangan Jakarta-Silangit hanya butuh sekitar 90 menitan, tidak jauh berbeda dengan Jakarta-Bali.

Sekali lagi, sebagai orang asli Sumatera Utara, saya berharap semoga saja semua rencana yang telah disusun rapi ini, akan berjalan mulus dan sesuai rencana. Kalau tidak, Danau Toba akan semakin merana. Surga dunia yang terlupakan. Dibiarkan kotor dan tercemar, seperti kondisi saat ini.
Selengkapnya...

Selasa, 25 Oktober 2016

Siapa Dalang Proyek e-KTP

Tujuan pembuatan e-KTP memang sangat baik. Menerapkan KTP berbasis nomor induk kependudukan secara nasional dan nantinya akan konek dengan pelayanan publik lainnya.

Sayangnya, masih saja ada niat-niat busuk menjadi penumpang gelap proyek mulia ini. Tidak heran kalau hasil audit mengungkap, kerugian negara mencapai 2 triliun rupiah. Artinya, sekitar 33 persen anggaran e-KTP dari 6 triliun rupiah, tidak jelas lari kemana.

Kini, bersiaplah satu demi satu dijerat KPK. Menjadi penghuni sel tahanan yang pengap dan sempit.

(SIAPA DALANG PROYEK E-KTP, Realitas 25 Oktober 2016)

Sumber Foto: NewsJS.com

Selengkapnya...

Selasa, 18 Oktober 2016

Operasi Pungli Usai Rapat Presiden

Bukan rahasia umum lagi kalau praktik pungutan liar dalam setiap pelayanan publik terjadi setiap saat dengan beragam modus. Praktek ini berlangsung mulai dari tingkat yang paling rendah, yakni di tataran pemerintah desa hingga ke jajaran pemerihtah pusat.

Pungli seolah telah menjadi budaya terstruktur. Ia bagai penyakit kanker yang begitu sulit diberantas, karena sudah mendarah daging.

Jangan heran kalau sampai hari ini belum ada obat mujarab untuk menghilangkan praktek pungli ini.

(OPERASI PUNGLI USAI RAPAT PRESIDEN, Realitas 18 Oktober 2016)

Sumber Foto: Detik.com
Selengkapnya...

Selasa, 11 Oktober 2016

Kejar Harta Rohadi Ke Kota Mangga


Membebaskan wajah peradilan dari praktek suap dan korupsi, sepertinya masih sebatas mimpi.

Makelar kasus masih berkeliaran di ruang-ruang sidang. Menawarkan jasa bagi siapa saja yang bersedia membeli keadilan.

Rohadi hanyalah satu orang dari banyak nama yang akhirnya terungkap.

Jika sudah begini, sulit rasanya mengharapkan penutup mata sang dewi keadilan benar-benar tertutup rapat dalam memutus keadilan.

Namun, selalu ada harapan dalam setiap usaha. Tergantung ada atau tidak usaha tersebut.

(KEJAR HARTA ROHADI KE KOTA MANGGA, Realitas 11 November 2016)

Sumber Foto: rmolsumsel.com
Selengkapnya...

Selasa, 04 Oktober 2016

Gula-Gula Suap Ketua DPD


Boleh-boleh saja pengusaha, politikus, dan aparat birokrasi bekerja sama untuk memastikan ketersediaan kebutuhan bahan pokok demi kepentingan masyarakat. Tentu saja tidak boleh menabrak aturan. Apalagi berkolusi demi meraup keuntungan pribadi.

Namun, faktanya, mereka seringkali menggunakan pengaruh atas kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Mengutak atik kebijakan demi memburu rente.

Jika sudah begini, wahai para pejabat dan pengusaha, bersiap-siaplah Anda masuk penjara, cepat atau lambat. Tidak peduli apa jabatan Anda, karena beberapa pimpinan lembaga tinggi negeri ini pun sudah merasakannya.

(GULA-GULA SUAP KETUA DPD, Realitas 4 Oktober 2016)

Sumber Foto: harnas.co
Selengkapnya...