Selasa, 29 November 2016

Cerita Pahit Industri Gula


Swasembada gula yang ditargetkan tahun 2019, sejatinya dapat tercapai jika pemerintah serius membuat kebijakan yang pro petani gula, dan juga memikirkan industrinya.

Jangan sampai swasembada gula hanya berupa cita-cita yang enggan diwujudkan.

Kalah semangat dengan mereka yang selalu meraup untung besar dari bisnis impor gula.

(CERITA PAHIT INDUSTRI GULA, 29 November 2016)

Sumber Foto: Kanalsatu.com

Selengkapnya...

Senin, 28 November 2016

Gerilya Para Petinggi Negeri

Inilah yang sedang terjadi di Indonesia, khususnya di Ibu Kota Jakarta belakangan ini.

Aksi unjuk rasa besar yang direncanakan lagi pada tanggal 2 Desember 2016 telah dibumbui dengan beragam rumor yang menebar rasa kekhawatiran.

Isu sara terus digoreng-goreng. Ajakan tarik tunai rupiah untuk menggoyang roda ekonomi juga dihembuskan. Belum lagi ujaran kebencian dan fitnah yang ditiup sangat deras di media sosial.

Jangan sampai bangsa ini mengalami nasib terpuruk lagi, ketika adu kuat berebut kekuasaan terjadi, dan meledak.

(GERILYA PARA PETINGGI NEGERI, Realitas 28 November 2016)
Selengkapnya...

Selasa, 22 November 2016

Rentetan Teror Serampangan

Aksi terorisme adalah musuh bersama. Ia harus diperangi bersama-sama agar tidak tumbuh subur di negeri ini dan menebar teror ketakutan bagi kita semua.

Memberantas jaringan terorisme dan menangkapi para pelakunya memang sebuah keharusan.

Hanya saja, jangan lupa untuk mencari akar permasalahannya. Karena mencegah adalah cara terbaik. Demi menangkal berkembangnya paham radikal di tengah masyarakat.

(RENTETAN TEROR SERAMPANGAN, Realitas 22 November 2016)
Selengkapnya...

Senin, 21 November 2016

Curi-Curi Jadi TKI

Moratorium penghentian pengiriman TKI pembantu rumah tangga ke Timur Tengah yang diterbitkan pemerintah, terbukti tak mempan menghentikan para makelar merekrut calon TKI.

Ironis, program moratorium yang mestinya bisa menurunkan angka perdagangan manusia, justru meningkatkan harga jual manusia. Inilah yang disebut banyak pihak sebagai teori ekonomi perbudakan. Harga manusia naik saat suplainya berkurang.

Pemerintah perlu mencari solusi yang lebih jitu untuk permasalahan ini. Jangan sampai ungkapan peraturan dibuat memang untuk dilanggar, juga berlaku dalam urusan moratorium TKIi ini

(CURI-CURI JADI TKI, Realitas 21 November 2016)
Selengkapnya...

Rabu, 16 November 2016

Tentang Seorang Pria Yang Dipanggil Ahok



*Postingan ini dibuat pada hari ketika polisi menjadikan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama



Selengkapnya...

Selasa, 15 November 2016

Penikmat Pungli Miliaran di Pelabuhan


Pungutan liar sudah menjadi penyakit kronis di republik ini

Ia ada dimana-mana
dan terlihat jelas di depan mata

Pungli begitu sulit diberantas
karena hanya lewat beragam resep di atas kertas

Ketika Presiden Jokowi menyatakan perang melawan pungli
semoga saja para pejabatnya bersatu untuk berdiri

Bukan tunduk dan bersekutu dengan mafia dan preman
demi hidup makmur dari uang siluman

(PENIKMAT PUNGLI MILIARAN DI PELABUHAN, Realitas 15 November 2016)

Selengkapnya...

Jumat, 11 November 2016

Blusukan Jokowi ke Markas Tentara

Ada kegiatan berbeda dijalankan presiden kita sepekan ini. Yang biasanya Jokowi rajin blusukan ke pelosok-pelosok negeri, kali ini ia malah masuk-keluar markas tentara. Jokowi bertandang ke markas Kopassus, Marinir, TNI Angkatan Darat, hingga Brimob. Entah selanjutnya ke barak militer mana lagi presiden kita ini. Mungkin ke Kostrad, Yonif, atau markas Paskhas. Entah lah...

Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya agenda di balik safari militer Pak Presiden Jokowi ini. Apakah negara sedang dalam keadaan genting sehingga presiden harus merapatkan barisan bersama para serdadu. Atau, jangan-jangan Jokowi sedang menunjukkan kepada para ‘lawan’ bahwa ia adalah panglima tertinggi TNI, sehingga ada pesan ‘jangan macam-macam kalian, ya!”.

Wartawan sebenarnya sudah berusaha mengorek pengakuan dari presiden kita ini. Tapi, gaya Pak Presiden ini memang suka memberi jawaban yang tidak diharapkan. Dalam satu kesempatan safari militernya ini, Jokowi mengatakan, dirinya sengaja blusukan ke barak tentara untuk menemui para prajurit karena mengaku belum pernah mengunjungi mereka. Padahal, ia adalah panglima tertinggi.

"Saya ingin memastikan bahwa semuanya loyal kepada negara, setia pada Pancasila, pada UUD 1945, NKRI, Kebhinekaan kita. Sehingga, kalau sudah bertemu dan dekat seperti ini bisa kita rasakan prajurit kita siap. Memastikan itu saja," begitulah kata Jokowi dalam satu kesempatan blusukan ke markas militer.

Yang jelas, safari militer ke sejumlah kesatuan pasukan TNI dan Polri ini, dilakukan usai aksi demonstrasi yang terjadi pada 4 November 2016. Hari Jumat itu, massa yang diklaim berjumlah 100 ribu sampai 200 ribu orang, berdemo di depan Istana Merdeka setelah Sholat Jumat. Aksi ini terkait dengan tuduhan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta yang sedang cuti karena ikut Pilkada Jakarta.

Baiklah. Kita bahas kemana saja Jokowi blusukan usai demonstrasi besar 4 November itu.

Safari militer Jokowi berawal di Markas TNI AD di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, pada Senin, 7 November 2016. Awalnya, Jokowi mengakui kedatangannya ini khusus untuk mengapresiasi kinerja jajaran TNI yang telah menjaga keamanan pada aksi 4 November. Namun, pada bagian lain, Pak Presiden malah memberi pesan yang maknanya sangat mendalam.

Jokowi berpesan kepada prajurit TNI untuk menjaga soliditas dan kekompakan agar mampu menjaga persatuan Indonesia, menyatukan ras dan suku yang berbeda-beda, serta menyatukan agama yang berbeda-beda. TNI harus menjadi perekat kemajemukan.

Jokowi juga mengaku telah memerintahkan kepada Panglima TNI untuk tidak mentolerir gerakan yang ingin memecah belah bangsa, mengadu domba bangsa dengan provokasi dan politisasi. "Jangan ragu bertindak untuk keutuhan NKRI kita," kata Pak Presiden.

Lho, apa sebenarnya yang terjadi?

Untuk menerka-nerka jawabannya, kita lihat lagi agenda Pak Presiden selanjutnya.


Rupanya, keesokan harinya setelah bertantang ke Markas TNI AD, Jokowi mampir ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di , Jalan Tirtayasa, Jakarta Selatan. Di sana, Jokowi memberikan pengarahan kepada para anggota Polri yang jumlahnya mencapai 600 orang. Mereka terdiri dari anggota Polri berpangkat bintara hingga perwira tinggi, termasuk Kapolri Tito Karnavian. Mayoritas adalah mereka yang terlibat dalam pengamanan aksi 4 November.

Di acara yang tertutup bagi media ini, Jokowi memaparkan kondisi keamanan negara terkini. Terlebih lagi soal adanya orang politik yang menunggangi aksi 4 November yang ditutup dengan kericuhan. Jokowi menegaskan, Polri dalam menegakkan hukum, jangan mau diintervensi.
"Sebagai sebuah institusi, Polri tergolong besar dengan 430 ribu anggota. Oleh karena itu, jangan ragu dalam bertindak untuk tegakkan hukum yang tegas. Tidak boleh institusi sebesar Polri ragu, kalah, apalagi ke kelompok kecil, organisasi apapun, dan tokoh siapapun," tegas Jokowi.

Mmmm.... siapa sebenarnya sasaran tembak Pak Presiden? Lagi-lagi, sulit diungkap. Kalau sekadar tebak-tebak buah manggis memang bisa saja. Ah, sebaiknya hindari tunjuk hidung kalau tidak mau mati konyol.


Yang pasti, pada Kamis pagi, 10 November 2016, Jokowi kembali blusukan ke markas tentara. Kali ini, sasarannya adalah markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Cijantung, Jakarta Timur. Jokowi datang ke Cijantung usai memperingati hari pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sekitar 1.720 prajurit Kopassus begitu sigap menyambut kehadiran Pak Presiden.

"Ini merupakan pasukan cadangan yang dalam keadaan emergency, dalam keadaan darurat, bisa saya gerakkan. Ini adalah pasukan cadangan yang bisa saya gerakkan sebagai panglima tertinggi lewat Pangab, lewat Panglima TNI, untuk keperluan khusus," kata Jokowi saat berada di markas baret merah ini.

"Lalu, apakah saat ini sedang ada situasi darurat?" tanya wartawan.

"Tidak ada. Ini Hari Pahlawan kok. Kan tadi saya bilang ada 'kalau'," kata Jokowi.


Hari Jumat pagi, 11 November 2016, giliran markas Brimob yang disambangi Jokowi. Pak Presiden hadir di tengah-tengah sekitar 3.000 personil Brimob yang berbaris rapi di lapangan markas Korps Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok. Kepada mereka, Jokowi kembali mengucapkan terima kasih karena sudah ikut mengamankan aksi 4 November.

Jokowi juga mengaku hadir di Markas Brimob untuk melihat langsung kesiapan jajaran Brimob dalam kesiapan menghadapi berbagai gangguan keamanan dan ketertiban. "Sekecil apa pun gangguan itu, segera selesaikan. Sekecil apa pun. Jangan menunggu sampai masalahnya menjadi lebih besar dan lebih besar," kata Jokowi.


Dari markas Brimob, Jokowi kemudian beranjak ke markas Marinir di Cilandak, Jakarta Selatan. Di markas baret ungu ini, lagi-lagi, Jokowi meminta para prajurit untuk mengerahkan kekuatannya dalam menghadapi setiap kekuatan yang ingin mengganggu keutuhan NKRI.

"Sebagai panglima tertinggi TNI, saya memerintahkan kepada perwira dan prajurit Marinir untuk menjadi yang terdepan dalam menghadapi setiap kekuatan, yang ingin mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa," kata Jokowi dari atas tank amfibi BMP-3 yang "disulap" menjadi podium utama.


Itulah sejumlah kegiatan Presiden Jokowi yang blusukan ke sejumlah markas tentara dalam seminggu terakhir. Untuk melakukan konsolidasi? Mungkin jawabannya iya. Konsolidasi karena ada ancaman yang mengintai? Nah, kalau yang ini jawabannya tidak bisa dipastikan.

Yang perlu dicatat, kata seorang pengamat politik yang pernah saya baca, Jokowi memang punya satu gaya dalam berpolitik, yakni ‘memukul semak’ agar ular keluar.
Selengkapnya...

Rabu, 09 November 2016

Kenali Modusnya Hindari Aksinya

Saat asyik bertransaksi di dunia maya, ada yang mengintai anda.
Tanpa disadari, Anda telah kehilangan harta kekayaan.
Dalam enam bulan terakhir, puluhan milyar rupiah uang nasabah lenyap.
Bisa jadi uang Anda adalah sasaran berikutnya.
News, story, dan insight, dalam sebuah peristiwa terangkum dalam NSI.


Ini kalimat pembuka Aviani Malik dalam program NSI yang tayang di layar Metro TV pada Senin, 9 November 2016, dengan judul ‘Pencuri Data Dunia Maya’. Episode ini menjadi sangat spesial karena merupakan tayangan perdana. Ya, NSI tayang pertama kali pada hari Senin, 9 November 2016, selama 60 menit mulai jam 20.05 WIB, untuk menggantikan program Kupas Ketujuh. Dan hari ini, tepat satu tahun usianya.

Memori pun kembali ke masa sekitar setahun lalu, ketika ikut terlibat dalam melahirkan program NSI ini.

Persiapan dimulai sekitar Agustus 2015. Sebagai komandannya adalah Catharina Davy, Manajer Non News Bulletin di Metro TV. “Kita mau membuat program baru untuk menggantikan ‘Kupas Ketujuh’. Konsep programnya adalah investigasi yang digabung dengan talkshow,” kata Keket, sapaan akrab kami bagi Catharina Davy.

Konsep pun segera digodok. Sejumlah nama yang kuat di program berbau investigasi dan juga kuat di program talkshow dilibatkan dalam penyusunan konsep ini. Waktunya sangat mepet karena harus segera dipaparkan ke hadapan petinggi Metro TV. Konsep yang kami tawarkan baru mendapatkan persetujuan setelah sekitar tiga bolak-balik mengubah konsep.

Masalah nama juga tidak mudah diputuskan. Nama NSI didapat di saat-saat terakhir ketika berbagai nama yang kami tawarkan ditolak dengan beragam alasan. Modus, Titik Balik, Titik Terang, Lacak, adalah beberapa nama yang kami tawarkan. Semuanya ditolak karena dinilai tidak ‘menjual’.

Suatu hari, ketika waktu sudah mau habis dan kami tidak boleh meninggalkan ruang rapat sebelum punya usulan nama lain, muncullah ide untuk memberi nama NSI, singkatan dari News Story Insight. Nama ini kami anggap tidak terlalu berbau kriminal dan sekilas mirip dengan sebuah program dari TV asing. Usulan kami ini akhirnya diterima. Kami pun lega dan mulai melakukan persiapan lain.

Ketika masalah nama sudah selesai, maka persiapan teknis segera dikerjakan. Kami tidak punya waktu banyak karena hari penayangan sudah ditetapkan, yakni awal November 2015. Kami harus memikirkan konsep studio dengan segala peralatannya, bumper, grafis, dan juga gaya naskah dan editing. Dari sinilah kemudian muncul tagline NSI yang tetap dipakai sampai hari ini; kenali modusnya, hindari aksinya.

Sesuai dengan namanya, NSI pada akhirnya tidak hanya mengangkat isu-isu kriminal. Hanya kasus kriminal kuat dan menjadi perhatian publik yang kami kupas. Beragam tema kami angkat di NSI. Mulai dari isu korupsi, pengggusaran, ekonomi, terorisme, atau lingkungan. Tema boleh beragam, tapi semuanya tetap memiliki satu nafas, yakni mengupas satu masalah dan mencari apa yang salah agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.

Selama satu tahun mengudara, rating tertinggi dicapai dalam episode “Jejak Sianida Mirna” yang tayang pada 1 Februari 2016. Rating episode ini mencapai 2,3 dengan share 10,1. Momen penayangan episode yang berkisah mengenai misteri kematian Wayan Mirna Salihin akibat diracun ini memang pas sekali. Satu hari sebelum tayang, polisi menangkap Jessica Kumala Wongso yang diduga sebagai pembunuh Mirna. Episode ini juga ada wawancara Aviani Malik dengan Jessica Wongo yang dilakukan tiga hari sebelum wanita muda itu ditahan.



Episode lain yang mendapatkan rating di atas satu adalah episode “Siasat Sesat Kurir Narkoba” (11 Januari 2016), “Pencari Keadilan (18 Januari 2016), “Sel-sel Teroris” (25 Januari 2016), “Akhir Kisah Kalijodo” (29 Februari 2016), “Mirna, Jessica, dan Kopi Sianida” (29 Agustus 2016), dan “Pemeras Berseragam” (31 Oktober 2016).

Capaian tertinggi NSI adalah ketika masuk nominasi Panasonic Gobel Award 2016 untuk kategori Program News Talkshow. NSI bersaing dengan sejumlah program sejenis yang sudah bertahun-tahun mengudara dan telah sangat terkenal di masyarakat. Saat itu, yang menjadi juaranya adalah program ILC. Walau NSI tidak menang, ini sudah menjadi sebuah kebanggaan bagi tim dan juga Metro TV. Sebuah prestasi untuk program yang belum berumur setahun.

Saya bangga telah ikut melahirkan NSI. Saya juga bangga karena selama setahun ini ikut terlibat dalam melahirkan episode demi episode setiap pekan.

Kini, saatnya untuk berganti peran dan cukup menjadi penonton NSI. Entah sampai kapan...
Selengkapnya...

Selasa, 08 November 2016

Jatah Suap Ketua Senator

Memperdagangkan pengaruh, jabatan, posisi, serta kekuasaan, sepertinya masih lazim dilakukan oleh mereka yang duduk di atas sana.

Kalau demi kepentingan masyarakat yang lebih luas, tentu tidak salah. Tapi, celakanya, yang terjadi adalah demi mengeruk keuntungan pribadi. Walau gaji dan tunjangan mereka sebenarnya sudah sangat besar.

Kasus suap Irman Gusman semestinya menjadi pelajaran bagi Anda-anda yang punya jabatan. Ancaman penjara selalu mengintai Anda, kalau terlena dengan godaan uang, berapapun angkanya.

(JATAH SUAP KETUA SENATOR, Realitas 8 November 2016)
Selengkapnya...

Senin, 07 November 2016

Mereka Pernah Tampil di NSI

Ada keasyikan tersendiri saat berburu narasumber untuk hadir di NSI, sebuah program di Metro TV yang kependekan dari News Story Insight. Kadang-kadang, narasumber yang sudah diputuskan dalam rapat, tidak bisa hadir karena sejumlah alasan.

Kalau ini terjadi, maka perburuan narasumber lain segera dilakukan. Kontak sani-sini untuk mendapatkan nomor telepon si narasumber tersebut. Kelihaian dalam melobi juga dibutuhkan agar si narasumber bersedia datang ke studio. Kalau sudah tiba di studio, tinggal berdiskusi dengan mereka, agar siap 'dicecar' beragam pertanyaan yang mendalam dari Aviani Malik.

Berikut ini adalah beberapa narasumber yang pernah hadir di NSI...



Kombes Pol Muhammad Iqbal dalam episode ‘Jejak Sianida Mirna’



Adrianus Meliala dan Kombes Pol Awi Setyono dalam episode ‘Di Luar Batas Nalar’



Tjahjo Kumolo dalam episode ‘Di Balik Eksodus Gafatar’



AKBP Roberto Pasaribu dalam episode ‘Sosmedmu Harimaumu’



Peri Farouk dan Arist Merdeka Sirait dalam episode ‘Monster Dunia Maya’



AKBP Herry Heryawan dalam episode ‘Data Kita Kemana-mana’



Kombes Pol Awi Setiyono dalam episode 'Mirna, Jessica, dan Kopi Sianida'



Anggi Aulia dalam episode “Sadis Dalam Rumah’

Selengkapnya...

Selasa, 01 November 2016

Membidik Dalang Pembunuh Munir


Penegakan hukum seyogyanya tidak dicampur aduk kepentingan politik dan kekuasaan.

Kita semua harus ingat, bahwa Indonesia berlandaskan hukum. Dan dasar negara Indonesia menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Pembunuhan terhadap aktivis hak asasi manusia Munir Thalib pada tanggal 7 September 2004, sejatinya segera diungkap tuntas, agar tidak lagi menjadi bola panas atau mungkin juga komoditas politik.

(MEMBIDIK DALANG PEMBUNUH MUNIR, Realitas 1 November 2016)

Sumber Foto: bacaanmalam.com
Selengkapnya...