Sabtu, 31 Desember 2016

Konsolidasi Jokowi di Pertengahan Jalan

Tahun pertama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah masa-masa sulit. Terjadi banyak upaya untuk menjegal dan mengakhiri kekuasaannya. Ini yang membuat beberapa kalangan mulai mempertanyakan kemampuan Jokowi untuk bermain politik. Sebuah keraguan yang telah dijawab Jokowi dengan semakin memperkuat duduk di puncak di pemerintahan.

Presiden Jokowi pelan-pelan terus menggalang kekuatan politik. Di tahun 2016, ia pun sukses mengumpulkan partai-partai yang sebelumnya beroposisi, untuk berbalik mendukungnya.

Hari Rabu, 27 Juli 2016, Presiden Joko Widodo mengumumkan reshuffle Kabinet Kerja jilid II. Pengumuman ini menarik untuk dicatat, karena sekaligus mengonfirmasi telah bergabungnya Partai Golkar dan PAN ke dalam pemerintahan.

Lebih dari setahun Jokowi dirongrong kanan-kiri oleh menteri-menteri yang senang berbicara di media dan saling bantah. Lewat reshuffle II ini, Jokowi pun mengakhiri kegaduhan ini dengan menyingkirkan beberapa menteri yang suka bikin gaduh. Melihat komposisi Kabinet Kerja pasca reshuffle jilid II ini, terasa sekali bagaimana Jokowi telah mampu melakukan konsolidasi politik di dua tahun pemerintahannya.

Yang paling terasa tentu saja di parlemen. Koalisi partai-partai pendukung pemerintah kini menjadi kekuatan mayoritas dengan menguasai sekitar 70 persen kursi. Sebanyak 30 persen lagi adalah 3 kekuatan partai tersisa, yakni Gerindra, PKS, dan Demokrat. Dengan komposisi seperti ini, tentu saja ada konsekwensi positif dan negatifnya. Jokowi tidak perlu risau lagi bakal mendapatkan tekanan dari parlemen seperti awal-awal pemerintahannya.

Walau Gerindra tidak masuk dalam barisan partai pendukung pemerintah, hubungan Jokowi dengan Gerinda bukannya tidak mesra. Sejarah mencatat, Prabowo yang menjadi rival Jokowi di Pilpres 2014, segera menemui Jokowi di Istana Bogor pada Januari 2015, atau sekitar tiga bulan setelah Jokowi menjadi presiden.

Bulan oktober 2016, giliran Jokowi yang bertamu ke kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, ketika jagat perpolitikan Indonesia sedang memanas, yang dipicu oleh suasana Pilkada DKI Jakarta. Pertemuan ini disebut sebagai diplomasi berkuda, karena kedua tokoh sempat berdiskusi sambil menunggangi dua kuda peliharaan prabowo.


Tanggal 17 November 2016, giliran Prabowo lagi yang menemui Jokowi. Di Istana Negara, Jokowi pun menjamu makan siang Prabowo dengan menu ikan bakar sambil berdiskusi mengenai masalah kebangsaan.

Sepertinya hanya Ketua Umum artai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang belum pernah bertemu empat mata dengan Jokowi. Ketika ramai-rama rencana aksi masa tanggal 4 November, SBY rupanya juga lebih memilih menyambangi Wakil Presiden Jusuf Kalla pada hari Selasa , 1 November 2016.

Publik pun menanti bagaimana hubungan Jokowi dan SBY selanjutnya pada tahun 2017. Karena tidak baik ada jarak di antara para pemimpin bangsa ini. Terlebih mereka adalah negarawan.


Dua tahun menjadi presiden, Jokowi semakin menunjukkan kematengannya dalam berpolitik. Ia punya banyak cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul, termasuk masalah yang entah bagaimana caranya, selalu dikaitkan dengan kursi presiden yang ia duduki.

Termasuk ketika mulai ramai-ramai kasus Ahok di penghujung 2016, yang sangat menyita perhatian seorang Jokowi. Pangkal persoalannya adalah ketika Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tersandung masalah dugaan penodaan agama. Sebuah permasalahan yang melebar ke mana-mana, termasuk urusan makar yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Kemampuan presiden jokowi untuk merangkul semua kelompok pun diuji di sini. Salah satu yang dilakukan Presiden Jokowi adalah, tiba-tiba saja rajin bersafari ke sejumlah markas pasukan elit TNI-Polri. Dalam kunjungannya ke markas tentara ini, Presiden Jokowi berkali-kali menyebut, sebagai panglima tertinggi TNI, ia ingin memastikan semua prajurit loyal kepada negara dan bangsa. Juga ingin memastikan apakah semua prajurit siap digerakkan kalau kondisi sedang darurat.



Tidak hanya mengunjungi para prajurit, Presiden Jokowi juga melakukan sejumlah pertemuan dengan berbagai organisasi keagaman dan para tokoh ulama. Mengenai persoalan hukum yang menyangkut gubernur DKI Jakarta, Presiden cukup lama terdiam sebelum menyebut nama Ahok.
Safari jokowi ke sejumlah markas tentara dan pertemuan dengan sejumlah tokoh agama ini, dilakukan setelah terjadinya aksi demonstrasi pada hari Jumat, 4 November 2016. Aksi ini dimotori oleh kelompok yang mendesak penegakan hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dituduh menodai agama Islam.

Malam harinya, Kerusuhan pecah di sekitar depan Istana Merdeka, ketika para peserta aksi 4 November sudah membubarkan diri.

Usai menggelar rapat pada malam itu juga, Presiden Jokowi yang tampil dengan mengenakan jaket bomber, menuding ada aktor politik yang menunggangi aksi damai 4 November.


Banyak yang berkomentar, Jokowi yang sekarang adalah Jokowi yang telah pintar berpolitik. Ia pandai merangkul lawan-lawan politiknya. Dan, hebatnya, jokowi hanya membutuhkan satu setengah tahun untuk mengusai parlemen.

Misalkan saja, ketika jokowi mengundang sejumlah ketua umum partai politik ke istana. Serangkaian pertemuan dengan para ketua umum partai ini dibaca publik sebagai bagian dari manuver jokowi untuk menurunkan tensi politik nasional yang sedang menghangat. Jokowi sepertinya sadar kalau orang-orang yang menggoreng kasus yang sedang menjerat Ahok, juga menyasar dirinya.

Terjadi dua kali aksi massa besar-besar di Ibu Kota terkait persoalan hukum yang menjerat Ahok. Setelah aksi tanggal 4 November 2016, lautan manusia kembali memadati Ibu Kota pada Jumat, 2 Desember 2016. Puncak dari aksi yang dikenal dengan sebutan aksi super damai 212 ini adalah sholat jumat.

Di luar dugaan, Presiden Jokowi pun ikut sholat jumat di monas. Presiden Jokowi juga berkesempatan naik ke panggung usai sholat jumat dan memberikan sambutan.

Kehadiran Jokowi di tengah masa aksi 2 Desember 2016 ini memang pas sekali dengan sifat Jokowi yang sangat sederhana dan tidak mau berjarak dengan rakyatnya. Jokowi juga tipe presiden yang tidak suka dengan pembuat gaduh dan pembuat hal-hal kontroversi di tengah masyarakat.


Jokowi adalah tipe pekerja, sesuai dengan nama kabinetnya, kabinet kerja. Ia sangat tegas dalam mengawal setiap pekerjaan yang dilaksakan para menterinya. Sepanjang tahun 2016, Jokowi sangat rajin blusukan sekadar untuk melihat perkembangan proyek yang sedang berjalan.

Walau baru dua tahun menjadi orang nomor satu di negeri ini, hasil karya seorang Jokowi tidak bisa dipandang sebelah mata. Kita lihat beberapa indakotor berikut ini; jumlah penduduk miskin indonesia terus mengalami penurunan, proses pengurusan perizinan yang bisa mencapai ratusan hari hingga sampai waktu tak terhingga dipercepat sampai 600 persen, pembangunan ribuan kilometer jalan baru di kawasan perbatasan dan terluar, dan ratusan proyek dikerjakan untuk mengurangi ketimpangan Jawa dan di luar Jawa.

Ini tadi hanya beberapa capaian prestasi Jokowi-JK selama 2 tahun memerintah.

Ada banyak capaian lain, termasuk program tax amnesty atau pengampunan pajak yang sampai periode pertama saja, hasilnya tercatat tertinggi di seluruh dunia.

Ada saja kejadian menarik dalam kunjungan Presiden Jokowi ke daerah. Misalkan saja, ketika Jokowi dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh seorang santri saat menghadiri perayaan Isra Miraj di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Mei 2016.


Di balik sikap sederhana seorang Joko Widodo, ia adalah presiden yang sangat tegas dan serius dalam bekerja. Salah satunya mengenai pemberantasan pungutan liar atau pungli yang menjadi isu besar di tahun 2016.

Di sisi lain, Presiden Jokowi rupanya juga seorang pemaaf, tidak pendendam, dan juga tidak suka mengungkit-ungkit kesalahan orang lain. Ignasius Jonan yang pernah diberhentikan karena diangap keras kepala, kembali diangkat menjadi menteri, menteri ESDM tepatnya.

Oya, Pak Jokowi sepertinya sangat gemar mengenakan sarung di waktu santainya. Berikut beberapa buktinya sepanjang tahun 2016.



Selengkapnya...

Selasa, 27 Desember 2016

Mengerek Gerobak Anggaran


Sepintar-pintah tupai melompat akhirnya jatuh juga. Sekiranya pesan ini jangan lupa diingat oleh pemerintah dan wakil rakyat ketika selalu ada celah untuk memanfaatkan kesempatan dengan berbagai cara. Semoga saja hubungan harmonis antara pemerintah dan DPRD di DKI Jakarta tidak diikuti dengan kompromi politik lain. Karena membangun komunikasi politik dengan memuluskan anggaran agar lolos, bisa bisa malah menjadi masalah di masa depan.

(MENGEREK GEROBAK ANGGARAN, Realitas 27 Desember 2016)

Selengkapnya...

Rabu, 07 Desember 2016

Sori, Saya Terpaksa Unfollow Kamu!

Beberapa waktu yang lampau, setiap akhir tahun saya selalu merindukan tentang tiga hal. Ketiganya adalah musim durian, musim rambutan, dan musim duku.

Menikmati buah duku atau rambutan sambil menanti hujan reda adalah suasana yang sangat menyenangkan ketika itu. Atau, waktunya untuk menyantap durian ketika berkunjung ke rumah saudara yang merayakan Tahun Baru.

Itu dulu. Dulu sekali. Karena situasi kini sudah berbeda.

Di penghujung akhir tahun ini, bukan lagi tiga hal tadi yang tersaji. Yang ramai bermunculan saat ini adalah left dari grup Whatsapp, unfriend di Facebook, atau unfollow di Twitter. Ya, ketiga inilah yang bermunculan pada saat ini. Mungkin Anda juga melakukannya. Atau, jangan-jangan justru Anda yang dihapus dari pertemanan sejumlah kawan karib Anda gara-gara perilaku Anda yang tidak berkenan bagi mereka.

Seorang kawan tiba-tiba saja memilih keluar dari grup Whatsapp setelah terjadi perdebatan yang tak berujung ketika ada sebuah postingan berbau politik dikirim seorang teman. Yang mengirim artikel menjelaskan hak setiap anggota untuk memposting apapun kalau dianggap punya manfaat untuk orang lain. Menurut dia, kalau ada anggota yang merasa tidak mendapatkan manfaat dari postingan itu, maka tinggal mengabaikan saja. Sikap seperti ini segera memancing reaksi keras dari banyak anggota. Dan, ujung-ujungnya si kawan tadi memilih left dari grup.

Di grup Whatsapp lain, ada seorang teman yang kembali keluar walau sudah sebelumnya sudah ditarik lagi untuk masuk ke dalam grup. Alasannya sama saja, tidak tertarik lagi dengan percakapan di dalam grup ketika banyak materinya mengenai agama yang dibumbui dengan isu politik.

”Kalau postingan soal agama sih ga apa-apa. Ada manfaatnya buat gua. Tapi kalau agama yang dicampuri urusan politik, gua gak tertarik. Males baca ceramahan melulu. Cukup gua nikmati postingan-postingan ceramahan soal politik di Facebook,” begitu kata kawan tersebut ketika saya tanya mengapa ia keluar lagi dari grup.

Hal yang sama juga terjadi di media sosial Facebook dan Twitter. Sejumlah teman mengaku sudah melenyapkan teman-teman mereka dari daftar pertemanan karena sering membuat status yang provokatif atau suka membagikan tautan berita dari situs abal-abal. “Niatnya mau cari hiburan malah mengundang amarah,” kata seorang teman.

Ya, begitulah yang terjadi belakangan ini. Dari belasan grup Whatsapp yang saya ikuti, mayoritas grup saat ini memang sering membahas isu-isu berbau agama yang dibumbui politik praktis. Tiba-tiba saja banyak yang menjadi pakar politik atau pakar agama. Ironisnya, sering tidak tercipta diskusi yang sehat ketika yang lebih banyak terjadi adalah ‘saya yang benar dan kamu selalu salah’.

Kalau sudah begini, jangan heran kalau banyak yang memilih untuk left. “Untuk menjaga pikiran tetap sehat,” kata seorang teman.
Selengkapnya...