Rabu, 07 Desember 2016

Sori, Saya Terpaksa Unfollow Kamu!

Beberapa waktu yang lampau, setiap akhir tahun saya selalu merindukan tentang tiga hal. Ketiganya adalah musim durian, musim rambutan, dan musim duku.

Menikmati buah duku atau rambutan sambil menanti hujan reda adalah suasana yang sangat menyenangkan ketika itu. Atau, waktunya untuk menyantap durian ketika berkunjung ke rumah saudara yang merayakan Tahun Baru.

Itu dulu. Dulu sekali. Karena situasi kini sudah berbeda.

Di penghujung akhir tahun ini, bukan lagi tiga hal tadi yang tersaji. Yang ramai bermunculan saat ini adalah left dari grup Whatsapp, unfriend di Facebook, atau unfollow di Twitter. Ya, ketiga inilah yang bermunculan pada saat ini. Mungkin Anda juga melakukannya. Atau, jangan-jangan justru Anda yang dihapus dari pertemanan sejumlah kawan karib Anda gara-gara perilaku Anda yang tidak berkenan bagi mereka.

Seorang kawan tiba-tiba saja memilih keluar dari grup Whatsapp setelah terjadi perdebatan yang tak berujung ketika ada sebuah postingan berbau politik dikirim seorang teman. Yang mengirim artikel menjelaskan hak setiap anggota untuk memposting apapun kalau dianggap punya manfaat untuk orang lain. Menurut dia, kalau ada anggota yang merasa tidak mendapatkan manfaat dari postingan itu, maka tinggal mengabaikan saja. Sikap seperti ini segera memancing reaksi keras dari banyak anggota. Dan, ujung-ujungnya si kawan tadi memilih left dari grup.

Di grup Whatsapp lain, ada seorang teman yang kembali keluar walau sudah sebelumnya sudah ditarik lagi untuk masuk ke dalam grup. Alasannya sama saja, tidak tertarik lagi dengan percakapan di dalam grup ketika banyak materinya mengenai agama yang dibumbui dengan isu politik.

”Kalau postingan soal agama sih ga apa-apa. Ada manfaatnya buat gua. Tapi kalau agama yang dicampuri urusan politik, gua gak tertarik. Males baca ceramahan melulu. Cukup gua nikmati postingan-postingan ceramahan soal politik di Facebook,” begitu kata kawan tersebut ketika saya tanya mengapa ia keluar lagi dari grup.

Hal yang sama juga terjadi di media sosial Facebook dan Twitter. Sejumlah teman mengaku sudah melenyapkan teman-teman mereka dari daftar pertemanan karena sering membuat status yang provokatif atau suka membagikan tautan berita dari situs abal-abal. “Niatnya mau cari hiburan malah mengundang amarah,” kata seorang teman.

Ya, begitulah yang terjadi belakangan ini. Dari belasan grup Whatsapp yang saya ikuti, mayoritas grup saat ini memang sering membahas isu-isu berbau agama yang dibumbui politik praktis. Tiba-tiba saja banyak yang menjadi pakar politik atau pakar agama. Ironisnya, sering tidak tercipta diskusi yang sehat ketika yang lebih banyak terjadi adalah ‘saya yang benar dan kamu selalu salah’.

Kalau sudah begini, jangan heran kalau banyak yang memilih untuk left. “Untuk menjaga pikiran tetap sehat,” kata seorang teman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar