Kamis, 23 Februari 2017

Tak Sabar Menanti MRT Jakarta

Kalau berjalan lancar, tepat dua tahun lagi, Jakarta akan memiliki kereta api bawah tanah. Pembangunan MRT, kepanjangan dari Mass Rapid Transit, terus dikebut agar bisa selesai sesuai jadwal, Maret 2019. Tidak ada penjelasan mengapa target selesai di bulan ini. Dugaan saya, karena pada April 2019 ada momen Pemilu.

Untuk kesekian kalinya, Presiden Jokowi melihat langsung proses pembangunan MRT pada hari ini, 23 Februari 2017. Dalam peninjauan kali ini, Jokowi mengumumkan kalau semua terowongan bawa tanah tahap pertama MRT telah tersambung. "Seluruh terowongan yang dibangun untuk MRT sudah tersambung. Hari ini sudah tersambung," ujar Jokowi di lokasi proyek, 300 meter di bawah Jalan Jenderal Sudirman, seperti ditulis Kompas.com.

Pembangunan proyek MRT Jakarta mulai dikerjakan sejak 10 Oktober 2013, ketika Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta. Pada tahap pertama, koridor yang dibangun adalah Lebak Bulus-Bunderan HI sepanjang 15,7 KM. Hingga hari ini, pembangunannya telah kelar 65%. Kurang 35% agar tuntas pada Maret 2019. Tapi, yang terpenting, pengeboran terowongan yang membentang dari Senayan sampai Bunderan HI sudah tuntas. Tinggal membangun sarana dan prasarana. Begitu juta jalur melayang dari Lebak Bulus sampai Senayang yang progresnya juga baik. Tiang-tiang penyangga telah berdiri kokoh.

Begitu tahap pertama ini beroperasi, rencananya akan dilanjutkan dengan tahap kedua yang membentang dari Bunderan HI hingga Kampung Bandan di Jakarta Utara, sepanjang 8,1 KM. Tahap kedua ini ditargetkan selesai dibangun pada 2020. Tapi, tampaknya bakal molor karena hanya selisih satu tahun dari beroperasinya jalur Lebak Bulus-Bunderan HI.


Tidak murah untuk membangun MRT di Jakarta ini. Biaya pembangunan tahap pertama saja diperkirakan bakal menghabiskan anggaran sekitar Rp 15 Triliun rupiah. Besaran biaya yang sama juga bakal habis untuk pembangunan tahap kedua. Sebagian besar anggarannya merupakan pinjaman lunak dari Jepang. Ini yang membuat MRT Jakarta bakal menggunakan teknologi dari negeri matahari terbit itu.

Walau tidak murah, tapi nantinya MRT Jakarta ini akan menjadi kebanggaan Indonesia. Setelah puluhan tahun hanya wacana, mimpi Indonesia untuk memiliki kereta bawah tanah pun terwujud. Indonesia memang jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain yang sudah sangat lama memiliki MRT sebagai solusi transportasi publik. Tetapi, rasa-rasanya tidak masalah terlambat, daripada tidak pernah terwujud.

Berikut ini adalah sejumlah foto mengenai pembangunan MRT Jakarta yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Mohon maaf saya tidak mencantumkan sumbernya karena terlalu banyak. Saya sendiri bahkan sudah lupa darimana saya memperolehnya.



Selengkapnya...

Rabu, 22 Februari 2017

Akurasi adalah Mahkota Berita

Belasan tahun lalu ketika masih berkarya di media cetak, saya pernah membuat satu berita mengenai peristiwa kebakaran yang menimpa sebuah rumah. Berita ini saya tulis sepanjang 30 baris dan naik di halaman metropolitan di koran tempat saya bekerja.

Oya, kami memang menggunakan jumlah baris dalam menulis berita. Kalau dalam satu baris ada sekitar 15 kata, maka 30 baris menjadi sekitar 450 kata. Sebagai perbandingan, rata-rata untuk berita utama di tiap halaman koran sekitar 70-80 baris atau sekitar 1.050 sampai 1.200 kata.

Redaktur saya saat itu menganggap berita kebakaran satu rumah ini layak turun (istilah di media cetak untuk berita yang dimuat) karena ada satu orang yang meninggal dunia. Berita ini dianggap punya nilai berita cukup besar karena korban yang meninggal itu adalah seorang nenek yang berusia lebih dari 60 tahun. Tanpa ada korban jiwa ini, berita kebakaran ini pasti tidak layak muncul. Kerugian pun hanya belasan juta rupiah. Kalaupun masih layak muncul, mungkin hanya sebagai berita singkat dengan panjang sekitar 10 baris.

Berita kebakaran ini sangat saya ingat sampai hari ini, karena memberikan sebuah pelajaran sangat berharga untuk saya sebagai seorang jurnalis. Saat itu, berita kebakaran ini saya peroleh dari laporan kepolisian. Saya pun mencatat seluruh data yang ada di dalam laporan itu. Di laporan itu tertulis kalau ada satu korban jiwa dalam musibah kebakaran itu.

Hanya laporan kepolisian itu yang menjadi bekal membuat beritanya. Saya tidak sempat mendatangi lokasi kebakaran karena lokasi yang cukup jauh. Sedangkan saya harus segera berangkat ke kantor karena sudah mendekati deadline. Maklum, saat itu wifi belum lahir. Warnet juga masih barang langka. Kami diwajibkan untuk setiap hari ke kantor untuk menulis berita-berita yang kami peroleh.

Keesokan harinya, saya mendapatkan kabar kalau sebenarnya tidak ada korban meninggal dunia dalam musibah kebakaran tersebut. Nenek yang saya sebutkan meninggal dunia di dalam berita, hanya mengalami luka dan masih dirawat di rumah sakit. Kata ‘korban jiwa’ yang tertulis di laporan kepolisian yang saya contek sebenarnya bukan untuk menyebut korban meninggal dunia, namun untuk menyebut korban luka.

Kesalahan data ini menjadi tamparan untuk saya. Bahwa sangat penting untuk melakukan cek dan ricek terhadap setiap informasi yang kita dapat. Bahwa wajib untuk meminta konfirmasi atas setiap data yang kita peroleh. Yang lebih penting lagi, sebisa mungkin datanglah ke lokasi kejadian untuk mendapatkan banyak cerita, sekaligus mengecek kebenaran dari data yang sudah kita pegang.

“Akurasi adalah mahkota dari sebuah berita. Jangan pernah salah dalam akurasi,” kata Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun, dalam rapat redaksi pekan ini.

Sebuah kata-kata yang kembali mengingatkan saya kepada kisah nenek yang menjadi korban kebakaran yang pernah saya tulis belasan tahun lalu, di awal-awal menjadi jurnalis.

Selengkapnya...

Senin, 20 Februari 2017

Belanja Iklan yang Sungguh Fantastis

Promosi masih dipercaya sebagai jalan termulus untuk mengerek penjualan. Tak heran kalau biaya iklan selalu meningkat tiap tahun. Apalagi ditambah dengan persaingan dunia bisnis yang semakin ketat. Iklan kemudian menjadi andalan utama perusahaan untuk memenangkan persaingan dan mempertahankan posisi pasar. Bisa jadi, indikator utama kredibilitas perusahaan juga terletak pada seberapa besar dana yang dialokasikan untuk iklan.

Saya pun penasaran dengan berapa sebenarnya uang yang dihabiskan perusahan untuk biaya iklan dan promosi produk-produk mereka. Iseng-iseng saya pun merisetnya. Ternyata, angkanya luar biasa besar. Bisa mencapai ratusan hingga triliuan rupiah untuk satu tahun.

Berikut beberapa fakta yang saya dapat:

Berdasarkan data Nielsen, belanja iklan mi instan pada 2015 mencapai Rp 3,2 triliun. Indofood merupakan pengiklan terbesar yang mencapai Rp 2,1 triliun. Sementara di 2014 total belanja iklan industri mi instan mencapai Rp 2,8 triliun dan di 2013 mencapai Rp 2 triliun. (Sumber: Swa.co.id)

PT Sigi Kaca Pariwara, pengembang produk Adstensity, telah menghitung belanja iklan di sejumlah stasiun televisi. Hasilnya, terdapat 10 perusahaan yang royal mengucurkan dana hingga miliar rupiah untuk mempromosikan produknya terhitung dari 1 Januari hingga 30 November 2015. Ini dia peringkatnya:
1. Produk rokok dari PT Djarum Indonesia dengan belanja iklan Rp 1 triliun.
2. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk dengan belanjak iklan Rp 902,9 miliar.
3. Pepsodent dengan belanja iklan Rp 804,5 miliar.
4. Dettol dengan belanja iklan Rp 761,8 miliar.
5. Lifebuoy dengan belanja iklan Rp 730,5 miliar.
6. Produk susu dari Frisian Flag dengan belanja iklan Rp 664 miliar.
7. Indomie dengan nilai Rp 593,4 miliar.
8. Mie Sedaap dari Wings Food dengan nilai Rp 583,4 miliar.
9. Tokopedia dengan belanja iklan Rp 559,9 miliar
10. Traveloka dengan nilai Rp 553,2 miliar.
(sumber: liputan6.com)

Pada kuartal pertama 2016, belanja iklan bertumbuh 24% menjadi Rp 31,5 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, belanja iklan baru mencapai Rp 25,4 triliun. Iklan rokok masih mendominasi belanja iklan nasional sebesar Rp 1,9 triliun. Dunhill dan Djarum Super Mild adalah merek yang paling agresif dalam belanja iklan pada kuartal tersebut. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menambah belanja iklan dan promosi menjadi Rp 512,43 miliar pada kuartal pertama 2016. Beban iklan dan promosi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) di kuartal pertama pun naik 22,93% menjadi Rp 375,01 miliar. (Sumber: Kontan.co.id)

Data Nielsen Advertising Information Services menunjukkan pertarungan teratas terjadi di kategori mie instant, yakni antara brand Indomie dan Mie Sedaap. Keduanya menempati dua teratas pada daftar Top 10 Pembelanja Iklan Tertinggi di tahun 2015. Jika Indomie menempati posisi pertama dengan belanja iklan Rp 971,2 miliar, maka Mie Sedaap menempati posisi kedua dengan belanja iklan Rp 733,7 miliar. Pertarungan sengit kedua terjadi pada industtri e-Commerce. Di industri itu, ada dua brand yang sengit membetot perhatian konsumen Indonesia lewat iklan TV dan cetak. Keduanya adalah Traveloka.com dan Tokopedia. Jika Traveloka.com menempati posisi ketiga terbesar dengan belanja iklan Rp 697,3 miliar. (Sumber: mix.co.id)

Siapa saja Top 5 brand yang memutuskan untuk meningkatkan belanja iklan di televisi secara fantastis di sepanjang semester pertama tahun 2015?
1. Traveloka yang membelanjakan Rp 376,3 miliar.
2. Pantene Total Demage Care dengan belanja iklan Rp 199,9 miliar.
3. Wall’s Cornetto dengan belanja iklan Rp 250,9 miliar.
4. Djarum Super Mild yang telah membelanjakan iklan TV Rp 238,6 miliar.
5. The Pucuk Harum dengan belanja iklan TV sebesar Rp 190,2 miliar.
6. Clear anti ketombe dengan belanja iklan TV Rp 188,1 miliar.
(Sumber: mix.co.id)
Selengkapnya...

Jumat, 10 Februari 2017

Duo Captain with Soetikno Soedarjo & Emirsyah Satar

Sekitar September 2016 sempat muncul berita yang membuat heboh dari KPK. Heboh karena mengandung teka-teki yang mungkin hanya Tuhan dan KPK yang tahu jawabannya.

Saat itu, Ketua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan adanya seorang direktur utama dari sebuah BUMN yang diduga menerima suap di Singapura. Hanya ini yang disampaikan Agus ketika itu. Selebihnya tidak ada informasi yang bisa didapat. Agus mengunci mulutnya rapat-rapat ketika pers mempertanyakan siapa si pejabat itu, apa BUMN yang dia pimpin, bagaimana modus pemberian suap, siapa pemberi suap, atau dalam kaitan apa suap diberikan.

Rumor pun berkembang dan berubah menjadi bola liar yang melambung ke segala arah. Teki-teki siapa si direktur utama menjadi topik pembicaraan beberapa hari kemudian. Ada yang mencoba memancing KPK agar segera mengungkap siapa dia dengan menyebut pasar bisa dilanda kepanikan kalau terlalu lama dibiarkan tanpa kejelasan.

Berhari-hari spekulasi dan main tebak-tebakan pun menjamur. Bahkan ada anggota DPR yang mengaku sudah tahu siapa direktur yang sedang dibidik KPK itu. "Informasi yang saya dengar dari salah satu kementerian yang berkaitan dengan ESDM, tapi bukan Pertamina. Yang kaitannya dengan gas atau apalah," kata si anggota DPR seperti dikutip situs batamnews.co.id.

Teka-teki yang diutarakan Ketua KPK ini pun akhirnya terjawab sekitar tiga bulan kemudian.

Hari Kamis, 19 Januari 2017, KPK mengumumkan status tersangka terhadap Emirsyah Satar. Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia itu diduga menerima suap terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia. Nilai suap diperkirakan lebih dari Rp 20 miliar. Suap diduga diterima Emir semasa ia menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia pada 2005-2014.
Sumber Foto:Viva.co.id

Suap diduga sampai ke Emirsyah melalui seorang perantara yang bernama Soetikno Soedarjo. KPK menyebut Soetikno adalah pemilik Connaught International Pte Ltd. Menurut Kompas.com, di perusahaan yang bermarkas di Singapura ini, Soetikno selaku beneficial owner, atau pemilik sebenarnya dari penghasilan berupa bunga, deviden, dan royalti yang bersumber dari badan usaha tersebut. KPK pun sudah menjadikan Soetikno sebagai tersangka bersama Emirsyah.

"Connaught International ini perusahaan yang memiliki hubungan dengan Airbus dan Rolls-Royce, yakni sebagai konsultan penjualan pesawat dan mesin pesawat di Indonesia," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah, seperti yang ditulis kompas.com.

Sumber Foto: Forbesindonesia.com

Di Indonesia, Soetikno Soedarjo lebih dikenal publik sebagai CEO sekaligus salah satu pendiri PT Mugi Rekso Abadi, atau biasa disebut MRA Group, yang merupakan perusahaan induk yang membawahi beberapa unit usaha. Sebagian besar unit usaha MRA Group bergerak di bidang hiburan dan gaya hidup. Situs Wikipedia mengungkap, PT Mugi Rekso Abadi didirikan pada tahun 1993 oleh Soetikno Soedarjo bersama dua rekannya, Adiguna Sutowo dan Dian M Soedardjo.

MRA Group memiliki tujuh divisi, yakni media cetak, media penyiaran, retail and lifestyle, makanan dan minuman, otomotif, hotel dan properti. Beberapa merek yang ada dalam genggaman MRA Group adalah Cosmopolitan FM, Hard Rock FM, I-Radio, Trax FM, Brava FM, MNI, Ghiboo.com, Q Research Indonesia, dan IP Entertainment. Untuk media cetak ada Majalah Cosmopolitan, Harper's Bazaar, Bravacasa, Cosmogirl, Amica, Good Housekeeping, Bali & Beyond, Spice!, Trax, FHM, Mother & Baby ,Autocar, Hair Ideas, Esquire, Fitness, Men's Fitness , dan HELLO!.

Soetikno dan PT Mugi Rekso Abadi juga pemilik dan pemegang distribusi untuk Indonesia dari sejumlah merek dunia, seperti Bulgari, Jewelry, Paris Hilton, Bang & Olufsen, Vision Home Entertainment, Hard Rock Cafe Jakarta, Hard Rock Cafe Bali, Häagen Dazs, The Cloud, Zoom Bar & Lounge, Harley Davidson, Ferrari, Maserati, Abarth, dan Bulgari Hotel & Resort.
Sumber Foto: mabuamedia.com

Saya pun melakukan riset kecil-kecilan mengenai hubungan Emirsyah Satar dengan Soetikno Soedarjo. Dari hasil satu-dua jam menelusuri begitu banyak informasi di Google, saya mendapatkan sejumlah fakta tentang kedekatan dua tokoh ini.

Keduanya pernah hadir di acara Garuda Indonesia berupa peluncuran layanan "Mobile Ticketing Counter" yang berlangsung di Jakarta, 17 Desember 2013. Kehadiran Soetikno di acara ini bukan semata-mata karena ia berteman baik dengan Emirsyah. Peluncuran bis pelayanan tiket berjalan oleh Garuda Indonesia ini menggandeng sejumlah radio di dalam jaringan MRA Group sebagai media publikasi. Tidak heran kalau logo radio milik Soetikno pun menempel di badan bis.

Nah, jelas sudah kalau Soetikno hadir di acara ini sebagai petinggi dari MRA Group, bukan karena diundang sebagai rekan bisnis dari Emirsyah ataupun Garuda Indonesia. Tak heran kalau kemudian pengusaha ini berdiri di tengah ketika berlangsung acara gunting pita di acara ini.

Sumber foto: Beritasatu.com

Keduanya juga pernah tampil bersama di acara ulang tahun Brava Radio FM, yang juga berada dalam jaringan MRA Group, pada Maret 2015. Keduanya muncul dalam program bernama ‘Duo Captain with Soetikno Soedarjo & Emirsyah Satar’. Mereka mengambil alih alih siaran Good Day Jakarta selama satu jam. Sejumlah foto yang di ada di situs Brava Radio memperlihatkan bagaimana suasana ketika Soetikno Soedarjo dan Emirsyah Satar sedang berperan sebagai penyiar.

Sumber Foto: Bravaradio.com

Saya juga menemukan foto Soetikno Soedarjo dan Emirsyah Satar yang berada di antara enam orang lainnya dalam sebuah acara. Dari spanduk yang ada di belakang mereka, terlihat momen ini berlangsung pada acara penandatanganan kerja sama yang antara PT Garuda Indonesia, PT Citra Langgeng Otomotif (Ferrari Indonesia) dan Ferrari Owners Club Indonesia (FOCI). Sebuah situs menulis acara ini berlangsung pada 10 Mei 2012 di Denpasar, Bali. Perlu diketahui, distribusi mobil Ferrari untuk Indonesia juga dipegang oleh MRA Group, yang dipimpin oleh Soetikno Soedarjo.
Sumber Foto: mobil.sportku.com

Semasa Emirsyah Satar menjabat Direktur Utama Garuda Indonesia, maskapai kebanggan Indonesia ini juga pernah bekerja sama dengan Ferrari untuk menggelar 'Joy Flight' (terbang tamasya) pada hari Minggu, 18 Desember 2011. Saat itu, ada sekitar 45 anak kurang beruntung dari sebuah yayasan yang dibawa terbang ke wilayah udara sekitar Banten selama satu jam dengan pesawat Garuda Indonesia.

Pada hari yang sama, puluhan mobil Ferrari yang pemiliknya tergabung dalam Ferrari Owners Club Indonesia (FOCI), juga menggelar konvoi menuju markas Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Yang istimewa, Emirsyah Satar saat itu menjempur para peserta konvoi dari sebuah kawasan bisnis di Jakarta dan kemudian bersama-sama menuju markas Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta.

Sumber Foto: http://prima-rizqa.blogspot.co.id

Inilah sedikit riset yang saya dapatkan ketika penasaran mengenai apa hubungan Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo, selain keduanya sama-sama menjadi tersangka dalam kasus dugaan suap dari pabrik mesin pesawat Rolls-Royce kepada Garuda Indonesia.
Selengkapnya...

Rabu, 08 Februari 2017

Morotai: A Memoir of War

Morotai adalah sebuah pulau seluas 1.800 meter persegi di sebelah utara Provinsi Maluku Utara. Pulau ini sangat strategis karena berada di salah satu titik terluar Indonesia. Morotai terletak di pinggir Samudera Pasifik dan cukup dekat dengan sejumlah negara tetangga di kawasan Pasifik.

Sang Pencipta memberikan Morotai sejumlah karunia yang menjadi kebanggaan. Pulau yang berpenduduk sekitar 55.000 jiwa ini dikelilingi beberapa pantai dengan pemandangan memukau. Sejumlah pulau kecil nan indah juga mengelilingi Morotai. Belum lagi lautnya dihiasi keindahan bawah laut yang menyimpan misteri, yakni sisa-sisa Perang Dunia II. Keindahan Morotai dengan segudang sejarah dari Perang Dunia II ini membuatnya dijuluki sebagai “Mutiara di Bibir Pasifik”.

Pulau Morotai adalah bagian dari sejarah Perang Dunia II. Letak Morotai yang sangat stategis, pernah dimanfaatkan Jepang sebagai markas tentaranya untuk menyerang Amerika Serikat dan sekutunya di sejumlah negara di sekitar Morotai. Belakangan, tentara Jepang malah terusir ketika Amerika Serikat berhasil merebut Morotai, dan gantian menjadikan pulau ini sebagai basis untuk menyerang negeri matahari terbit yang berkuasa di Filipina dan Indonesia sekitar 1944-1945.

Ketika Jepang menyerah, Amerika Serikat pun meninggalkan Morotai setelah membakar seluruh bangunan dan sarana yang ada. Entah apa alasan mereka. Mungkin untuk menutup jejak mereka. Yang pasti, aksi ini membuat nyaris tidak ada sisa-sisa kejayaan Amerika Serikat bisa dijumpai di Morotai pada hari ini, kecuali bangkai-bangkai alat perang yang berserakan di darat maupun di dasar laut.

Beberapa prajurit yang pernah bertugas di pulau ini hanya membuat buku. Salah satu buku yang ditulis seorang prajurit diberi judul “Morotai: A Memoir of War”.


Pulau Morotai memiliki banyak sisi menarik yang bisa dinikmati. Pantai yang landai dengan pasir putih dan airnya yang jernih, menggoda banyak orang untuk berenang. Pulau Kecil di sekitar Morotai bagai surga mungil yang begitu memesona. Lautnya juga kaya dengan terumbu karang yang masih terawat. Dan, yang membedakannya dengan kawasan lain yang juga memiliki spot menyelam yang indah adalah, adanya sejumlah bangkai peralatan perang di dasar laut Morotai.

Bawah laut Morotai bagai sebuah museum tentang Perang Dunia II. Banyak bangkai peralatan perang di dasar lautnya di kedalaman 20 sampai 30 meter. Mulai dari jeep, truk, hingga pesawat tempur. Jumlahnya tak terhitung dan berserakan di areal yang cukup luas. Seluruhnya telah berselimut karang dan menjadi rumah biota laut. Ini yang membuat ada julukan populer dari para penyelam dunia untuk Morotai, yakni Dive Site World War II Wrecks.


Dulunya, untuk mencapai salah satu pulau indah yang ada di Maluku Utara ini, Anda harus menempuhnya dalam waktu sekitar 6 jam dari Kota Ternate, Ibu Kota Maluku Utara. Kemudian disambung selama satu jam naik speedboat dari Ternate menuju Sidangoli, lalu disambung lagi 3 jam ke Tobelo menggunakan kendaraan darat, dan kemudian naik speedboat selama 1,5 jam lagi untuk sampai ke Pulau Morotai. Cukup melelahkan. Setidaknya bagi saya ketika berkesempatan untuk pertama kalinya ke Morotai yang kini telah menjadi kabupaten mandiri, dan berpisah dari Kabupaten Halmahera Utara.

Kini semakin mudah menuju Morotai karena telah ada maskapai yang melayani penerbangan Jakarta-Morotai. Pemerintah sudah membangun bandara dan infrastruktur lainnya di pulau ini dalam dua tahun terakhir. Dan, untuk pertama kalinya setelah Perang Dunia II, Morotai didarati pesawat Wings Air ATR-72 berkapasitas 70 kursi pada 18 Maret 2016. Ke depannya, pemerintah mau memperpanjang landas pacu menjadi 3.000 meter agar bisa didarati pesawat berbadan besar.


Pemerintahan Jokowi juga memasukkan Morotai sebagai satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas yang akan kembangkan. Kesepuluh destinasi ini akan dijadikan sebagai Bali-nya Indonesia yang baru demi mencapai target 20 juta wisatawan pada 2019. Bagi yang belum tahu, 10 destinasi pariwisata prioritas ini adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Pulau Morotai di Maluku Utara, Kepulauan Seribu di Jakarta, Tanjung Lesung di Banten, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Jokowi rupanya tidak main-main dengan memasukkan Morotai sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan di Indonesia. Sang presiden pun terbang ke pulau ini pada April 2016 untuk melihat langsung kondisi Morotai. Mulai dari segala fasilitas yang yang sudah dibangun, seperti listrik, meseum Perang Dunia II, hingga infrakstruktur bandara yang akan dikembangkan menjadi bandara berkelas internasional, dicek langsung oleh Presiden Jokowi.

Kalau tidak salah, Jokowi adalah presiden pertama negeri ini yang berkunjung ke Morotai. Sebuah kunjungan yang membuat bangga warga Morotai karena mereka semakin mendapatkan perhatian dari negeri ini.

Di bawah adalah beberapa foto hasil kunjungan saya ke Morotai yang telah saya posting di akun Instagram saya:


Selengkapnya...