Rabu, 22 Februari 2017

Akurasi adalah Mahkota Berita

Belasan tahun lalu ketika masih berkarya di media cetak, saya pernah membuat satu berita mengenai peristiwa kebakaran yang menimpa sebuah rumah. Berita ini saya tulis sepanjang 30 baris dan naik di halaman metropolitan di koran tempat saya bekerja.

Oya, kami memang menggunakan jumlah baris dalam menulis berita. Kalau dalam satu baris ada sekitar 15 kata, maka 30 baris menjadi sekitar 450 kata. Sebagai perbandingan, rata-rata untuk berita utama di tiap halaman koran sekitar 70-80 baris atau sekitar 1.050 sampai 1.200 kata.

Redaktur saya saat itu menganggap berita kebakaran satu rumah ini layak turun (istilah di media cetak untuk berita yang dimuat) karena ada satu orang yang meninggal dunia. Berita ini dianggap punya nilai berita cukup besar karena korban yang meninggal itu adalah seorang nenek yang berusia lebih dari 60 tahun. Tanpa ada korban jiwa ini, berita kebakaran ini pasti tidak layak muncul. Kerugian pun hanya belasan juta rupiah. Kalaupun masih layak muncul, mungkin hanya sebagai berita singkat dengan panjang sekitar 10 baris.

Berita kebakaran ini sangat saya ingat sampai hari ini, karena memberikan sebuah pelajaran sangat berharga untuk saya sebagai seorang jurnalis. Saat itu, berita kebakaran ini saya peroleh dari laporan kepolisian. Saya pun mencatat seluruh data yang ada di dalam laporan itu. Di laporan itu tertulis kalau ada satu korban jiwa dalam musibah kebakaran itu.

Hanya laporan kepolisian itu yang menjadi bekal membuat beritanya. Saya tidak sempat mendatangi lokasi kebakaran karena lokasi yang cukup jauh. Sedangkan saya harus segera berangkat ke kantor karena sudah mendekati deadline. Maklum, saat itu wifi belum lahir. Warnet juga masih barang langka. Kami diwajibkan untuk setiap hari ke kantor untuk menulis berita-berita yang kami peroleh.

Keesokan harinya, saya mendapatkan kabar kalau sebenarnya tidak ada korban meninggal dunia dalam musibah kebakaran tersebut. Nenek yang saya sebutkan meninggal dunia di dalam berita, hanya mengalami luka dan masih dirawat di rumah sakit. Kata ‘korban jiwa’ yang tertulis di laporan kepolisian yang saya contek sebenarnya bukan untuk menyebut korban meninggal dunia, namun untuk menyebut korban luka.

Kesalahan data ini menjadi tamparan untuk saya. Bahwa sangat penting untuk melakukan cek dan ricek terhadap setiap informasi yang kita dapat. Bahwa wajib untuk meminta konfirmasi atas setiap data yang kita peroleh. Yang lebih penting lagi, sebisa mungkin datanglah ke lokasi kejadian untuk mendapatkan banyak cerita, sekaligus mengecek kebenaran dari data yang sudah kita pegang.

“Akurasi adalah mahkota dari sebuah berita. Jangan pernah salah dalam akurasi,” kata Pemimpin Redaksi Metro TV Don Bosco Selamun, dalam rapat redaksi pekan ini.

Sebuah kata-kata yang kembali mengingatkan saya kepada kisah nenek yang menjadi korban kebakaran yang pernah saya tulis belasan tahun lalu, di awal-awal menjadi jurnalis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar