Rabu, 08 Februari 2017

Morotai: A Memoir of War

Morotai adalah sebuah pulau seluas 1.800 meter persegi di sebelah utara Provinsi Maluku Utara. Pulau ini sangat strategis karena berada di salah satu titik terluar Indonesia. Morotai terletak di pinggir Samudera Pasifik dan cukup dekat dengan sejumlah negara tetangga di kawasan Pasifik.

Sang Pencipta memberikan Morotai sejumlah karunia yang menjadi kebanggaan. Pulau yang berpenduduk sekitar 55.000 jiwa ini dikelilingi beberapa pantai dengan pemandangan memukau. Sejumlah pulau kecil nan indah juga mengelilingi Morotai. Belum lagi lautnya dihiasi keindahan bawah laut yang menyimpan misteri, yakni sisa-sisa Perang Dunia II. Keindahan Morotai dengan segudang sejarah dari Perang Dunia II ini membuatnya dijuluki sebagai “Mutiara di Bibir Pasifik”.

Pulau Morotai adalah bagian dari sejarah Perang Dunia II. Letak Morotai yang sangat stategis, pernah dimanfaatkan Jepang sebagai markas tentaranya untuk menyerang Amerika Serikat dan sekutunya di sejumlah negara di sekitar Morotai. Belakangan, tentara Jepang malah terusir ketika Amerika Serikat berhasil merebut Morotai, dan gantian menjadikan pulau ini sebagai basis untuk menyerang negeri matahari terbit yang berkuasa di Filipina dan Indonesia sekitar 1944-1945.

Ketika Jepang menyerah, Amerika Serikat pun meninggalkan Morotai setelah membakar seluruh bangunan dan sarana yang ada. Entah apa alasan mereka. Mungkin untuk menutup jejak mereka. Yang pasti, aksi ini membuat nyaris tidak ada sisa-sisa kejayaan Amerika Serikat bisa dijumpai di Morotai pada hari ini, kecuali bangkai-bangkai alat perang yang berserakan di darat maupun di dasar laut.

Beberapa prajurit yang pernah bertugas di pulau ini hanya membuat buku. Salah satu buku yang ditulis seorang prajurit diberi judul “Morotai: A Memoir of War”.


Pulau Morotai memiliki banyak sisi menarik yang bisa dinikmati. Pantai yang landai dengan pasir putih dan airnya yang jernih, menggoda banyak orang untuk berenang. Pulau Kecil di sekitar Morotai bagai surga mungil yang begitu memesona. Lautnya juga kaya dengan terumbu karang yang masih terawat. Dan, yang membedakannya dengan kawasan lain yang juga memiliki spot menyelam yang indah adalah, adanya sejumlah bangkai peralatan perang di dasar laut Morotai.

Bawah laut Morotai bagai sebuah museum tentang Perang Dunia II. Banyak bangkai peralatan perang di dasar lautnya di kedalaman 20 sampai 30 meter. Mulai dari jeep, truk, hingga pesawat tempur. Jumlahnya tak terhitung dan berserakan di areal yang cukup luas. Seluruhnya telah berselimut karang dan menjadi rumah biota laut. Ini yang membuat ada julukan populer dari para penyelam dunia untuk Morotai, yakni Dive Site World War II Wrecks.


Dulunya, untuk mencapai salah satu pulau indah yang ada di Maluku Utara ini, Anda harus menempuhnya dalam waktu sekitar 6 jam dari Kota Ternate, Ibu Kota Maluku Utara. Kemudian disambung selama satu jam naik speedboat dari Ternate menuju Sidangoli, lalu disambung lagi 3 jam ke Tobelo menggunakan kendaraan darat, dan kemudian naik speedboat selama 1,5 jam lagi untuk sampai ke Pulau Morotai. Cukup melelahkan. Setidaknya bagi saya ketika berkesempatan untuk pertama kalinya ke Morotai yang kini telah menjadi kabupaten mandiri, dan berpisah dari Kabupaten Halmahera Utara.

Kini semakin mudah menuju Morotai karena telah ada maskapai yang melayani penerbangan Jakarta-Morotai. Pemerintah sudah membangun bandara dan infrastruktur lainnya di pulau ini dalam dua tahun terakhir. Dan, untuk pertama kalinya setelah Perang Dunia II, Morotai didarati pesawat Wings Air ATR-72 berkapasitas 70 kursi pada 18 Maret 2016. Ke depannya, pemerintah mau memperpanjang landas pacu menjadi 3.000 meter agar bisa didarati pesawat berbadan besar.


Pemerintahan Jokowi juga memasukkan Morotai sebagai satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas yang akan kembangkan. Kesepuluh destinasi ini akan dijadikan sebagai Bali-nya Indonesia yang baru demi mencapai target 20 juta wisatawan pada 2019. Bagi yang belum tahu, 10 destinasi pariwisata prioritas ini adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang di Bangka Belitung, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Pulau Morotai di Maluku Utara, Kepulauan Seribu di Jakarta, Tanjung Lesung di Banten, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Jokowi rupanya tidak main-main dengan memasukkan Morotai sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan di Indonesia. Sang presiden pun terbang ke pulau ini pada April 2016 untuk melihat langsung kondisi Morotai. Mulai dari segala fasilitas yang yang sudah dibangun, seperti listrik, meseum Perang Dunia II, hingga infrakstruktur bandara yang akan dikembangkan menjadi bandara berkelas internasional, dicek langsung oleh Presiden Jokowi.

Kalau tidak salah, Jokowi adalah presiden pertama negeri ini yang berkunjung ke Morotai. Sebuah kunjungan yang membuat bangga warga Morotai karena mereka semakin mendapatkan perhatian dari negeri ini.

Di bawah adalah beberapa foto hasil kunjungan saya ke Morotai yang telah saya posting di akun Instagram saya:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar