Rabu, 15 Maret 2017

Mamak Berkabar tentang Berat Badan

Keluarga saya memiliki sebuah grup di Whatsapp. Grup ini menjadi tempat bagi kami untuk saling berbagi cerita dan kabar.

Tadi malam grup kami ini sangat aktif. Topik utama obrolan adalah mengenai berat badan. Mamak yang tinggal di kampung mengaku baru saja menimbang badannya. Ia mengaku beratnya kini 83 kg. “Karo tadi timbang (badan). Kok turunnya cuma 1 kilo ya? Padahal perasaan badan sudah lebih enteng,” kata mamak. Karo adalah sebutan bagi nenek di daerah asal saya.

Sekitar tiga minggu lalu, berat badan mamak sekitar 84 kilogram. Sebuah angka yang menurut kami sangat tidak baik. Dengan tubuh yang seberat itu, mamak mengaku sudah sangat sulit untuk bekerja di kebun. Ia selalu cepat merasa lelah. Kakinya juga sering pegal-pegal. Dan, yang lebih membuat kami was-was adalah belakangan ini mamak merasa persendian kakinya sering nyeri seperti gejala asam urat atau rematik.

Melihat beragam keluhan yang dirasakan mamak pada saat itu, kami pun menyarankan agar ia menurunkan berat badannya. Kami memberikan saran kalau berat badan mamak setidaknya ada di angka 60an kg saja. Berat badan dengan angka segini setidaknya tidak menyulitkan untuk bergerak. Lemak-lemak yang memenuhi tubuh dan bikin badan lemas dan tak bergairah juga akan berkurang.

“Bagaimana caranya? Karo pun sudah tidak tahan lagi. Karo tidak kuat lagi ke ladang,” kata mamak saat itu.

Kami pun menyarankan agar mamak memperbaiki pola makannya. Kami memintanya untuk menghindari sejumlah makanan yang tidak baik untuk tubuh. Terlebih untuk mamak yang usianya sudah hampir 60 tahun. Gorengan dan makanan berminyak lain, daging merah, jeroan, durian, adalah sejumlah makanan yang kami sarankan untuk dihindari. Kami juga meminta agar mengurangi konsumsi nasi agar tidak bertambah gemuk.

Kami lega karena mamak mau menuruti semua masukan tersebut. Rupanya, mamak begitu bersemangat agar kembali bugar dan bisa kembali aktif ke kebun.


Sumber foto: pedulisehat.info

Untuk melengkapi perbaikan pola makan mamak, saya dan istri lalu mengirim produk nutrisi dari sebuah merek terkenal sebagai pengganti sarapan dan makan malam. Nutrisi yang kami kirim ini sudah sekitar 37 tahun teruji di dunia. Sudah masuk ke Indonesia sejak 1998. Ada begitu banyak orang yang sudah merasakan manfaatnya.

Banyak yang menyebut nutrisi dalam bentuk kaleng seberat 550 gram ini sebagai makanan pelangsing. Tidak sedikit juga yang menyebutnya obat diet. Padahal, tidak demikian faktanya.

Nutrisi yang dikonsumsi dengan cara diblender atau di-shake dengan air ini adalah makanan pengganti sarapan. Cukup satu gelas sekali konsumsi. Kalorinya hanya sekitar 200 kal. Lebih dari cukup untuk kebutuhan sampai siang hari. Kalori yang rendah namun kaya beragam gizi ini, membuat banyak orang kemudian bertambang langsing setelah mengonsumsinya. Padahal, alasannya sederhana saja. Seluruh kalorinya habis dibakar tubuh. Tidak ada tersisa di tubuh dan kemudian menjadi lemak-lemak yang bikin makin gendut.

“Nutrisi ini bukan obat diet. Ini makanan untuk sel-sel tubuh kita. Tubuh kita yang rusak diperbaiki. Setelah itu, baru pelan-pelan tubuh kita akan mencapai berat badan ideal. Makanya sehatnya dapat, eh, bonusnya berat badan menjadi ideal. Ini Karo sudah bagus. Belum ada satu bulan minum, sudah turun satu kilo,” kata istri di dalam grup WA.

Mamak rupanya baru sadar kalau berat badannya yang hanya turun satu kilogram tidak berarti apa-apa dibanding sehat yang sudah didapat. Ia sadar, kalau pola makan yang sudah hampir satu bulan berganti ini, telah membuat hidupnya semakin lebih baik. “Karo lupa sehatnya. Mikirin gemuknya (saja). Padahal tidur sudah enak dan jalan ke ladang juga sudah kuat,” kata mamak.

Sehat-sehat terus kita ya, Mak....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar