Jumat, 24 Maret 2017

Mempertanyakan Zona Nyaman


Meme di atas saya temukan di dinding salah satu teman di Facebook. Sebuah tulisan yang tiba-tiba sangat mengusik.

Mungkin ada banyak persepsi yang bermunculan pada masing-masing pribadi tatkala membaca kalimat yang terpampang di meme tersebut. Atau, barangkali tak bermakna apapun juga. Tapi, pendapat terakhir ini bisa jadi tidak benar. Buktinya, ketika saya mem-posting meme tersebut di akun path saya, ada banyak teman yang memberikan gambar hati. Satu orang bahkan nge-repath lagi gambar tersebut.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, atau justru saya yang terlalu baper alias bawa perasaan, meme tersebut hanya satu dari beberapa kejadian yang saya alami dalam sepekan terakhir dan tampak saling bertautan.

Yang pertama, ketika saya ada janji untuk bertemu dengan seorang sahabat. Awalnya, kami berjanji untuk bertemu sambil makan siang di dekat kantor di sekitar Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Namun, rupanya ia sedang ada acara di tempat usahanya pada hari yang sudah disepakati, sehingga ia menawarkan saya untuk datang saja ke tempat usahanya itu. Tawaran ini pun saya terima. Saya pun mampir ke kantor sekaligus tempat usahanya.

Sahabat yang saya jumpai ini adalah teman SMA yang secara rutin kami tetap saling berkontakan. Saya merasakan kecocokan berteman dengannya. Saya kagum kepadanya karena punya wawasan yang luas. Cara berpikirnya sering tak biasa bagi kebanyakan orang. Saya juga mengenal beberapa ilmu dan pengetahuan jenis ‘langka’ darinya. Sejumlah nama tokoh-tokoh yang memberi pengaruh ke dunia namun tak familiar bagi orang awam juga saya kenal darinya. Sejumlah buku ‘berat’ yang saya koleksi di rumah merupakan hasil ‘virus’ yang disebarkan sahabat ini.

Berkaitan dengan meme yang saya sebut di awal cerita, sahabat ini dulunya adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan manufaktur yang jadi pemasok ke perusahan otomotif terbesar di negeri ini. Namun, sekitar sepuluh tahun lalu, kalau tidak salah, ia berhenti bekerja dan memulai membangun usaha sendiri. Saya cukup tahu bagaimana ia jatuh bangun membesarkan usahanya yang bergerak di bidang pelatihan dalam segala hal mengenai internet ini.

Filosofi untuk berani membangun usaha sendiri juga berkali-kali ia coba untuk tularkan ke saya. Beberapa kali ia pernah nyeletuk ke saya dengan kata-kata yang maknanya mirip dengan kalimat di meme di atas. “Bagaimana bisnisnya sekarang, Bro?” celetukan lain darinya pada setiap kami bertemu. Kata-kata yang sangat mengejek karena ia pasti tahu kalau saya masih tercatat sebagai karyawan.

Rupanya, saya datang ke tempat usaha sahabat ini ketika sedang ada semacam acara berbagi pengalaman dari seorang pakar kepada para murid di tempat pelatihannya tersebut. Pemberi materi pada hari itu adalah Arto Soebiantoro, seorang pakar brand ternama di negeri ini. Ia adalah putra dari Kris Biantoro, seniman yang pasti sangat familiar bagi mereka yang lahir sebelum era 1980-an.

Arto Soebiantoro sedang memberi materi soal brand

Akhirnya, saya ikut menyimak materi tentang seluk-beluk brand yang dipaparkan Arto di salah satu ruang kelas. Ia berbagi ilmu bagaimana membuat merek alias brand yang bernilai tinggi dengan menggunakan materi paparan yang sangat kreatif dan keren. Sebuah materi yang sangat menarik buat saya.

“Brand sangat penting. Orang tidak lagi membeli karena suka dengan product. Tapi, orang membeli persepsi yang dimiliki brand tersebut. Brand menjadi investasi di masa depan,” kata Arto yang dulu lama bekerja di biro iklan di luar negeri dan di Indonesia. Sekarang ia membuat perusahaan sendiri dan juga terlibat dalam sejumlah proyek berbagi ilmu mengenai seluk-beluk brand.

Nah, saya kembali teringat dengan kalimat di meme di awal cerita ini begitu menelusuri siapa Arto Soebiantoro ini. Saya merasakan kalau ia sedang menjalankan apa yang tertulis di meme tersebut. Mewujudkan impian sendiri setelah sekian lama bekerja untuk orang lain. “Kapan-kapan kita ngobrol ya, Mas,” kata Arto kepada saya ketika berpisah di siang hari itu, usai sesi berfoto bersama para peserta.

Arto Soebiantoro usai memberi materi

Kemudian, sepanjang pekan ini saya juga berkali-kali ‘dipanasi’ oleh seseorang yang mungkin baru dua bulan ini saya kenal. Ya, memang belum lama saya mengenalnya, tapi saya sudah cukup tahu banyak mengenai siapa ‘teman baru’ saya ini. Saya tahu bisnis yang ia jalankan, tahu gambaran penghasilan yang ia peroleh, proses jatuh-bangun dalam berbisnis, hingga saya juga sudah tahu siapa dan bagaimana keluarganya juga.

Ketika tulisan ini saya buat, ‘teman baru’ saya tersebut sedang berada di Amerika Serikat bersama keluarganya. Ia berada di negeri Donald Trump tersebut sekitar setengah bulan dan menjelajahi sejumlah kota. Selain untuk liburan, ia pergi ke Amerika Serikat untuk menghadiri acara pemberian bonus dari perusahaan yang produknya ia ikut pasarkan di Indonesia.

Hampir setiap hari ia mengirim foto-foto kegiatannya di Amerika Serikat via WhatsApp kepada saya. Foto-foto yang pastinya membuat ngiri siapa saja. Saya tahu, ia bukan bermaksud untuk pamer kepada saya. Yang saya tangkap, ia sedang berusaha mengirim sejumlah subliminal messages kalau saya juga bisa seperti dia.

Dari rangkaian keping-keping peristiwa yang saya alami ini, timbul sebuah renungan yang mempertanyakan kembali arti zona nyaman. Jangan-jangan, saya, Anda, atau kita semua sedang menumpang di atas gerbong zona nyaman yang selama ini kita anggap zona nyaman, namun sebenarnya hanya semu belaka. Karena zona nyaman yang sesungguhnya ada di gerbong sebelahnya, atau bahkan mungkin di rangkaian gerbong lain.

Saya merenung sambil menyerumput teh pemberi energi yang rutin saya bawa ke kantor hampir dua bulan terakhir ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar