Kamis, 30 Maret 2017

Pulang Kampung Melewati Jalan Tol Jakarta-Medan

Saya masih ingat, ketika keluarga saya berangkat ke Jakarta dari Medan sekitar 1984 dengan menumpang bus bermerek Liberty, harus menghabiskan waktu seminggu di jalan untuk bisa tiba di Jakarta. Bus terpaksa berhari-hari tertahan di tengah perjalanan karena kondisi jalan yang terputus. Pasokan makanan pun terpaksa dibeli dari warga sekitar dengan harga yang tentu tidak murah. Sangat menyedihkan kalau mengingat kembali kenangan tersebut.

Transportasi bus memang menjadi andalah bagi saya dan keluarga untuk bepergian dari Jakarta ke Medan atau sebaliknya pada masa-masa ketika pesawat masih menjadi barang sangat mewah bagi kebanyakan orang Indonesia. Memang ada juga kapal laut yang melayani Jakarta-Belawan yang berangkat dua minggu sekali. Tapi, bus saat itu tetap menjadi favorit bagi sebagian warga Sumatera Utara untuk bepergian Jakarta-Medan atau sebaliknya.

Karena itu, sejumlah merek bus pun sangat populer di kalangan masyarakat Sumatera Utara. Sebut saja bus Liberty, Medan Jaya, ALS, Sampagul, Makmur, PMH, dan sejumlah merek bus lain. Masing-masing merek punya pelanggan setia sendiri. Umumnya, pelanggan ini berdasarkan asal daerah si pemilik bus. Ada beberapa merek bus yang kini tinggal kenangan. Beberapa merek lagi masih ada tapi tidak lagi melayani jalur Medan-Jakarta karena penumpang yang kian sepi.

Dalam kondisi normal, Jakarta-Medan yang membentang sekitar 2.000 kilometer (sekitar 2x Jakarta-Surabaya) bisa ditempuh dalam waktu tiga hari dua malam. Pernah ada bus yang berani berpromosi mampu menempuh Jakarta-Medan dalam waktu 48 jam atau dua hari dua malam untuk memikat penumpang. Namun, promosi ini sepertinya sulit terpenuhi ketika musim jalan rusak sedang terjadi.

Biasanya, bus berangkat dari Jakarta atau Medan pada pagi hari dan tiba sore atau malam tiga hari kemudian. Misalkan Anda berangkat dari Jakarta pada Senin pagi, maka Anda paling cepat akan tiba di Kota Medan pada Rabu sore. Silahkan Anda bayangkan bagaimana rasanya duduk selama itu di dalam bus antar kota antar provinsi. Jangan bayangkan bus tersebut seperti bus hari ini yang supermewah, full AC, ada toilet, ada TV LED dengan suara speaker yang begitu jernih, dan tentu saja punya klakson telolet.

Kadang-kadang, muncul juga keinginan untuk bernostalgia untuk kembali naik bus ke Medan dari Jakarta. Merasakan kembali pengalaman masa kecil yang dulu sering saya jalani. Kalau tidak salah, saya terakhir naik bus dari Medan ke Jakarta pada 2001, ketika saya ingin menjajal bagaimana rasanya naik bus AC dengan bangku 1-2.

Beberapa kali, saya dan keluarga juga pernah mudik ke Medan dengan mengendarai mobil pribadi. Kami pernah melintasi jalur tengah lintas Sumatera yang melewati Bukittinggi terus ke Danau Toba dan ke Medan. Lain waktu, kami melewati lintas Timur yang melalui Palembang, Jambi, Pekanbaru, dan terus ke Medan. Kata orang, lintas timur ini lebih pendek daripada jalur tengah dan barat. Tapi, jalur manapun yang dilalui, jalan yang rusak tetap saja harus kami nikmati.

Segala cerita masa lalu tersebut mungkin tidak akan pernah lagi dialami. Yang kini saya bayangkan adalah, saya mudik ke kampung halaman di Sumatera Utara melalui jalan tol. Ya, saya bisa terus melaju di jalan bebas hambatan sejak dari Jakarta hingga tiba di Medan.

Sepertinya, impian tersebut bukan lagi sebuah mimpi di siang bolong. Lihat saja bagaimana pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera terus dikebut oleh pemerintah. Apalagi, kalau pembangunan jembatan di Selat Sunda terus diwujudkan, maka Jakarta-Medan benar-benar 100% tembus lewat jalan tol. Sungguh sebuah impian, bukan?

Saya sangat menikmati berita-berita yang nyaris muncul setiap hari di media cetak maupun portal berita online mengenai pembangunan jalan tol di seluruh pelosok negeri. Yang paling menarik perhatian saya tentu saja pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera.

Saat ini, pembangunan jalan tol trans Sumatera sedang dicicil dikerjakan. Yang sedang berjalan adalah ruas jalan tol Bakauheni di Lampung Selatan hingga Terbanggibesar di Lampung Tengah sepanjang 140 kilometer. Ruas tol ini diperkirakan sudah bisa dilalui pada musim mudik Lebaran 2017, walaupun baru sebagian kecil saja.

Seperti dikutip Detik, Jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar merupakan bagian dari rangkaian jalan tol Trans Sumatera sepanjang 2.048 km yang menghubungkan Bakauheni hingga Aceh. Sepanjang 666,5 km yang terdiri dari 8 ruas jalan tol bakal menjadi Prioritas selama periode lima tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Artinya, pembangunan delapan ruas tersebut akan dikebut agar selesai paling lambat pada 2019.

Jalan Tol lain di Pulau Sumatera yang sedang dikebut agar bisa cepat selesai adalah ruas Medan-Binjai sepanjang 17 kilometer. Jalan tol ini akan memangkas waktu tempuh dari Medan-Binjai yang biasanya bisa mencapai satu jam lebih, menjadi tak sampai 30 menit. Setelah ruas Medan-Binjai beroperasi, ruas tol ini akan diteruskan sampai ke perbatasan Aceh.

Ruas lain yang sedang dikerjakan adalah Jalan Tol Palembang-Indralaya sepanjang 22 kilometer, ruas Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 kilometer, dan ruas Kualanamu-Tebing Tinggi di Sumatera Utara sepanjang 60 kilometer. Masalah anggaran tidak lagi menjadi masalah. Sedangkan pembebasan lahan juga tidak terlalu sulit dibanding pembangunan ruas tol baru di Pulau Jawa.

Pemerintah juga berencana untuk memulai pembangunan jalan tol ruas Pekanbaru-Padang mulai 2017. Kepastian ini muncul setelah ada kepastian kucuran bantuan dari Asian Infrastructure Invesment Bank (AIIB) sebesar 400 juta US Dollar atau setara Rp 5 triliun. Proyek jalan tol penghubung Sumatera Barat dengan Riau yang memiliki panjang 240 kilometer itu, akan dikerjakan PT Hutama Karya. Kalau tidak tertunda lagi, pembangunan jalan tol ini akan selesai pada 2024, atau sekitar tujuh tahun lagi.

Ini yang lebih menarik lagi buat saya. Untuk mendongkrak dunia pariwisata di Danau Toba, pemerintah telah memutuskan untuk mempercepat pembangunan jalan tol ruas Medan-Parapat. Pemerintah pun sudah menugaskan BUMN konstruksi PT Hutama Karya untuk mengerjakan ruas tol sepanjang 143,25 km tersebut. Kalau jalan tol ini sudah selesai dibangun, mka akan memangkas waktu perjalanan dari Medan ke Danau Toba yang sekarang bisa memakan waktu 6-7 jam menjadi 2 jam saja.

"Kalau dengan adanya jalan tol, hitungan kami dari Medan ke Danau Toba itu hanya 2 jam saja. Karena jarak dari Medan ke Tebing Tinggi 40 km, dari Tebing Tinggi ke Parapat sekitar 90 km, jadi total 130 km. Kalau kecepatan di jalan tol ya 2 jam," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Herry Trisaputra Zuna, kepada detikFinance.

Wah, rasa-rasanya tak sabar lagi menanti jalan tol Bakauheni-Aceh selesai dibangun. Pulang kampung ke Medan pun sepertinya akan lebih asyik membawa kendaraan sendiri ketika jalan tol tersebut sudah selesai. Mudik sambil menikmati tempat-tempat indah di sudut-sudut Pulau Sumatera yang indah.

Mari kita menanti...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar