Senin, 20 Maret 2017

Rasakan Sensasi Celana Kedodoran

“Yah, kok celana dalamnya kelihatan terus?” kata si Abang ketika saya beberapa kali bolak-balik berjalan di dekatnya, di ruang nonton TV di rumah.

“Iya nih, Bang. Celana Ayah jadi kebesaran semua sekarang,” kata saya sambil melempar tawa kepada si Abang.

Celetukan anak sulung di hari Minggu pagi itu membuat saya teringat dengan ungkapan di sebuah laman Facebook. “Rasakan Sensasi Celana Kedodoran!” Begitu bunyi ungkapannya.

Ungkapan tersebut benar-benar saya alami sekarang ini. Hampir semua celana yang saya miliki saat ini sudah terasa longgar. Sebanyak satu-dua celana bahkan melorot kalau tidak ditahan ikat pinggang. Celakanya lagi, lubang terakhir di ikat pinggang yang biasa saya kenakan pun sudah melebihi lingkaran pinggang. Ikat pinggang pun tinggal sebagai aksesoris di celana saja.

Kalau celana yang kedodorannya sudah tak mampu tertahan, maka saya terpaksa memakai ikat pinggang cadangan yang jenisnya bisa ‘menancap’ di mana saja. Tak perlu menancap di jejeran lubang seperti di ikat pinggang utama yang rutin saya kenakan.

Ini semua gara-gara pola makan saya yang berubah sejak awal Februari 2017, ketika saya tidak lagi makan nasi untuk sarapan. Saya lupa tanggal persisnya mulai kapan. Yang saya ingat, istri menyuguhkan saya berupa sarapan shake rasa coklat. Saya berpikir itu hanya semacam susu rasa coklat. Karena itu, awal-awalnya, saya tetap sarapan nasi seperti biasa usai meminum shake rasa coklat tersebut.

Beberapa hari kemudian, nafsu untuk makan nasi malang hilang. Saya menjadi tidak selera lagi menyentuh menu sarapan yang masih disediakan istri karena rasa kenyang usai meminum shake.

“Shake ini adalah nutrisi pengganti sarapan, Yah. Ini bukan susu. Ini shake yang berisi nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Memberi rasa kenyang yang cukup sampai siang hari. Satu gelas shake ini kalorinya hanya sekitar 200. Sangat cukup buat tubuh kita. Makanya, Ayah tidak lapar lagi,” kata istri mengajari saya.

Menu sarapan yang telah berganti dengan shake yang diproduksi oleh sebuah perusahaan besar asal Amerika Serikat itu, terus saya konsumsi sampai hari ini.

Kini, bukan hanya shake-nya yang saya konsumsi di pagi hari. Ada juga minuman semacam teh yang rasanya nikmat sekali, plus minuman dari lidah buaya yang katanya untuk membersihkan usus agar nutrisi semakin mudah diserap tubuh. Kenyangnya sungguh luar biasa begitu selesai menghabiskan seluruhnya.


Ini dia menu sarapan yang lezat itu. Ada shake untuk nutrisi pengganti sarapan, teh untuk energi, dan satu sloki minuman dari lidah buaya untuk membersihkan pencernaan.

Dampak yang paling terlihat ya soal celana kedodoran tersebut. Rupanya, berat tubuh saya telah turun dari hampir 75 kg menjadi 70 kg setelah sekitar satu bulan mengganti menu sarapan tersebut. Hebatnya lagi, pemandangan perut buncit pun semakin berkurang.

Awalnya, saya juga tidak percaya berat tubuh saya bisa hampir 5 kg susut dalam waktu, yang menurut saya, sangat pendek ini. Hanya satu bulan! Padahal, saya tak pernah ada niat menurunkan berat badan. Apalagi ikut program diet.

“Nutrisi ini bukan pelangsing tubuh, Yah. Bukan juga obat diet. Ini nutrisi untuk tubuh kita. Untuk kesehatan kita. Sehatnya dapat, eh...bonusnya berat badan yang turun,” tambah istri yang kian pandai saja menjelaskan produk yang telah rutin kami konsumsi tersebut.

Istri saya pun telah semakin langsing karena rutin mengkonsumsi shake yang sama sejak Januari 2017. Kini berat badannya sekitar 55 kg dari sekitar 62 kg pada awal 2017.

Sumber Foto: masbroo dan koleksi pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar